Kapitalis Memanen Tetapi Tidak Pernah Menabur Kembali – Hati Nuraninya Kemana?

Kapitalis Memanen Tetapi Tidak Pernah Menabur Kembali

Di negeri ini terlalu banyak kapitalis sehingga repot jadinya mengurusi keliaran mereka masing-masing. Ingatlah bahwa dengan sumber daya yang mereka miliki maka dapat melakukan apa saja yang diinginkan hatinya bahkan sekalipun itu melampaui batas-batas kemanusiaan. Positifnya adalah, justru disinilah Tuhan membiarkan orang-orang yang jahat memiliki posisi tinggi di masyarakat sehingga ketika mereka jatuh kelak maka akan menjadi kesaksian bagi semua orang yang melihatnya. Istilahnya, kegagalan mereka akan menjadi dupa yang harus untuk menyadarkan manusia bahwa “masih ada Tuhan”.

Uang negara jelas semuanya ditujukan untuk rakyat bukan untuk kapitalis tertentu sebab Indonesia menganut kedaulatan rakyat bukan kedaulatan pemilik modal. Kita adalah negara yang menjunjung tinggi sistem ini sejak dari awal pembentukannya. Tidak ada satu orangpun kapitalis yang dicatat dalam buku sejarah yang mempelopori terbentuknya NKRI. Melainkan semua daya upaya yang ada diberikan secara sukarela menurut kesanggupan masing-masing. Sebab ada semboyan yang mengatakan bahwa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, bersama kita maju namun saat cerai-berai justru jadi santapan orang asing.

Tanpa dukungan dari seluruh rakyat tidak ada yang namanya kapitalis. Hanya karena mereka memiliki otak yang encer bukan berarti tidak butuh dengan partisipasi warga. Karena mereka pandai-pandai maka bisa memanen dengan bebasnya di negeri ini. Padahal semua yang mereka gunakan asalnya dari bumi Indonesia yang seharusnya diberdayakan untuk kepentingan seluruh masyarakat.  Dalam keserakahan mereka membangun pundi-pundi rupiah bagi diri sendiri tanpa peduli dengan nasib orang banyak. Padahal itu uang rakyat dan NKRI menjunjung tinggi kedaulatan rakyat.

Jika diumpakan maka dapat dikatakan bahwa kapitalis adalah lintah yang memanen untuk dirinya sendiri, layaknya kolonialisme tempo dulu. Dimana mereka sudah melakukannya berulang-ulang kali hingga membuatnya menjadi kaya raya. Padahal, semakin besar kekayaan maka semakin besar pula kekhawatiran seseorang. Oleh karena itulah setiap malam mereka tidak dapat tidur dengan tenang karena selama ini sudah menyedot secara berlebihan yang bukan haknya. Coba bayangkan jikalau mereka menabur kembali apa yang telah mereka kumpulkan dari kantong rakyat sendiri niscaya hidupnya akan tenang dan makin beruntung.

Begitulah pemerintah di negeri kami yang katanya “rakyat adalah raja dan kamilah pelayan mereka”. Kenyataan dilapangan justru berbeda sebab yang terjadi adalah rakyatlah yang melayani kebutuhan kaum kapitalis. Mereka menyedot semua kekayaan negara untuk diri sendiri. Coba kalau kekayaan itu dibagi rata kepada semua pekerja alhasil tidak ada yang namanya kemiskinan dan pengangguranpun minim.

Sudah saatnya kedaulatan rakyat kembali di tegakkan, sudah saatnya ekonomi kerakyatan diberdayakan. Jangan sampai ekonomi hanya berpusat pada bagian tertentu saja sedangkan bagian lainnya dikorbankan sampai dibiarkan melarat dan miskin. Jika memang kedaulatan di tangan rakyat maka sudah seharusnya pembangunan kesejahteraan disama-ratakan untuk seluruh warga.

Pemilik modal adalah orang-orang cerdas dan sangat gesit memanfaatkan pergerakan ekonomi. Tapi tolong jangan juga lupa diri, sebab sekalipun dengan akal budi yang tinggi itu mustahil anda dapat semakmur itu jika bukan karena hasil gotong-royong oleh masyarakat luas. Artinya kesuksesan anda tidak berdiri sendiri, anda telah mengambil dari warga maka sudah sepatutnya mengembalikannya sebagian untuk mengetasi berbagai permasalahan yang ada di negeri ini. Tolong hindari sikap serakah.

Ada baiknya para kapitalis ini diajak bekerja sama dengan pemerintah. Jika memang tidak mau diajak kerja sama untuk kembali menabur di negeri ini maka lebih baik mereka di blacklist saja sehingga kemanapun mereka tertuju tidak diterima lagi oleh segenap masyarakat. Pemilik modal perlu memiliki hati nurani agar tidak memikirkan keuntungan saja sebab kita berdiri di atas negara yang menjunjung tinggi kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Hasil panen yang berlebihan alangkah baiknya jika disumbangkan kembali untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Apa yang telah dituai harus ditabur kembali agar tidak kualat diakhirat kelak.

Salam kesetaraan

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s