Kapitalis Adalah Kolonialisme Modern – Pemerintah Adalah Penjajah Jenis Baru

Kapitalis adalah kolonialisme modern - pemerintah adalah penjajah terbesar di negaranya

Dulu banget, daerah tempat kami tinggal barulah 1 kabupaten yaitu Kabupaten Nias. Akan tetapi setelah melalui pemekaran menjadi beberapa kabupaten dan kota menjadi lima wilayah administrasi yang berbeda-beda. Pada masa-masa pemekaran inilah salah seorang kakek kami berkata (mudah-mudahan bahasanya tidak salah) “itugu ato zimaga tola hogoda ba Nias andre“. Artinya, semakin banyak penjajah di Nias ini. Kala itu kami menanggapinya dengan santai sambil tersenyum dan berkata: “baga na’i na berkembang andro ba Kake, itugu maju ita naato“.

Lama sudah berlalu tetapi pernyataan yang sederhana itu masih belum kami mengerti hingga akhir-akhir ini mulai menyadari bahwa ucapan itu “ada benarnya juga“. Pemerintah adalah kapitalis pemanen terbesar di negara ini. Bisa dikatakan bahwa hampir semua sumber daya yang ada dikuasai oleh pemerintah bahkan setiap barang dan jasa yang kita belipun telah dipajak oleh mereka.

Pada dasarnya negara telah menetapkan pajak yang pantas kepada semua warga masyarakat. Akan tetapi pertanyaannya sekarang, kemanakah semua pajak itu? Belum lagi pajak saat membuka usaha, menjual produk sendiri, membeli ini dan itu, saat mendirikan bangunan, saat menggunakan kendaraan sebagai sarana transportasi dan lain sebagainya. Sebenarnya, secara diam-diam dan terstruktur pemerintah telah meraih sen demi sen dari segala aktivitas masyarakat di negeri ini termasuk aktivitas di dunia maya juga telah dipajakkan dengan tarif tertentu. Hanya saja mungkin anda tidak merasakannya.

Sistem ambil untung di negeri ini dimulai dari, pengusaha mengambil untung dari rakyat lalu pemerintah menarik pajak dari pengusaha dan rakyat. Coba lihat diagram berikut ini:

Penjajahan di zaman sekarang

Jika yang terjadi selama ini adalah perputaran uang satu arah maka orang-orang yang bekerja di pemerintahan adalah yang sangat kaya raya kemudian disusul oleh para pengusaha. Sedangkan kebanyakan orang yang melarat dan mengalami kesusahan ekonomi adalah dari pihak rakyat banyak. Bila sistem perekonomian kita seperti ini bukankah ini tidak ada bedanya dari zaman penjajahan tempo dulu? Hanya saja, kata-katanya sudah diperhalus menjadi “laba/ untung” lagi “pajak“. Dahulu para pahlawan mati-matian mengusir kolonialisme dari Indonesia bahkan sampai titik darah penghabisan (simak juga: Ciri-ciri penjajahan).  Sekarang masakan kita tega menjajah saudara sendiri?

Ketimpangan ekonomi yang seperti ini akan terus terjadi dimana yang kaya semakin kaya raya sedangkan yang miskin tetap miskin bahkan melarat kehidupannya. Memang demikianlah yang terjadi di zaman penjajahan dimana kaum penjajah lebih kaya raya dibandingkan pihak yang dijajah. Selama perputaran uang bersifat satu arah maka selama itu pula kesejahteraan tidak terbagi rata. Tetapi jika sistem saling berputar dan setara niscaya kemakmuran akan dirasakan oleh semua pihak.

Pemerintah kapitalis tungga menjadi penengah sekaligus menarik pajak dan turut mensejahtera semua pihak sama rata

Disini pemerintah sebagai kapitalis sekaligus sebagai penengah yang tidak hanya taunya menarik pajak ini dan itu melainkan juga mensejahterakan semua pihak didalamnya. Bukan hanya aparatur negara melainkan pengusaha dan rakyatpun hidup sejahtera dalam kesetaraan untuk membuat perekonomian tetap bergerak dari waktu ke waktu.

Indonesia menganut ekonomi kedaulatan rakyat yang berbunyi perekonomian dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Jikalau yang terjadi hanya pada bagan satu “dari dan oleh rakyat” niscaya akan terjadi ketimpangan ekonomi yang sangat jauh. Dimana kekayaan sumber daya dikuasai dan terpusat ditangan aparat pemerintahan sedangkan rakyat semakin miskin karena terus diisap (dimanfaatkan menjadi sapi perah) oleh pemerintah dan pengusaha.

Negara perlu menengahi berbagai kepentingan agar orang yang pintar-pintar tidak memanfaatkan orang yang pengetahuan dan intelektualnya terbatas sebagai pundi-pundi uang. Ingatlah bahwa penjajah mengambil dan tidak pernah mengembalikannya lagi apa yang telah ia peroleh. Sedangkan pemerintah mengambil sesuatu (pajak) untuk nantinya dikembalikan lagi demi kepentingan masyarakat luas.

Sadarilah bahwa tanpa kesetaraan maka yang berlaku adalah kolonialisme jenis baru (modern) dimana para penjajah sangat kaya raya karena semua sumber daya ditujukan kepada mereka sedangkan rakyat banyak hidupnya kurang-kurang bahkan melarat. Lagipula tanpa kesetaraan tidak ada kedamaian sebab manusia dikuasai oleh iri hati dan kesombongan.

Salam kesetaraan!

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s