Tanpa Logika Manusia Menjadi Binatang – Tidak Ada Hati Kita Menjadi Pedagang Yang Hanya Memikirkan Untung dan Menjadi Serakah – Kekuatan Spiritual Adalah Penyeimbang

Tanpa Logika Manusia Menjadi Binatang – Tidak Ada Hati Kita Menjadi Pedagang Yang Hanya Memikirkan Untung dan Uang

Pikiran manusia itu sangatlah kompleks. Tidak dapat dibagi dengan metode analisis apapun. Dari begitu panjang dan lebarnya pola pikir, kali ini kami hanya akan membahas tentang teknik pola pikir manusia dari sisi emosional dan logika yang dimilikinya. Sesungguhnya, kedua belahan ini saling bersinergi untuk menghasilkan sesuatu sebagai sebuah bentuk dari buah pikir yang akan diekpresikan lewat sikap (perilaku dan tutur kata) masing-masing.

Logika adalah (1) pengetahuan tentang kaidah berpikir; (2) jalan pikiran yang masuk akal (KBBI Offline). Mindset semacam ini murni dibentuk dari proses belajar berdasarkan pengalaman lewat pendidikan formal dan informal maupun yang dialami sehari-hari. Ini tidak terjadi secara instan melainkan semuanya butuh waktu yang tidak sedikit hingga pola berpikir seseorang benar-benar masuk akal yang sempurna. Semuanya butuh latihan, kesabaran, kerja keras dan ketekunan sehingga menghasilkan buah pikir yang dapat diterima oleh orang lain. Teknologi yang sudah ada saat ini sangat mampu untuk menirukan kemampuan manusia untuk berlogika.

Emosional adalah (1) menyentuh perasaan; mengharukan; (2) dengan emosi; beremosi; penuh emosi. Kecerdasan ini sudah ada secara default dalam setiap pikiran yang berhubungan dengan hati manusia. Ini merupakan sebuah kecerdasan bawaan yang dimiliki oleh semua orang. Pola pikir yang sangat erat hubungannya dengan rasa senang dan sedih seseorang juga perhatian/ kepedulian dikendalikan oleh emosi. Bagian ini sering juga disebut sebagai sisi kemanusiawiaan, sebab tidak ada satupun teknologi (secanggih apapun itu) yang dapat menirukannya.

Ketika sisi emosional (kecerdasan emosional) menjadi penguasa tunggal

Harus ada keseimbangan antara sisi emosional dan logika seseorang. Apabila seseorang tidak memiliki akal yang logis maka emosinya akan menguasai kehidupannya. Jika kekuasaan emosi tidak diimbangi maka ia akan semakin lama semakin berlebihan bahkan bisa-bisa semakin menjadi-jadi. Kalau sudah begini maka muncullah sisi negatifnya yang lebay dan sering disebut sebagai sisi kebinatangan. Jika binatang ini telah berkuasa di dalam hatimu maka hidupmu akan menjadi kacau balau dan cenderung merugikan orang lain dan juga merugikan diri sendiri.

Emosional yang lepas tanpa kendali cenderung akan membuatmu lebih banyak tidak sabar, suka marah-marah, pendendam, penuh kebencian dan syarat dengan hawa nafsu yang membabi buta. Ketika tidak ada lagi yang bisa mengimbanginya maka perilaku dan perkataan yang kita ekspresikan syarat dengan hal-hal yang tidak manusiawi: perkataan tidak jauh-jauh dari kebun binatang dan perilaku syarat dengan kekerasan/ anarkisme.

Saat sisi logika (kecerdasan intelektual) menjadi penguasa tertinggi

Logika erat kaitannya dengan kemampuan hitung-hitungan seseorang. Keadaan ini tidak jauh-jauh dari angka-angka yang benyak dan besar. Berbicara tentang kemampuan analisis sangatlah rumit. Pada dasarnya akal sehat manusia menuntunnya agar tidak mau dirugikan oleh orang lain. Yang ada didalamnya hanyalah sebuah pertanyaan bagaimana agar dia mendapatkan untung yang sebesar-besarnya lewat semuanya itu.

Namanya juga pedagang, sudah jelas bahwa ia hanya memikirkan “bagaimana caranya agar memperoleh laba yang melimpah ruah”. Ketika sikap mau cari untung sendiri ini dilakukan secara sepihak. Dalam artian yang membuatmu menghalalkan segala cara maka besar kemungkinan untuk melegalkan cara-cara licik saat berusaha. Jika sisi logika ini menguasai pikiran anda maka ada kecenderungan untuk melahirkan sikap serakah (mengumpulkan terlalu berlebihan). Orang yang serakah karena tidak punya hati memilih untuk melakukan berbagai cara hanya untuk memuaskan dirinya dengan uang dan harta kekayaan.

Sisi pola pikir spiritual (kecerdasan spiritual)

Mindset orang-orang spiritual selalu bercerita tentang bagaimana caranya memangkas segala jenis pemahaman yang ada untuk kepentingan Tuhan. Sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa memampukan kita untuk menekan sisi kebinatangan di dalam diri ini dan juga membuatmu sanggup untuk berkorban (dirugikan) demi kepentingan bersama.

Banyak cara yang kita peroleh dalam aspek spiritual untuk mengendalikan sisi emosional seseorang dengan berkata-kata bahwa “saya pantas mendapatkannya, kuatkan hatiku ya Tuhan”. Jika anda ingin tahu lebih banyak alasan-alasan spiritual untuk mengendalikan sifat-sifat binatang yang terdapat dalam diri manusia dapat anda temukan sendiri dalam setiap Kitab Suci yang dimiliki. Disana ada begitu banyak ucapan dan perumpamaan untuk membantu manusia mengendalikan dirinya.

Ketika anda mengembangkan sisi spiritual maka andapun akan digiring untuk memangkas emosi yang sifatnya berlebihan dan juga turut memangkas logika yang sifatnya lebay. Pengetahuan tentang Tuhan dan ajarannya akan membawa sisi emosional yang lebih manusiawi. Demikian juga logika kita tidak hanya digunakan untuk diri sendiri akan tetapi sesaat setelah bertemu dengan-Nya, kemampuan analisis (akal sehat) yang dimiliki didedikasikan untuk kepentingan bersama sehingga hidup lebih bermanfaat bagi orang lain.

Mulailah gali ajaran agama anda lalu temukan bagaimana caranya untuk mengendalikan emosi dan akal yang dimiliki

Kami menganjurkan anda untuk tetap berpegang pada agama yang diyakini masing-masing. Sebab tanpa agama manusia layaknya binatang yang liar dan buas. Juga tanpa keyakinan tentang adanya Tuhan, kita cenderung hidup mencari dan menggali secara berlebihan untuk diri sendiri. Bagaimana biar nominal uang yang dimiliki semakin bertambah-tambah banyak lagi dan lagi.

Sadarilah bahwa ajaran agama pulalah yang menuntun anda agar mampu mengendalikan diri dari sikap-sikap yang berlebihan dan cenderung mengekspresikan anarkisme. Di dalam Kekristenan ada satu ajaran yang sangat terkenal untuk meredakan emosional yang sedang meledak-ledak, yaitu dalam Matius 5:39 yang berbunyi : “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Demikian juga di dalam setiap agama pasti ada ajaran untuk memangkas logika yang kita miliki sehingga hati ini tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri melainkan juga turut memikirkan kepentingan orang banyak. Di dalam Kekristenan ada ajaran yang sangat terkenal untuk meredakan sisi akal sehat yang diekspose berlebihan yaitu dalam Matius 22:39 yang berbunyi demikian “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”. dan dalam Imamat 23:22 yang mengatakan “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

Setiap ajaran agama memiliki cara tersendiri untuk meredam sisi kebinatangan dan keserakahan pengikutnya!

Salam revolusi mental

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s