Evolusi Sosial Dari Manusia Individualis Menjadi Pejuang Kesetaraan – Masyarakat Terus Berkembang Berdasarkan Kecerdasan Dan Kebenaran Di Dalam Hati

Evolusi-Sosial-Dari-Manusia-Individualis-Menjadi-Pejuang-Kesetaraan-Masyarakat-yang-dimurnikan-dari-sifat-kebinatangan

Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama (KBBI Offline). Tahukah anda bahwa dizaman purba kala ketika diawal-awal penciptaan, manusia adalah makhluk yang sangat individualis. Dimana perilakunya lebih cenderung kepada perilaku hewan (kebinatangan). Hal ini terbukti pada peristiwa Kain dan Habel yang menunjukkan bahwa iri hati dapat merusak manusia. Peristiwa ini merupakan kedengkian yang pertama-tama merusak hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Manusia yang mementingkan diri sendiri

Manusia penyendiri yang hanya melihat diri sendiri sebagai pusat kehidupan (egoisme) cenderung lebih dekat kepada sifat kebinatangan. Mereka dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat mengendalikan amarahnya. Keinginan utamanya adalah menguasai segalanya. Setiap tapak yang mereka pijak akan dikuasai untuk dijadikan wilayahnya.

ERA Individualis, ciri-cirinya:

  • Jumlah manusia sedikit
  • Hidup menyendiri
  • Dalam gua dan bukit batu
  • Egois tak terkendali
  • Emosional tak terkendali
  • Hawa nafsu tak terkendali
  • Serakah – Menginginkan segala sesuatu menjadi miliknya.
  • Ujian kehidupan dianggap sebagai ancaman untuk bertahan hidup

Manusia yang lebih suka berkelompok

Saat jumlah manusia sudah mulai banyak, mereka mulai bersaing satu sama lain, saling menghakimi bahkan saling membunuh juga. Yang terkuat akan menjadi ketua kelompok. Adu kekuatan kerap kali terjadi untuk memperebutkan posisi ketua. Kehidupan seluruh anggota kelompok didedikasikan untuk melayani ketuanya. Semua sumber daya difokuskan kepadanya dan keluarganya sedangkan yang lain mendapatkan remeh-remeh. Persaingan untuk memperebutkan kekuasaan tidak hanya terjadi antara anggota kelompok melainkan juga ada ancaman dari luar kelompok.

ERA Berkelompok, ciri-cirinya:

  • Jumlah manusia mulai banyak
  • Ada kompetisi dan saling menaklukkan
  • Yang kalah/ lemah akan mengikuti yang kuat.
  • Hidup berkelompok
  • Dipimpin oleh orang terkuat
  • Pemimpin adalah penguasa dengan kebebasan.
  • Rakyat jelata hanyalah budak yang lemah
  • Muncullah orang kuat diantara budak/ rakyat lalu mengalahkan penguasa
  • Ada yang kuat dari kelompok lainnya lalu menggulingkan penguasa
  • Ujian kehidupan adalah adu kekuatan otot untuk saling menyingkirkan

Masyarakat yang dikendalikan oleh kekuatan mistik/ sihir

Pada dasarnya manusia sangat peka dengan hal-hal yang mistis yang berada diluar logikanya. Misalnya tentang keberadaan panas matahari, gemuruh guntur & sambaran petir, kekuatan gunung merapi, wabah penyakit, keracunana dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu hal-hal yang terjadi diluar penalaran manusia akan dikategorikan sebagai hal ghaib. Dimana hal-hal yang mistis ini dianggap sebagai allah atau sebagai roh-roh nenek moyang terdahulu. Petuah tentang roh nenek moyang diajarkan oleh ahli jampi/ tukang sihir. Dia jugalah yang memilih dan menobatkan seorang pemimpin untuk berkuasa di daerah tersebut. Penguasa dan ahli jampi adalah kekuatan yang membangun sebuah wilayah yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Semua sumber daya ditujukan dan diutamakan untuk orang-orang ini dan kaum keluarganya.

ERA Kekuatan Ghaib, ciri-cirinya:

  • Jumlah manusia banyak
  • Memiliki dukun/ ahli jampi
  • Memiliki pemimpin ketua adat/ kepala suku – berdasarkan petuah dukun
  • Terikat dalam aturan adat istiadat yang menguntungkan kaum tertentu
  • Pemimpin adalah tuhan
  • Anak-anaknya akan menggantikan posisinya kelak
  • Rakyat biasa hanyalah budaknya
  • Semua sumber daya diberikan kepada penguasa
  • Kompetisi di dalam kelompok minim.
  • Pesaing datang dari luar kelompok banyak
  • Ujian kehidupan datangnya dari kekuatan ghaib yang sulit dimengerti

Masyarakat yang dikuasai oleh kapitalis

Pada zaman kapitalis, kecerdasan adalah penentu utama kesuksesan seseorang. Bahkan mereka yang cerdas plus liciklah yang berkuasa atas negeri. Mengeruk sen demi sen dari kebodohan masyarakat. Itulah yang membuat mereka menjadi kapitalis yang kaya raya. Mencoba merangkaki dan menguasai setiap tapak sumber daya yang ada. Menjadi penguasa yang kikir dan tidak peduli dengan kemiskinan juga pengangguran. Sibuk memperkaya diri sendiri sehingga makin tambun namun yang miskin tetaplah miskin. Kesenjangan yang sangat kentara di berbagai bidang meningkatkan angka kekerasan dan kejahatan.

ERA Kapitalis, ciri-cirinya:

  • Jumlah manusia lebih banyak
  • Jumlah orang cerdas masih sedikit
  • Kapitalis adalah penguasa
  • Pemilik modal adalah tuhan
  • Kapitalis adalah orang cerdas yang melihat uang dalam kelemahan manusia/ sistem
  • Memiliki Agama & Kepercayaan
  • Terikat dalam aturan yang jelas dan logis
  • Rakyat secara halus menjadi budak kapitalis dalam bentuk koorporasi/ perusahaan
  • Ketidakadilan dibungkus oleh hukum & peraturan
  • Kapitalis menguasai seluruh sumber daya
  • Rakyat biasa hanya mendapat percikan saja
  • Kapitalis secara masif menyebarkan kebodohan
  • Kapitalis memanfaatkan kebodohan masyarakat untuk meraih untung
  • Selalu ada kaum terpinggirkan
  • Kesenjangan ekonomi meningkatkan aksi kejahatan dan kekerasan
  • Perebutan kekuasaan antara kapitalis begitu pelik
  • Ujian kehidupan terutama mendera mereka yang miskin dan kekurangan uang

Masyarakat yang memperjuangkan kesetaraan

Setelah menyadari betapa manusia selama ini hidup dari ketidakadilan. Mereka melihat bahwa adalah tidak mungkin untuk seorang teman melakukan perbuatan yang adil sebab dipengaruhi oleh kedekataan, masa lalu dan kepentingannya sendiri. Oleh karena itu manusia mulai berpikir untuk mengembalikan kekuasan di tangan Tuhan. Sebab pilihan manusia hanya melihat apa yang tampak oleh indra sedangkan pilihan Tuhan akan benar-benar menilai panggilan hidup sesorang dan rencana Tuhan dalam kesehariannya. Mereka mulai menyadari bahwa ketidakadilan dapat memicu pertengkaran, konflik hingga perpecahan. Kesetaraan adalah nilai yang mutlak demi kebersamaan yang menyatu.

ERA kesetaraan, ciri-cirinya:

  • Jumlah manusia sangat banyak
  • Tuhan adalah penguasa
  • Kekuasaan terletak pada undian
  • Jumlah orang cerdas adalah mayoritas
  • Hukum menjamin kesetaraan
  • Ajaran agama mendorong kesetaraan
  • Ada kesetaraan antara kaum profesional dan para buruh
  • Setiap orang lebih fokus pada profesinya
  • Melahirkan lebih banyak insan kreatif dan inovatif juga kolaboratif
  • Terjadi kesetaraan dalam hal perolehan pendapatan
  • Peningkatan pendapatan terjadi seiring bertambahnya usia
  • Tidak ada yang miskin dan tidak ada pengangguran
  • Tidak ada kapitalis
  • Negara adalah kapitalis tunggal
  • Kesejahteraan negara dibagi rata kepada semua rakyat
  • Angka kekerasan dan kejahatan ditekan mendekati nol
  • Pemurnian dialami oleh setiap orang yang hidup bersama di dalam masyarakat

Evolusi sosial, keluar dari kenyamanan dan siap untuk dimurnikan

Perlu dipahami bahwa manusia sangat suka dengan kenyamanan. Sayang, sifat nyaman ini justru memupuk rasa kebinatangan dalam hidup kita. Semakin lama berada dalam kenyamanan maka semakin sulit untuk mengendalikan hawa nafsu daging yang ada dalam diri ini. Tetapi tekanan kehidupan membuat kita mengerti bagaimana cara mengendalikan sifat jahat ini. Hidup dalam tekanan membantu kita untuk menguasai diri/ mengendalikan diri.

Manusia terus saja berkembang dan meninggalkan jauh-jauh sifatnya terdahulu yang sangat individualis yang lebih dekat dengan sikap kebinatangan. Pengetahuannya tentang kebenaran akan menuntunnya untuk mencari jati diri yang sesungguhnya dan siapakah Penciptanya. Hasrat tentang kebenaran inilah yang cenderung mendorong kita untuk menegakkan keadilan sosial demi kepentingan bersama. Saat hidup bersama disanalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri ini dimurnikan sehingga kita bebas dan tidak lagi berada dibawah kuasa perbuatan daging. Pada akhirnya kehidupan kitapun lebih layak dihadapan Sang Pencipta Segala Masa.

Dasar Kesetaraan Manusia Demi Terwujudnya Keadilan Sosial Dalam Kebersamaan (Gotong-Royong)

Sepertinya Indonesia masih lama mencapai kesetaraaan karena orang cerdas dan yang mengejar kebenaran masih belum terlihat disini, adakah anda melihat 0rang-orang itu disana?

Salam, mari tegar menghadapi ujian kehidupan!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s