8 Bukti & Dampak Negatif Budaya Nias Yang Kental Dengan Ketidakadilan (Ketidaksetaraan)

Bukti & Dampak Negatif Budaya Nias Yang Kental Dengan Ketidakadilan

Budaya adalah (1) pikiran; akal budi; (2) adat istiadat; (3) sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju); (4) sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Pepatah kami mengatakan (Nias) “lebih mudah menyembuhkan kegilaan dibandingkan menghilangkan kebiasaan”. Selama ini kita merasa bahwa kesalahan selalu berasal dari luar dimana terdapat hal-hal baru yang mengubah tatanan kehidupan bermasyarakat. Padahal  yang berpotensi besar mengacaukan kehidupan asalnya dari dekat anda.

Tanpa disadari, kebiasaan ini telah membentuk pola pikir masyarakat untuk bersikap berlebihan (lebay) terhadap uang dan memupuk ketidakadilan yang terjadi dimana-mana. Karena telah dibiasakan secara turun temurun maka semua masyarakatpun mati rasa sehingga mau saja melakukannya. Mereka mau saja digagahi oleh kepentingan adat yang berujung pada pemborosan sumber daya yang sangat boros dan kental dengan pengaruh tetua adat. Budaya semacam ini sama dengan yang dimiliki oleh masyarakat primitif yang hanya menguntungkan kalangan atas saja.

Bukti ketidaksetaraan dalam budaya Nias

Sudah saatnya beranjak dari kebiasaan lama yang hanya membela kepentingan kalangan atas yang mengabaikan kepentingan orang kecil. Berikut tanda dan ciri khas budaya Nias yang kental dengan ketidaksetaraan.

  1. Laki-laki lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Ini terlihat jelas dalam berbagai acara adat terutama pernikahan dimana seorang gadis hanyalah sebuah hasil dari perdagangan yang dibayarkan lunas oleh laki-laki kepada sang tengkulak (orang tua calon istrinya)
  2. Dalam berbagai acara adat terlihat jelas ketidakadilan pada saat penyajian makanan (daging babi). Yang seorang dapat satu talam penuh menggunung. Sedangkan yang lain hanya dapat potongan secuil saja.
  3. Pada pesta nikah tertentu, undangan mendapatkan nasi kotak kelas satu sedangkan sowato dan dome hanya mendapatkan nasi kotak kelas tiga buatan sendiri.
  4. Pada acara tertentu (peresmian) hanya orang-orang besar (pejabat) yang makanannya sistem ambil sendiri sedangkan yang lainnya hanya dapat nasi kotak.
  5. Dalam beberapa hajatan baik yang non resmi, para petinggi mendapatkan nasi kotak sedangkan orang biasa hanya beroleh nasi bungkus saja.
  6. Pada beberapa keramaian/ perkumpulan, orang-orang tertentu mendapatkan menu spesiel sedangkan orang lainnya dianggap tidak penting sehingga hanya mendapat menu cadangan lainnya.
  7. Seseorang pulang dari pesta membawa plastik besar berisi daging sedangkan yang lainnya hanya pulang dengan sepotong daging saja bahkan kadang tidak ada sama sekali.
  8. Bahkan dalam acara keagamaanpun ketidakadilan ini masih berlangsung.

Mengapa ketidakadilan ini terus berlangsung

Jika ingin berubah maka perubahan yang pertama-tama terletak pada kebiasaan yang tidak sehat ini. Kesetaraan adalah mutlak bagi setiap manusia. Jika ada seseorang yang merasa lebih tinggi dari manusia lainnya, itu artinya dia telah menyamakan dirinya dengan tuhan. Kesombongan yang tidak disadari seperti inilah yang sering sekali menghalangi hubungan baik kita kepada Yang Maha Kuasa.

Mengapa kebiasaan ini terus terjadi? Yang pasti karena menguntungkan bahkan sangat menambah semangat orang-orang yang berada di atas. Mereka yang berada di dalam keluarga yang berstrata tinggi dari golongan bangsawan diperlakukan sangat istimewa. Ditambah lagi kebiasaan ini terus berlangsung turun temurun. Alhasi untuk mengubahnyapun terkesan lebih sulit karena sudah mengakar dalam kehidupan manusia.

Sebuah pemaparan singkat tentang dasar teori kesetaraan

Coba perhatikan Firman yang menuntut kesetaraan di bumi ini. Firman yang sangat kontroversial dan diulang-ulang di dalam Alkitab. Sebuah kisah di padang gurun dengan Nabi Yesaya yang menyatakan bahawa : Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.” (Yesaya 40 : 3-5). Simak juga, Biasa saja dalam menanggapi segala sesuatu

Karena begitu pentingnya Firman tentang kesetaraan ini maka ke empat Rasul Kristus menyebutkannya di zaman Perjanjian Baru. Mereka adalah Rasul Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Bahkan kami sendiri merinding ketika menuliskan setiap kata disini. Inilah yang sebenarnya persiapan yang kita giatkan untuk mempersiapkan agar kemuliaan Tuhan dapat berjalan di tengah-tengah kita. Bisakah anda membayangkannya? Ketika Roh Allah tercurah kepada semua orang dimana masing-masing mempunyai talenta yang berbeda-beda. Bukan saja hanya karya seni yang akan dinyatakan oleh Roh tersebut melainkan juga ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah ditemukan oleh orang lain. Simak juga, Dasar kesetaraan antara kaum profesional dan buruh

Dampak buruk ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat

Lalu apa saja dampak buruk terhadap budaya yang tidak adil ini? Nanti akan kita bahas selengkapnya. Itu seperti berikut ini.

  1. Ketiakadilan ditentang oleh Tuhan.
  2. Memupuk sikap pilih kasih. Yang satu dapat besar sedangkan yang lainnya dijatahin apa adanya saja.
  3. Dalam setiap acara hanya orang tertentu yang merasakan nikmatnya sedang yang lainnya terabaikan.
  4. Banyak kompetisi (bahkan pertengkaran) untuk memperebutkan posisi tertinggi (salawa).
  5. Ada kesombongan yang mulai muncul diantara para pemuka.
  6. Mulai terbentuk sikap iri/ dengki karena penjatahan yang berbeda.
  7. Terjadi instabilitas (kekacauan) dalam hidup bermasyarakat.
  8. Pada akhirnya berkat Tuhan tertahankan karena keadaan ini.
  9. dan temukan sendiri teman….

Jadi, kalau kita mau berubah maka yang pertama-tama diubah adalah budaya masyarakat setempat.

Salam retorika!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s