9 Alasan Mengapa Lebih Baik Memberi Daripada Menerima

Faktor Yang Mempengaruhi Mengapa Lebih Baik Memberi Daripada Menerima

Manusia mampu berbahagia dimanapun, kapanpun dan apapun yang ditekuninya. Asalkan ia berjalan dalam jalur yang baik dan benar alhasil jalannya akan diberi kelancaran oleh Yang Maha Kuasa. Bahkan dalam keadaan sendiripun ada kebahagiaan di dalam hati apabila selalu tertuju untuk memuji & memuliakan nama-Nya. Tetapi kita terlahir sebagai makhluk sosial bukan sebagai seorang penyendiri sehingga ada juga waktunya untuk berbaur dan menyatu dalam kebersamaan.

Salah satu yang dapat membahagiakan kita dalam hidup ini adalah dengan senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. Sadar atau tidak, dalam pergaulan sehari-hari, selalu terlibat dalam interaksi memberi dan menerima. Ada yang saling dan ada pula yang bertepuk sebelah tangan. Didalam semuanya itu masing-masing orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil kebahagiaan itu menurut caranya sendiri. Berikut beberapa referensi cara mengaktifkan kebahagiaan dari dalam hati anda.

Memberi dan menerima terjadi silih berganti dalam hidup ini. Anda tidak selalu memberi dan juga tidak selalu menerima. Keadaan ini berlangsung bergantian, bolak balik bahkan kadang juga hanya sebagai pemain tunggal. Jika anda cerdas maka kesempatan yang sudah ada digunakan untuk aktif menebarkan kebahagiaan kepada sesama. Biarlah semuanya terjadi begitu saja, bukan karena unsur paksaan melainkan baiklah itu seperti air yang mengalir apa adanya.

Faktor yang menyebabkan memberi lebih baik daripada menerima

Adalah lebih baik memberi dari pada menerima“. Frase ini terdapat dalam Firman Tuhan (Alkitab-Kristen). Apa sebenarnya maksud dari ajaran ini? Kami sendiri menganggapnya sebagai sebuah tantangan: sebab tidak mudah untuk bersedekah karena butuh pengorbanan. Sedangkan orang yang menerima tidak butuh apa-apa untuk membalaskannya.

Berikut ini beberapa alasan mengapa memberi lebih baik daripada menerima.

  1. Menyampaikan pesan kasih kepada sesama.

    Allah adalah kasih. Jika tidak ada kasih dalam diri-Nya, sudah pastilah bahwa manusia akan ditinggalkan dan dibiarkannya begitu saja. Tetapi karena kasih-Nya yang besar, Ia telah melakukan banyak hal untuk menyelamatkan manusia. Jadi saat ada rasa saling mengasihi maka itu artinya kita semua adalah anak-anak Allah.

  2. Wujud rasa syukur.

    Mereka yang mampu memberi adalah orang yang dapat berbahagia dalam segala sesuatu yang telah diterima. Rasa terimakasih yang penuh atas anugrah Allah membuat kita tergerak hatinya untuk lebih memperhatikan mereka yang masih berada di dalam keterbatasan baik secara ekonomi maupun secara fisik. Rasa syukur adalah awal kebahagiaan, artinya Tuhan telah membahagiakanmu sehingga andapun berniat untuk membahagiakan sesama manusia dengan berbagi kasih.

  3. Sebagai tanda kedewasaan.

    Kami melihat bahwa di zaman sekarang tidak sedikit dari anak memiliki sikap pelit. Mungkin sebenarnya mereka bukan pelit akan tetapi disuruh untuk berhemat oleh orang tuanya. Instruksi ini tidak dicerna baik-baik sebab pemikiran mereka masih kerdil. Akan tetapi setelah anak tersebut menjadi dewasa maka iapun mulai mengerti apa perbedaan pelit dan hemat sehingga mampu menebar kebahagiaan kepada sesama dengan memberi semampunya.

  4. Simbol kemandirian.

    Jika dimasa kecil dahulu kita hanya bisa berharap agar orang lain berbuat baik kepada diri ini. Maka setelah mandiri secara pemikiran, kita sadar bahwa menunggu orang lain membahagiakan diri ini rasanya tidak sedap. Daripada menjadi seseorang yang harap-harap cemas maka lebih baik untuk ambil sendiri kebahagiaanmu dengan cara aktif menebarkan kebaikan kepada orang lain.

  5. Tanda hidup yang berkecukupan.

    Berkecukupan itu bukan soal materi akan tetapi perasaan yang terpuaskan oleh anugrah Allah. Orang yang merasa berkecukupan pasti akan mudah memberi kepada sesama. Akan tetapi mereka yang masih merasa kekurangan mengurungkan niat untuk memberi. Kita harus bersyukur bahwa masih diberikan kesejahteraan oleh Yang Maha Kuasa.

    Janganlah berkecil hati, jika anda tidak kaya karena kami juga tidak kaya. Akan tetapi berusahalah untuk menebarkan kebaikan dengan apa yang sudah ada secara default dalam diri kita. Misalnya.
    – Doa untuk kebaikan sesama.
    – Senyum, sapa dan sentuh (ramah tamah).
    – Menjadi pendengar yang baik.
    – Membagikan pengetahuan yang dimiliki.
    – Memanfaatkan bakat sebagai kesempatan untuk menyebarkan kebaikan kepada sesama. Simak juga, Niat baik berdasarkan kemampuan pribadi

  6. Sikap yang rela berkorban.

    Apapun kebaikan yang anda lakukan pastilah itu membutuhkan pengorbanan untuk menggerakkannya. Tanpa pengorbanan tidak ada kebaikan dan tanpa pengorbanan tidak ada pula kebahagiaan. Kasih tanpa pengorbanan sama seperti melemparkan/ membuang sesuatu. Istilahnya ketika itu tidak berguna baginya maka ia melemparkannya dengan bebas kepada orang lain.

  7. Tanda bahwa siap diuji.

    Kebaikan yang kita miliki adalah sebuah amalan kepada sesama manusia yang dapat dimanfaatkan orang untuk menyerang balik. Sudah banyak kejadian yang kita alami saat niatan yang baik ditanggapi dengan acuh tak acuh oleh orang lain. Dicuekin adalah ujian untuk menilai niat di dalam hati. Apakah kita tulus dan kuat (tabah) menghadapi semuanya itu? Pemberian yang ikhlas akan dibayar penuh bahkan sampai meluap.

    Saran kami, jangan banyak berharap saat melakukan kebaikan. Sebab semakin besar harapan anda maka semakin besar pula rasa kecewa akibatnya jika itu tidak terbalaskan.

  8. Berkat memberi akan dibalaskan di dunia ini.

    Apa yang anda tuai pasti akan anda tabur juga. Kebaikan anda akan dibalaskan setimpal. Jika bukan diterima langsung maka kerabat dekat anda (keluarga) yang akan menerimanya. Adalah mustahil jika anda menanam biji manggis tetapi berbuah sesuatu yang lain yang rasanya lebih buruk. Hanya saja yang perlu kami ingatkan adalah bersabarlah menunggunya sampai berbuah sebab semuanya butuh waktu.

  9. Berkat memberi akan dibalaskan di Sorga yang kekal.

    Kebaikan yang tidak terbalaskan di dunia ini maka upahnya akan dituai di sorga kelak. Inilah kebaikan yang sejati itu. Jika kita berbuat sesuatu maka orang tersebut bisa membalasnya, yang kita lakukan bukanlah kebaikan melainkan tukaran. Oleh karena itu berbuat baiklah kepada orang yang anda tahu, dia tidak bisa membalaskannya. Jika demikian upahmu akan dibalaskan oleh Yang Maha Kuasa di bumi ini dan di Sorga kelak.

Memberi adalah solusi kemanusiaan dalam kesejahteraan sosial dimana tidak ada lagi yang miskin. Karena orang yang memiliki gunung membagikan kelebihan itu kepada mereka yang masih kekurangan. Apa anda sanggup? Atau jangan-jangan andalah yang selama ini membuat orang-orang tersebut jatuh miskin? – konspirasi inside –

Ayo bersedekah!

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s