21.) Kesetaraan Antar Profesi dan Buruh – Kita Sama Hanya Berbeda Fungsi & Peran

Perjuangkan kesetaraan antara buruh dan kaum profesi

Kristen Sejati – Profesi adalah peran yang berbeda-beda di dalam masyarakat. Kamus Bahasa Indonesia sendiri menyatakan bahwa profesi adalah pekerjaan yang didasari dalam bidang pendidikan keahlian tertentu. Jadi KBBI tidak mengakui petani, peternak, nelayan, supir, tukang ojek, tukang becak, OB, CS, pramu niaga, pedagang dan lain sebagainya itu sebagai profesi melainkan lebih kepada pekerjaan seorang buruh. Sedangkan buruh menurut KBBI adalah orang yang bekerja untuk orang lain. Jadi dari sini dapat kita cermati bahwa buruh lebih rendah dari profesi

Ilustrasi kesenjangan hidup antara profesi dan buruh

Sekarang, kami akan menguraikan beberapa masalah yang timbul akibat kesenjangan kesetaraan antara keduanya. Berikut selengkapnya.

  1. Buruh dianggap sebagai pekerjaan yang lebih rendah.
  2. Pekerja profesi makin kaya raya sedangkan buruh hidupnya tidak diperhatikan, dibiarkan bertahan sendiri, mati segan hidup tak mampu.
  3. Pihak yang berprofesi merasa dirinya paling berhak dan paling banyak jatah dari air susu Ibu Pertiwi.

  4. Mereka yang berperan sebagai buruh hanya dapat tetes demi tetes dari air susu Ibu Pertiwi.
  5. Untuk itu, mereka yang berprofesi (cerdas) berinisiatif untuk “agak membodohi” adek tiri mereka si buruh secara diam-diam.
  6. Orang-orang cerdas menggunakan media (pers) dan teknologi (bahkan tidak jarang juga dengan free seks, narkoba, miras, judi, togel, juga judi online dan lain sebagainya) untuk meninabobokan & mengendalikan mereka yang kurang cerdas (buruh). Sehingga orang-orang bodoh itu tidak berani macam-macam.
  7. Ada-ada saja masalahnya sebab mulailah bermunculan para cendekiawan diantara para buruh yang selama ini bodoh.
  8. Lagi-lagi, oknum profesional mencoba mengendalikan cendikia tersebut dengan uang, kemewahan dan kenikmatan duniawi. Mereka melakukan ini agar para buruh tetap klepek-klepek dihadapan mereka. Istilah kerennya adalah “ganas-ganas jinak”.
  9. Kaum kapitalis dengan sengaja mematok biaya pendidikan yang tinggi sehingga para buruh tidak dapat mencapai jenjang pendidikan tersebut. Ini adalah salah satu cara kaum kapitalis menguasai perolehan pengetahuan hingga menguasai negara ini secara sepihak.
  10. Para buruh ramai-ramai menjual kepunyaannya/ hartanya/ asetnya kepada kapitalis agar setidak-tidaknya anak-anaknya kelak menjadi kaum profesional juga.

  11. Para profesi membeli aset tersebut dan membuat usaha dan pekerjaan mereka makin berkembang bahkan mereka semakin kaya raya top ger.
  12. Kaum kapitalis (profesi-cerdas-pintar-pintar) menguasai perdagangan dan menciptakan trend belanja mewah di mal-mal besar sedangkan para pekerja lepas (buruh) yang membuka usahanya (UMKM) dipaksa bertahan ditengah ketidakpastian, kadang untung-kadang sepi-kadang rugi.
  13. Situasi yang terus berlanjut membuat kesenjangan antara yang kaya raya (profesional) dan yang miskin (pekerja lepas) sangat jauh. Air susu ibu dari ibu pertiwi antara keduanya beda jauh. Semuanya ini terjadi karena mereka pintar-pintar.
  14. Kaum profesi semakin makmur bahkan kemakmurannya melimpah-limpah sedangkan pekerja lepas memiliki taraf hidup jauh di bawah.
  15. Untuk mengaburkan ketimpangan ini mereka menawarkan teknologi, media internet bahkan narkoba, miras, judi, pornografi, seks bebas dan poker online juga. Agar para pekerja lepas disibukkan dan dibodohi secara halus lewat semuanya itu.
  16. Bahkan saking parahnya kesenjangan itu, para pekerja lepas yang kehilangan pekerjaannya melakukan aksi kejahatan dan tindakan kriminal untuk memperoleh materi.
  17. Para profesional kehilangan makna hidup sebab semua jerih lelah mereka dibayarkan lunas dengan gaji (penghasilan-pemasukan) yang setimpal bahkan berlebih yakni sampai meluap-luap. Akhirnya Yang Maha Kuasa tidak memperhitungkan peran mereka sebagai sebuah jasa yang pantas diharagai di Sorga kelak.
  18. Kaum profesional tidak bahagia dengan perannya, banyaknya harta dan melimpahnya kenikmatan dunia yang dicicipilah yang menyenangkan hatinya.

  19. Mereka sangat ketergantungan dengan kenikmatan duniawi itu bahkan hawa nafsunya untuk memiliki yang lebih lagi terus bertambah-tambah.
  20. Karena banyaknya uang dan sumber daya mereka profesional memuaskan diri dengan membangun fasilitas pribadi alias kemewahan pribadi/ resort pribadi yang merusak dan menelan banyak sumber daya alam, hutan-hutan dirusak dan ekosistem hayati terpinggirkan jauh ke pedalaman.
  21. Terjadi kerusakan lingkungan yang masif. Para buruh yang tinggal di daerah pinggiran menjadi tumbal ditelan bencana alam akibat kerusakan lingkungan.

  22. Kaum profesi tidak tersentuh sama sekali, mereka dilindungi oleh beton-beton, gedung-gedung dan tembok yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
  23. Para profesional menciptakan kenyamanan teknologi mewah nan mahal yang seharusnya bisa diberikan alam tapi telah terdegradasi terlebih dahulu.
  24. Residu teknologi menimbun bencana yang lama kelamaan akan menggunung hingga menyebabkan bencana alam yang dahsyat yang disebut sebagai kiamat.
  25. Bumi memanas (puncak global warming) lalu menelan semua makhluk hidup yang ada di atasnya – akhir zaman.

Hawa nafsu yang tidak terkendali adalah awal mula degradasi moral. Ujung-ujungnya adalah keserakahan. Itulah semua cerita tentang betapa serakahnya manusia cerdas dan betapa teganya mereka melihat sesamanya tetap miskin dan melarat tenggelam oleh kebodohannya. Hingga keserakahan itu menyentuh bahkan merusak lingkungan alamiah juga. Pada akhirnya semuanya ini akan mendatangkan bencana alam sehingga mempercepat kiamat.

Ingat lagi liturgi profesi waktu Natal kemarin.

Sekali lagi kami ingatkan tentang liturgi profesi saat Natal kemarin. Ketika semua orang berdiri di atas panggung dan saling menunjukkan kehebatannya dimana masing-masing merasa lebih penting. Pada akhirnya mereka disadarkan bahwa tidak ada yang lebih penting, melainkan semuanya sama pentingnya dalam kesetaraan. Apakah dunia ini dapat berjalan tanpa petani? Mungkinkah anda dapat makan tanpa nelayan dan peternak? Dapatkah sistem berputar tanpa pemimpin? Adakah rumah tangga anda berjalan baik tanpa satpam/ supir/ pembantu rumah tangga? Inilah yang kami maksud dimana kita hidup dalam keteraan. Tanpa itu, tidak ada stabilitas sebab masing-masing merasa lebih penting dan merasa lebih pantas digaji dengan bayaran yang lebih tinggi.

Dasar Firman untuk kesetaraan di dalam masyarakat

Coba perhatikan Firman yang menuntut kesetaraan di bumi ini. Firman yang sangat kontroversial dan diulang-ulang di dalam Alkitab. Sebuah kisah di padang gurun dengan Nabi Yesaya yang menyatakan bahawa : Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.” (Yesaya 40 : 3-5)

Simak juga, Makna mendatarkan tanah dalam Yesaya 40:3-5

Karena begitu pentingnya Firman tentang kesetaraan ini maka ke empat Rasul Kristus menyebutkannya di zaman Perjanjian Baru. Mereka adalah Rasul Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Bahkan kami sendiri merinding ketika menuliskan setiap kata disini. Inilah yang sebenarnya persiapan yang kita giatkan untuk mempersiapkan agar kemuliaan Tuhan dapat berjalan di tengah-tengah kita. Bisakah anda membayangkannya? Ketika Roh Allah tercurah kepada semua orang dimana masing-masing mempunyai talenta yang berbeda-beda. Bukan saja hanya karya seni yang akan dinyatakan oleh Roh tersebut melainkan juga ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah ditemukan oleh orang lain.

Hidup ini bukan hanya soal uang melainkan pengabdian untuk ikut jalan Tuhan

Camkanlah Firman ini: Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku. (Matius 19:20-21)

Tentu saja orang muda itu kaya raya karena dia cerdas dan profesional. Tetapi Tuhan menyuruhnya untuk menjual semua hasil usahanya itu lalu membagikannya kepada orang miskin. Bukankah perintah ini salah satu cara untuk mencapai kesetaraan di dalam masyarakat? Dan lagi, menyuruh dia untuk mengikuti jalan hidup-Nya yaitu jalan salib. Mengabdi untuk bermanfaat bagi Sang Pencipta (Bapa-Nya) dan pengabdian untuk bermanfaat bagi sesama manusia.

Kami hendak kembali mengingatkan tentang sistem penggajian kepada anda. Jika memiliki bakat (talenta) yang banyak, pantaskah anda digaji tinggi? Memang jelas itu pantas. Akan tetapi upah anda hanya sampai disitu saja. Ibu Pertiwi telah membayarkan hasil jerih lelah anda sampai lunas bahkan melimpah ruah/ meluap-luap. Tidak ada lagi upah di Sorga kelak. Tapi, coba jika anda mau berbagi lalu menyerahkan pengelolaan potensi tersebut kepada negara, pastilah kebermanfaatannya akan dibagi secara merata kepada semua orang. Sehingga kelak andapun akan memperoleh harta di Sorga yang kekal.

Marilah kita memaknai tulisan ini. Yang hanyalah sebatas perumpamaan untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Profesi apapun anda saat ini, jangan terlalu memperhitungkannya dari segi materi yang diperoleh melainkan anggaplah itu sebagai pengabdian kepada Tuhan. Seolah-olah anda bekerja untuk kemuliaan nama-Nya. Niscaya Ia akan hadir, bukan saja hanya dalam hidup anda melainkan ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat juga.

Yang lainnya, Sistem pemerintahan yang berputar

Salam, kemuliaan hanya bagi Tuhan…..

Iklan

4 comments

  1. […] Karena begitu pentingnya Firman tentang kesetaraan ini maka ke empat Rasul Kristus menyebutkannya di zaman Perjanjian Baru. Mereka adalah Rasul Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Bahkan kami sendiri merinding ketika menuliskan setiap kata disini. Inilah yang sebenarnya persiapan yang kita giatkan untuk mempersiapkan agar kemuliaan Tuhan dapat berjalan di tengah-tengah kita. Bisakah anda membayangkannya? Ketika Roh Allah tercurah kepada semua orang dimana masing-masing mempunyai talenta yang berbeda-beda. Bukan saja hanya karya seni yang akan dinyatakan oleh Roh tersebut melainkan juga ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah ditemukan oleh orang lain. Simak juga, Dasar kesetaraan antara kaum profesional dan buruh […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s