9 Alasan Natal & Tahun Baru Dulu Lebih Seru Daripada Natal & Tahun Baru Sekarang

Alasan Mengapa Natal & Tahun Baru Dulu Lebih Seru Daripada Natal & Tahun Baru Sekarang

Kristen Sejati – Natal dan Tahun Baru tidak pernah berakhir, tiap tahun pasti ada hanya temanya saja yang berbeda-beda. Setiap dari kita berbeda-beda pemahaman dan pelaksanaannya tergantung dari pengertian masing-masing dan sumber daya yang dimiliki. Natal dikenal sebagai hari kedatangan Sang Juruselamat dunia, Yesus Kristus. Sedangkan Tahun Baru semacam perayaan ucapan syukur atas semua rahmat yang telah diterima sambil mengoreksi diri masing-masing. Ini moment yang juga dimanfaatkan untuk saling maaf-maafan.

Terlepas dari segala pemahaman dan pengertian Natal dan Tahun Baru yang sebenarnya, beberapa teman-teman kami mencoba membanding-bandingkan perayaan tahun lalu (bisa saja beberapa tahun silam) dengan perayaannya sekarang (tahun ini). Banyak yang mengakui bahwa dahulu perayaannya lebih seru daripada tahun ini. Kebanyakan komentar mengakui turunnya keseruan perayaan Natal dan Tahun Baru dari tahun ke tahun. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa “semuanya biasa saja”.

Faktor penyebab perayaan Natal & Tahun Baru dahulu lebih seru daripada perayaan Natal & Tahun Baru sekarang

Fenomena turunnya keseruan perayaan natal dari tahun ke tahun adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Sekalipun ini terjadi, satu hal harus anda pegang, yakni “jangan sampai makna natal yang dirasakan juga menurun“. Jika hal seperti ini terjadi dalam kehidupan anda berarti selama ini berarti anda tidak memaknai Natal seutuhnya. Artinya perayaan ini hanya sekedar seremonial belaka.

Biarlah semua rasa di indra menurun. Akan tetapi jangan sampai rasa dihati menghilang! Sebab apa yang tampak dari luar itu hanyalah sementara sedangkan apa yang berasal dari dalam sifatnya kekal. Oleh karena itu, jangan sampai anda kehilangan makna Natal yang sesungguhnya yaitu (1) untuk memperingati hari kedatangan-Nya yang pertaman (kelahiran) di dunia ini dan (2) untuk menyambut kedatangannya yang kedua kalinya sebagai hakim atas dunia ini. Jadi, selain  mengingatkan kita tentang ulang tahun Tuhan Yesus Kristus di bumi, ini juga merupakan peringatan agar kita selalu bersiap untuk menyambut kedatangannya kelak untuk menghakimi dunia.

Berikut beberapa pandangan kami mengapa Natal dan Tahun Baru di tahun sebelumnya lebih seru/ bahkan lebih indah dari perayaan Natal dan Tahun Baru di tahun ini? Diantaranya yaitu.

  1. Indra manusia semakin lemah tetapi hati makin kuat.

    Ini adalah kenyataan yang harus diterima apa adanya. Sebab dimasa kanak-kanak indra manusia begitu sensitif. Sehingga ketika terpapar oleh hal-hal tertentu dari luar diri ini, rasa senangnya sangatlah tinggi. Akan tetapi seiring dengan menurunnya hubungan antar sel otak karena faktor usia maka rasa di indrapun menurun dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan kedewasaan seseorang.

    Jadi, bukan keseruan Perayaan Natal dan Tahun Baru yang berkurang akan tetapi indra andalah yang semakin hari semakin lemah. Oleh karena itu jangan pernah kehilangan makna Natal yang sesungguhnya.

  2. Adanya keinginan yang masih belum terwujud.

    Sadarilah bahwa, terkadang dalam hidup ini saat kita tidak menginginkan apa-apa adalah lebih melegakan hati. Sebab saat apa yang inginkan tidak kunjung terwujud niscaya situasi ini mau tidak mau memaksa anda untuk berpikir terlalu keras, merencanakan terlalu jauh dan berharap terlalu dini sehingga lupa untuk bersyukur buat semua rahmat yang telah dianugrahkan oleh Yang Maha Kuasa.

    Biarlah hidup ini mengalir saja kawan, layaknya air yang mengalir kemanapun alam semesta menggiringnya diantara lekak-lekuk dunia yang tidak selalu menyenangkan. Hindari memaksakan kehendak sebab satu-satunya yang dapat memaksa hanyalah peraturan/ hukum yang berlaku di tengah masyarakat.

  3. Adanya manipulasi yang terbongkar.

    Dahulu waktu kami masih kecil, sering menjadi korban dari aksi manipulatif orang lain bahkan orang tua sendiri. Kebohongan pertama di waktu Natal adalah tentang adanya sinterklause yang memberi hadiah kepada anak-anak. Setelah kami besar dan mengetahui bahwa sebenarnya sinterklause itu hanyalah mitos maka hati inipun lumayan kesal.

    Kebohongan kedua yang kami ketahui dulu semasa kanak-kanak yaitu “saat akhir tahun bulan berpisah di langit“. Setelah kami dewasa dan mengerti bahwa itu hanyalah mitos belaka maka hati inipun lumayan kecewa.

    Tatapi apapun itu, sebenarnya semuanya hanyalah embel-embel dari perayaan Natal dan Tahun Baru. Sedangkan yang menjadi intinya adalah ALLAH ITU KASIH. Jadi, kami memutuskan bahwa sekalipun kulit luarnya tergores namun intinya masih tetap sama. Sehingga memutuskan untuk fokus saja pada intinya bukan embel-embelnya.

    Peringatan nich, bagi orang tua masa kini agar tidak memanipulasi anaknya sejak dini.

  4. Adanya dosa yang masih belum diakui.

    Mengapa acara ini lebih seru tahun lalu daripada tahun sekarang? Jawabannya karena tahun lalu hati anda bebas dari rasa bersalah sedangkan tahun ini, hati anda dipenuhi oleh rasa bersalah karena dosa-dosa yang telah dilakukan.

    Saran kami, minta maaflah kepada siapapun anda bersalah sehingga hati lebih tenang dan lega menjalani waktu berikutnya.

  5. Adanya masalah pribadi/ kelompok yang belum terselesaikan.

    Hidup ini memang sarangnya masalah. Jika anda tidak mau bermasalah maka silahkan tinggalkan dunia yang fana ini. Sebab tiap hari kita dimurnikan untuk menjadi lebih baik. Kita diuji oleh pergumulan hidup agar lebih kuat hati dimana rasa benci, dendam, marah dan sifat-sifat buruk lainnya terkikis hari demi hari.

    Selesaikan masalahmu teman, tepat pada waktunya. Sebab persoalan yang berlarut-larut memberikan beban yang cukup tinggi (tekanan) hingga anda tidak mampu merasakan indahnya acara yang sedang dilakukan.

  6. Kehilangan anggota keluarga.

    Akan lain rasanya jika perayaan Natal & Tahun Baru di tahun lalu anggota keluarga lengkap sedangkan di tahun sekarang anggota keluarga tidak lengkap. Sadar atau tidak hubungan emosional antar anggota keluarga memberikan kesan yang lebih saat menjalani sesuatu.

    Kekurangan salah satu anggota keluarga diperayaan tahun ini, entah itu karena jarak yang cukup jauh (tinggal di daerah lain) atau karena sudah berpulang Kepangkuan Bapa Di Sorga yang kekal. Rasa sedih atas kehilangan inilah yang mengurangi keseruan acara tahun ini.

    Saran kami, segera tinggalkan kesedihan anda sebab orang yang dicintai telah berada di tempat yang berbahagia dalam ketenangan abadi. Sadarilah bahwa kematian adalah kebahagiaan abadi (bagi orang benar).

  7. Anda tidak ikut serta sebagai Panitia Perayaan Natal.

    Ini nich yang menjadi masalah bagi kebanyakan orang disekitar kita. Saat hidupnya lebih ditekankan kepada perayaan seremonial yang wah dimana dia terlibat secara langsung didalamnya. Sadarilah bahwa membiasakan diri pada hal-hal seperti itu akan terasa berbeda saat anda tidak ambil bagian didalamnya.

    Saran kami bagi teman-teman, jangan terlalu (lebay) fokus pada peran anda dalam perayaan tersebut melainkan terima apa adanya (disyukuri) dan nikmati sajalah acara demi acara yang sedang berlangsung.

  8. Anda tidak masuk juara dalam perlombaan yang diadakan tahun ini.

    Ada kemungkinan anda kurang semangat menjalani perayaan Natal dan Tahun Baru tahun ini dibandingkan tahun lalu karena di tahun-tahun sebelumnya anda mendapat kejuaraan dalam perlombaan tertentu. Sedangkan tahun ini, prestasi anda berkurang bahkan tidak dapat kejaraan sama sekali.

    Hati-hati dengan rasa kecewa yang anda alami. Sebab terkadang kekecewaan yang tidak diterima oleh akal sehat akan mengganggu suasana hati anda. Tinggalkanlah moment yang telah berlalu dan nikmati acara perayaan Natal dan Tahun Baru yang sedang berlangsung dengan penuh semangat yang membara karena sudah siap untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kalinya.

  9. Manusia semakin memahami, “Ada transformasi makna Natal yang sesungguhnya dari sesuatu yang bersifat seremonial menjadi sesuatu yang bersifat tindakan nyata – PERKATAAN DAN PERBUATAN YANG PENUH KASIH.

    Semakin tambah usia, semakin tambah dewasa dan semakin bijak dalam menjalani hidup ini. Itulah manusia, saat pengertian kita bertambah maka akan terjadi transformasi makna kehidupan dimana kita tidak lagi mementingkan apa
    yang tampak (oleh indra) melainkan apa yang dapat dirasakan oleh hati ini.

    Transformasi makna ini beralih posisi dari sekedar acara seremonial berupa lilin, pohon Natal, kelap-kelip dan baju baru menjadi lebih ditekankan kepada pembaharuan attitude (moralitas) menjadi lebih baik dengan mengedepankan kasih dalam segala sesuatu. Jadi keseruan lewat indra berkurang akan tetapi hati bergelora.

Apapun yang anda rasakan pada perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini, biarlah itu terjadi. Besar-kecilnya, baik-buruknya berusahalah menerima semua apa adanya dengan penuh rasa syukur sembari hati bernyanyi memuliakan Tuhan sehingga ada sukacinta yang terkendali, tenang dan penuh damai lalu meluap dalam senyuman manis di bibir masing-masing. Yang paling penting adalah “anda tidak kehilangan makna Natal yang sesungguhnya” yaitu pesan untuk menyatakan KASIH & PENGORBANAN kepada orang-orang disekitar anda.

Salam hidup yang lebih bermakna!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s