Anak · Gejolak Sosial · Menata Ulang Ilmu Pengetahuan · Pelajar

Untung – Rugi Ujian Nasional (UN) 9 Saran Untuk Dunia Pendidikan Yang Lebih Baik

Masukan untuk dunia pendidikan dan ujian nasional (UN)

Ujian Nasional (UN) adalah cara sederhana untuk menasionalisasikan otak pelajar di seluruh Indonesia. Merupakan ujian yang dilaksanakan serentak diseluruh Indonesia mulai dari sabang sampai merauke. Sebagai ujian masal terbesar yang dilaksanakan di seluruh negeri dimana nominasi ke dua disusul oleh pelaksanaan SNMPTN yang juga pelaksanaannya serentak diseluruh Indonesia.

Meski ditentang oleh banyak pihak bahkan belakangan inipun sempat terdengar isu Moratorium Ujian Nasional namun pemerintah memiliki alasan tersendiri mengapa pelaksanaan UN dilakukan setiap tahun. Hasil dari ujian nasional dimanfaatkan untuk menentukan kelulusan pelajar, pemetaan mutu sekolah penyelenggara, salah satu indikator saat memasuki jenjang yang lebih tinggi (universitas), untuk mengetahui yang mana sekolah unggulan dan dimanapula sekolah yang membutuhkan bantuan/ afirmasi.

Dahulu nilai UN menjadi satu-satunya penentu kelulusan seorang pelajar. Akan tetapi belakangan ini syarat tersebut telah dilonggarkan sedikit untuk menjawab polemik yang hangat berhembus di tengah masyarakat. Sehingga siswa-siswi yang tersangkut di ujian nasional masih tetap bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi pelajar yang belum lulus masih harus mengulang tahun depan. Ini kami sebut sebagai sebuah solusi setengah hati, artinya pemerintah benar-benar tidak bisa menghilangkan sama sekali bagian ini dari dunia pendidikan Indonesia.

Ujian Nasional sangat berorientasi pada hasil padahal siapa yang menjamin proses yang dialami sebelumnya sudah terjamin benar. Apalah artinya ujung benang yang rapih dan cantik kalau toh dipertengahan & pangkalnya amburadur (asal-asalan). Pemahaman bahwa hasil adalah tolak ukur utama harus dibuang jauh-jauh. Sebab lebih penting prosesnya dimana siswa-siswi digiring untuk menemukan dirinya dan bakat yang dimiliki sehingga penilaian outputnya berbeda-beda satu sama lain.

Sepengetahuan kami untuk menilai MUTU atau indikator kualitas sebuah sekolah tidak hanya ditentukan oleh hasilnya saja. Melainkan ada yang lebih penting dari sekedar hasil ujian nasional yaitu PROSES. Bagaimana mungkin kita menilai sebuah sistem (sekolah) hanya dengan melihat jebolannya saja/ muaranya saja/ akhirnya saja. Orientasi pada hasil akan membuat beberapa orang kehilangan arah sehingga mulailah terjadi tipu-muslihat yang syarat dengan tindakan manipulatif dengan tujuan untuk meningkatkan output itu.

Penilaian kualitas sistem pendidikan berdasarkan hasil UN akan memberikan hasil yang sangat dangkal. Beberapa hal yang kami ketahui tentang mutu : Baik buruknya kualitas ditentukan oleh (1) pejabat pengambil kebijakan (2) pelatihan bagi pejabat pelaksana di lapangan dan (3) sarana/ fasilitas yang tersedia. Artinya baik buruknya pendidikan di Indonesia sangat ditentukan oleh para petinggi yang bekerja di dinas pendidikan, sekolah yang bersangkutan dan instansi terkait lainnya. Dimana mutu pendidikan berhubungan langsun dengan pelatihan tenaga pendidik yang dilakukan terus menerus.

Usaha yang sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan adalah kehandalan manajemen dan pelatihan tenaga pendidik yang terus menerus. Apabila dua hal ini mulai digerakkan oleh koorporasi niscaya kualitas siswa dan siswi yang menempuh pendidikan dapat terjaga baik. Lagipula dengan melatih skill (kemampuan) tenaga pengajar secara tidak langsung akan menyetarakan kemampuan mereka, baik yang di daerah, kabupaten, provinsi dan kota-kota besar di Indonesia.

Bila dibandingkan dengan standarisasi siswa-siswi yang jumlahnya mencapai jutaan maka lebih baik menyetarakan skill guru-guru sekolah di seluruh Indonesia yang jumlahnya lebih sedikit. Biaya yang digunakan juga pasti menyerap anggaran yang lebih sedikit. Pelatihan yang kami maksud disini seperti layaknya training yang dilakukan oleh perusahaan kepada karyawannya. Mereka yang ahli dibidang studi tertentu didatangkan dari pusat untuk melatih guru-guru di daerah terpencil.  Apabila usaha ini dilakukan terus menerus niscaya Dunia Pendidikan Indonesia akan menempuh babak baru yang lebih maju dalam kebersamaan.

Harus di pahami trend pendidikan di Indonesia dimana sekolah-sekolah yang berada dikota besar lebih bermutu dibandingkan dengan sekolah yang ada di daerah. Oleh karena itu harus ada perbaikan untuk mengantisipasi kesenjangan ini. Selain butuh pelatihan dan manajemen yang handal, dukungan sarana dan prasarana yang memadai juga harus diseterakan. Apalah gunanya sebuah ilmu pengetahuan bila tidak dipraktekkan? Ini memang butuh biaya yang tidak sedikit akan tetapi bila dilakukan secara bertahap dari tahun ke tahun niscaya ada keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.

– Inti sari –

Jadi kesimpulan dari tulisan saya adalah pendidikan di Indonesia mengeneralisasi bakat siswa-siswi yang bersangkutan. Keadaan ini membuat pelajar tersebut bingung hendak kemana setelah lulus sebab selama ini indranya dirangsang untuk melakukan sesuatu yang bukan bidangnya. Pada akhirnya, kebanyakan siswa kehilangan kreativitasnya lalu melebur jadi satu dalam sistem koorporasi dan perusahaan swasta.

Keuntungan Ujian Nasional :

  • Memetakan kualitas pendidikan secara cepat.
  • Membantu universitas menentukan siswa-siswi yang layak.
  • Mengetahui sekolah dengan rating terdepan dan terbelakang untuk selanjutnya ditindaklanjuti.

Kerugian dari pelaksanaan UN :

  1. Ini adalah generalisasi yang sangat buruk. Anak dilahirkan berbeda dengan kemampuan berbeda pula. Mengapa harus distandarisasi dalam satu garis lurus?
  2. Hanya berorientasi pada hasil untuk menentukan kualitas. Terlalu terburu-buru dalam menilai mutu yang sebenarnya melibatkan banyak hal terutama proses.
  3. Mendorong tenaga pendidik untuk manipulatif untuk menjaga nama baik sekolahnya.
  4. Memaksa pelajar yang ragu dengan kemampuannya untuk menghalalkan segala cara agar dapat lulus Ujian Nasional.
  5. Tidak manusiawi karena mengukur segala sesuatu di atas kertas adalah keputusan yang sangat tidak mewakili keadaan yang sebenarnya.
  6. Menyerap anggaran yang lebih besar.
  7. Penilaian yang tidak ditindak lanjuti. Siswa yang tidak lulus/ gagal tidak mendapat perhatian khusus/ pelatihan yang spesifik untuk memperbaiki kesalahannya. Melainkan ia dibiarkan bertahan sendiri.
  8. Dampak buruk dari Ujian Nasional sangat dirasakan oleh siswa yang bersangkutan sedangkan yang mendapat pembinaan dan suntikan dana adalah pihak sekolah. Apa hubungannya? 😀

Solusi dari permasalahan dan Masukan bagi dunia pendidikan nasional

Polemik tentang penting tidaknya UN perlu diperhatikan sebab suara ini bukan hanya berasal dari satu dua orang saja melainkan kebanyakan orang tua menginginkan solusi untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Jika permasalahan ini terus dibiarkan tanpa solusi maka setiap anak cenderung lambat untuk menemukan apa talenta yang dimilikinya.

Beberapa masukan (saran) dari kami yang mungkin bisa direalisasikan.

  1. Komitmen manajemen harus disatukan. Dinas pendidikan, kepala sekolah dan para pengambil kebijakan perlu menyatukan visi tentang pentingnya pendidikan bagi anak sebagai investasi dimasa depan.
  2. Standarisasi dan penilaian sebaiknya tidak dilakukan kepada siswa melainkan lebih kepada para tenaga pendidik.
  3. Pola seperti ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari segi tenaga dan biaya (sumber daya) yang dibutuhkan.
  4. Melakukan pelatihan kepada tenaga pendidik harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sehingga secara tidak langsung menghasilkan siswa-siswi yang berkualitas pula.
  5. Diharapkan diferensiasi keilmuan di tingkat Sekolah Menengah Atas. Tidak hanya terdiri dari jurusan IPA dan IPS melainkan jurussan untuk keilmuan lainnya juga harus ada seperti olahraga, kesenian dan lain sebagainya.
  6. Penambahan jumlah tenaga pendidik berdasarkan kepadatan jam kerja personil yang melebihi ambang batas normal.
  7. Alangkah baiknya bila sekolah tidak hanya menjadi sarana untuk membina intelektual anak didik melainkan juga menjadi tempat untuk melatih emosional mereka.
  8. Sekolah adalah simulasi sosial yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa-siswinya sehingga lebih tanggap dan cekatan saat menghadapi masalah dalam kehidupan ini.
  9. Dukungan sarana dan prasarana yang memadai akan membantu menghasilkan orang-orang yang bermutu. Pengadaannya dapat dilakukan secara bertahap dari tahun ke tahun.

Demikian saja teman. Kami menyadari bahwa setiap anak yang percaya akan adanya Tuhan telah dianugrahkan Roh Kudus yang memiliki kemampuan spesifik untuk kemuliaan Nama-Nya dan bermanfaat bagi sesama manusia.

Salam Indonesia Hebat!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s