Hakikat Manusia Dalam Filosofi Salib Kristus 8 Hambatan untuk mencapai hidup yang bermakna (berarti)

Hakekat Manusia Dalam Filosofi Salib Kristus – Hambatan untuk mencapai hidup yang bermakna (berarti)

Kristen Sejati – Salib adalah simbol kekristenan yang mengandung banyak arti. Salah satunya adalah berbicara tentang pengorbanan dan kebenaran itu sendiri. Ini tidak termasuk dalam pengertian teologi sebab kami belum pernah belajar banyak tetangnya. Apa yang kami lakukan disini hanyalah sebuah analis sembarangan yang berpatokan pada pengalaman sehari-hari saja. Semua tulisan diblog ini bukanlah sesuatu yang baru sebab raja Salomo pernah berkata bahwa “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.(Pengkhotbah 1:9b)”. Orang lain dibelahan bumi yang lain mungkin pernah menulis hal yang sama.

Antara kebenaran dan Salib Kristus

Menghubungkan kebenaran dengan Salib Kristus pernah kami ungkapkan sebelumnya. Hakekat kebenaran adalah untuk (1) membawa manusia lebih dekat dengan penciptanya dan (2) membuka hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Jika hal yang di yakini benar maka iman anda tidak pernah jauh-jauh dari kedua hal ini. Artinya kami dapat mengambil kesimpulan bahwa seluruh agama yang berada di jalur yang benar pastilah memiliki gagasan paling mendasar untuk mendekatkan umat dengan Tuhannya dan bagaimana caranya menjalin hubungan yang baik dengan sesama.manusia. Pemahaman yang berbeda untuk mencapai kedua hal ini adalah wujud dari keberagaman kepercayaan di seluruh dunia.

Menghubungkan kebenaran dengan makna kehidupan yang sesungguhnya

Sekarang, mari kembali menghubungkan Salib Kristus dengan kehidupan manusia seutuhnya. Apa tujuan anda berada di sini sekarang? Untuk siapa anda berlelah dalam perjuangan habis-habisan? Bagaimana akhirnya kehidupan anda kelak? Ini hanyalah beberapa pertanyaan sederhan yang mungkin dapat dijawab dengan mudah namun belum tentu dapat direalisasikan senyatanya. Rasa kemanusiaan terus menerus menuntut kita untuk menemukan apa yang sebenarnya dan seharusnya dilakukan sekarang.

Apa yang sebenarnya membuat hidup ini begitu berarti? Dimana keberadaan anda dapat membawa makna yang mendalam untuk Tuhan, bagi diri sendiri, orang terdekat (keluarga), orang yang dikenal maupun dengan orang lain di sekitar. Ingatlah selalu bahwa tidak ada artinya hidup apabila tidak ada peran yang dijalani. Seperti panggung sandiwara dimana setiap orang memiliki peran atau disebut juga profesi yang berbeda-beda yang membuat jalan ceritnya menarik dan semakin lam semakin seru saja.

Hakikat pertama : Memuliakan Allahnya (Bermanfaat bagi Pencipta)

Tugas pertama yang menjadi tujuan utama/ pertama manusia adalah untuk memuliakan Penciptanya. Ini seperti panggilan jiwa sebab Ia telah menitipkan nafasnya dalam setiap hela nafas ini. Meninggikan dan memuliakan Sang Pencipta segala masa adalah sebuah hasrat yang sudah ada secara default. Banyak orang yang sudah mencoba mencari pelarian dari sikap fokus kepada Tuhan. Misalnya memusatkan seluruh kehidupan pada harta benda, uang, jabatan dan hal-hal lain yang beharga di dunia ini namun tidak bertahan lama dan berakhir pada kehampaan.

Kenikmatan duniawi tidak selalu ada dalam hidup ini. Ada saat tertentu yang membuatnya berhenti mengalir lagi, misalnya karena faktor usia. Apakah anda siap saat semua gemerlapan dunia ini tidak dapat lagi menghibur hati? Semua yang anda lihat dengan mata kepala sendiri akan hilang cepat atau lambat. Sedangkan hati anda terus saja mengalami kekosongan/ kehampaan. Oleh karena itu setiap orang butuh sesuatu yang selalu ada dan selalu hadir dalam setiap detik yang ia jalani di dunia ini.

Apakah ada dari antara pembaca yang pernah berkarya? Mungkin itu membuat puisi, carpen, lukisan dan seni rupa lainnya? Mengapa anda berinisiatif untuk menghasilkan karya tersebut? Beberapa seniman berkaya untuk menyenangkan diri sendiri dan sedapat mungkin hasil karya bisa bermanfaat bagi orang lain. Hampir seperti itulah peran Sang Pencipta dalam kehidupan setiap manusia. Ia ingin setiap dari kita mengambil peran untuk memuliakan nama-Nya yang sempurna lewat segala pemikiran, perkataan dan perilaku yang diekspresikan sehari-hari.

Tingkatan iman seseorang

Lewat sikap yang benar maka demikianlah manusia mengambil peran untuk memuliakan penciptanya. Pikiran (level awal), perkataan (level menengah) dan perbuatan (level tertinggi) adalah perwujudan dari iman yang sesungguhnya. Dimana yang menjadi puncaknya adalah tindakan nyata (iman tanpa perbuatan adalah mati – Alkitab). Itulah semuanya ketiga level iman seorang manusia. Pertanyaannya sekarang adalah, “anda berada di level yang mana?”. Masing-masing dari kita memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan imannya. Saran kami adalah konsisten melakukannya sampai akhirnya kemurahan hati Tuhan dinyatakan dalam hidupmu.

Hakekat terakhir : Membawa manfaat bagi sesama

Seandainya anda hidup sendiri, terasing di pulau terpencil maka anda tidak perlu mengambil peran dalam kehidupan orang sebab tidak ada siapapun disana. Saat anda memutuskan untuk hidup bermasyarakat maka saat itulah peran anda ditentukan.  Setiap dari kita dapat membawa pengaruh bagi kehidupan orang lain. Hal itu dapat berujung pada kebaikan atau sebaliknya keburukan. Semua ini tergantung dari pilihan yang dibuat oleh masing-masing orang. Sebab apapun yang anda lakukan di dunia ini sudah otomatis berpengaruh bagi orang lain. Jangankan perilaku, beberapa patah kata sajapun dapat mempengaruhi orang lain, mungkin anda sahaja yang belum menyadarinya. Terlebih saat mengekspresikan perilaku yang nyata.

Mustahil ada seseorang yang tidak memiliki peran sebab setiap dari kita hidup berdampingan dengan orang lain (bersosial). Bahkan seorang anak kecilpun apabila sudah diajari untuk membantu pekerjaan orang tua dirumah maka saat itulah ia memiliki peran bagi keluarga. Sebuah profesi tidak dapat dinilai dari besar kecilnya sebab bisa saja setiap orang mengerjakan hal yang berbeda tergantung dari kemampuan masing-masing. Apa yang dilakukan lebih bernilai jika mengandung keikhlasan didalamnya. Sebab motivasi yang salah dapat membuatnya berakhir bias.

Hambatan untuk meraih hidup yang lebih bermakna (berarti)

Satu-satunya hal yang dapat membatasi atau malah menyemangati adalah pikiran sendiri. Sebagai pusat kendali kehidupan maka otak menetapkan sebuah tujuan dari serangkaian hal yang akan maupun yang telah dilakukan. Motivasi inilah yang sering menjadi penghambat untuk mencapai hidup yang bermakna itu. Tujuan yang tidak tepat akan membawamu pada penyimpangan cepat atau lambat. Belum lagi jikalau apa yang diidam-idamkan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Oleh karena itu pastikan niat hati anda tulus sepanjang waktu sehingga tidak tersandung saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pikiran yang terlalu jauh ke depan saat melakukan sesuatu adalah hambatan yang sifatnya laten dan tidak disadari oleh banyak orang. Kami mengakui bahwa hal ini tidak begitu menimbulkan masalah di awal-awal. Namun lama kelamaan dampaknya semakin nyata dan kentara. Intinya adalah “tertekan oleh hawa nafsu/ keinginan/ hasrat sendiri sehingga manfaat yang keluar berkurang, meredup bahkan hilang sama sekali”. Berikut ini beberapa faktor yang menghambat hakekat kemanusiaan itu sendiri.

Arah manfaat yang diberikan seseorang

Secara sifat

  1. Ego yang tinggi.

    Seseorang yang egois akan sulit untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan bagi Tuhannya.

  2. Iri hati yang tidak terkendali.

    Mereka yang lebih senang membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain akan jatuh dalam jebakan rasa terpuruk dan marah terhadap diri sendiri. Disaat keadaan ini tidak diterima apa adanya niscaya orang lain disekitar bahkan yang lewatpun akan memahitkan hati sendiri. Padahal mereka tidak ada ganggu/ mengusik anda. Rasa ini akan membuat hubungan anda dengan orang lain retak bahkan jauh-jauhan sama sekali.

  3. Rasa sombong dalam hati.

    Kesombongan adalah suatu cara menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Keadaan ini cenderung membuat manfaat yang anda salurkan (baik kepada Tuhan maupun kepada sesama) tidak berterima sama sekali (ditolak). Banyak orang yang akan berpikir dua kali untuk menerima pemberian yang disampaikan dengan tinggi hati.

    Secara tujuan

  4. Ingin dapat banyak uang (gaji tinggi).

    Seperti yang telah kami katakan sebelumnya bahwa ketidaktulusan membuat bakat untuk membantu orang lain menjadi hambar. Sebab tidak selamanya uang dan bakat itu selalu ada.

  5. Ingin dipuji oleh orang lain.

    Karya yang anda hasilkan membawa manfaat yang besar sehingga anda menuai  pujian. Tapi pada akhirnya anda terlena dan menciptakan semacam rasa sombong yang meluap dari dalam hati. Inilah yang akan menuntunmu kepada kematian rasa sehingga tidak mampu lagi memberi manfaat.

  6. Ingin dihormati/ dihargai oleh sesama.

    Bila kita tidak ikhlas melakukan sesuatu maka Yang Diataspun tidak sudi lagi memberikannya untuk dipakai dalam kehidupan. Yang seharusnya terjadi adalah biarkan itu datang sendiri kalau memang ada tetap kalau tidak maka jangan memaksanya. Apabila semangat redup karena tidak ada lagi yang mau menghargai atau karena inkonsistensi manusia (yang satu menghargai. yang lain tidak / sekarang dihargai, besok tidak) niscaya talenta anda tidak lagi membawa makna/ arti bagi siapapun.

  7. Ingin tenar dan populer.

    Kepopuleran adalah sebuah batu sandungan untuk menjatuhkan potensi yang anda miliki. Popularitas seperti lubang hitam yang membuat tenggelam dan lupa diri hingga potensi andapun lenyap sama sekali.

  8. Ingin menjadi orang yang kaya raya.

    Melakukan sesuatu dengan alasan ingin menjadi miliader sudah tidak zamannya lagi. Keinginan seperti ini justru akan menjebak anda untuk melakukan praktek-praktek kotor yang manipulatif dan berujung pada konspirasi besar. Lagipula zaman sekarang untuk apa memiliki banyak uang? Karena uang beresiko menghancurkan hidup anda, sesama manusia, lingkungan hidup bahkan mempercepat kiamat pula.

Kesimpulan

Melakukan kebaikan demi uang, pujian, harga diri, kehormatan atau yang lainnya sangat tidak mendatangkan kenyamanan. Justru ini akan membuat anda semakin ketergantungan dengan hal-hal duniawi tersebut. Maka disinilah titik balik kehidupan itu, yakni saat kenikmatan duniawi itu mulai berkurang, “Apakah anda siap?“. Atau jangan-jangan anda menggila lalu dengan sengaja mencari-cari sensasi yang agak menyimpang untuk memuaskan diri sendiri.

Gagasan ini sama dengan tulisan kami sebelumnya yang menyatakan untuk tidak fokus terhadap berkat, muzizat dan kelimpahan dalam menjalani hidup. Marilah fokus untuk melakukan kebaikan terlebih dahulu kepada kaum keluarga sendiri setelah itu kepada mereka yang disekitar anda. Jangan biarkan anda onani otak/ merasa senang sendiri karena memikirkan berkat, muzizat dan kelimpahan dimasa depan. Memang bekerja sambil berkhayal/ ngeyel pada awalnya membuat hati senang. Akan tetapi setelah itu mudah patah semangat dan kecewa karena situasi dan kondisi yang tidak dapat ditebak.

Pada hakekatnya saat kita memberi manfaat kiranya hal itu dilakukan satu arah sehingga Tuhanlah yang akan membalaskannya untukmu dengan tidak putus-putusnya talenta itu. Akan tetapi saat anda menerima balasan yang setimpal dari peran yang dilakukan niscaya Yang Diataspun tidak lagi memberkati toh anda telah menerima upah yang pantas..

Salam manfaat satu arah bukan bolak-balik!

Iklan

5 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s