Keadilan Negara Membagi Kesejahteraan – Menggaji semua orang sambil berdagang – Nasionalisasi perusahaan vital

Negara harus adil membagi kue kesejahteraan sebagai sistem yang berputar

Bulan nevember tinggal beberapa hari lagi. Waktu satu tahun begitu cepat berlalu. Kedepan, Natal akan segera tiba, tinggal beberapa minggu lagi. Sesaat kami ingat beberapa festival yang di adakan dihari itu. Salah satunya adalah liturgi profesi dimana kegiatan ini berupa drama yang menunjukkan komentar seseorang terhadap profesinya. Ini acara yang sangat menarik, terkadang memecahkan tawa jemaat yang hadir di Gereja. Kami bisa merasakan bahwa semuanya itu hanyalah drama yang “sedikit lebay” untuk menambah keseruan dimalam yang indah itu.

Belajar dari liturgi profesi saat natal

Belakangan ini, kami terus berpikir-pikir tentang fenomena profesi yang berbeda-beda di negeri kita, Indonesia. Bagaimana profesi tertentu begitu diagung-agungkan padahal dia hanyalah manusia biasa. Coba amati betapa pintarnya kelompok tertentu mengais rejeki dari penderitaan orang lain. Bagaimana negara membayar orang-orang yang berseragam sangat tinggi lalu disisi lain orang-orang tertentu tidak dianggap bahkan tidak diperhatikan sama sekali oleh pemerintah. Apa yang terjadi dengan negara ini? Profesi yang satu begitu dipupuk langsung oleh dana APBN sedangkan profesi yang lain dibiarkan bertahan sendiri bahkan hampir mati terkulai karena ulah para tengkulak/ distributor/ pedangang yang menjalankan konspirasi sempit terhadap mereka yang tidak tau apa-apa.

Menurut anda, lebih penting mana petani, nelayan, dokter, polisi, seniman, tukang parkir, tokoh agama dan masih banyak lagi macam peran di negeri ini?  Atau katakanlah dapatkan nelayan ditiadakan dari Indonesia? Atau dapatkah petani dihapuskan dari ibu pertiwi? Mungkinkah polisi dihapuskan dari tengah-tengah kita? Atau dapatkah dokter dihilangkan dari negeri ini? Kami tegaskan bahwa : INI TIDAK DAPAT DITERIMA OLEH AKAL SEHAT!. Mustahil Indonesia dapat berdiri kokoh tanpa peran dan kerja sama dari semua kalangan.

Fenomena yang memilukan saat pembagian kue kesejahteraan

Negara harus adil membagi kue kesejahteraan kepada semua kalangan. Janganlah sampai kalangan tertentu saja yang makmur sedangkan kalangan lainnya terabaikan bahkan melarat karena hidupnya pas-pasan. Lihatlah, orang-orang tertentu berjalan dengan angkuh dihadapan orang lain sebab APBN menggelontorkan jutaan rupiah bahkan puluhan juta rupiah ke kantongnya setiap bulan. Sedangkan orang-orang disini berjalan sambil ngesot karena hidupnya melarat dan jadi peminta-minta di jalanan. Itukah yang namanya keadilan?

Jangan salahkan rakyat, jika mereka ngutil sana-sini.

Tidak perlu heran apabila ada orang yang profesinya menyimpang.

Jangan terkejut, apabila ada orang yang rela merampok ini itu.

Saatnya bersedih hati, sebab orang lain menjual dirinya untuk sesuap nasi.

Tidak usah mengeluh karena ribuan bahkan jutaan orang beramai-ramai untuk jadi PNS.

Saatnya mengelus dada, karena petani menjual lahan pertaniannya agar anaknya jadi Polisi.

Jangan bersusah hati, karena ikan mahal dipasaran sebab banyak nelayan beralih profesi menjadi penambang emas dan karyawan swasta.

Berhentilah tercengang, karena mereka yang pintar-pintar menjalankan konspirasi untuk mengais rejeki.

Bagaimana perasaan anda yang duduk nyaman di Jakarta sana sedangkan banyak rakyat yang mati-matian mencari uang tapi masih tetap tidak dapat apa-apa?

Semua adegan kejar-kejaran dan persaingan ini tidak akan pernah berakhir sebab negara sudah lebih dahulu melakukan aksi dan memancing peristiwa yang seperti ini. Seperti kata pepatah, “Dimana ada aksi maka disitu ada reaksi”. Negara memancing rakyatnya sendiri untuk “saling berhadapan sebagai lawan” karena tidak adil membagi uang yang dikenal dengan APBN. Tidak ada rasa kebersamaan, masing-masing orang menempuh jalan sendiri agar pundi-pundi rupiah semakin banyak di rumahnya. Jika ini terus berlanjut maka semua orang akan berlomba-lomba (bahkan dengan menghalalkan segala cara) menduduki posisi tertentu yang notabene dibayar dengan gaji tinggi.

Begitulah sifat dasar manusia. Ia ingin sejahtera, kami ingin sejahtera, anda juga ingin sejahtera. Kita ingin kehidupan orang-orang yang kita kenal sejahtera. Bahkan kita ingin anak-anak kita kelah lebih makmur dari hidup kita yang sekarang. Seluruh rakyat Indonesia “bagaikan anak yang menyusui” kepada satu orang tua yakni ibu pertiwi, Indonesia tanah air kita. Lalu mengapa “air tetek ibu pertiwi” itu tidak dirasakan sama oleh seluruh rakyat? Mengapa hanya orang-orang tertentu saja yang hidupnya makmur di rumah-rumah yang megah dan mewah sedangkan yang lain menggigil kedinginan di dalam gubuk kecil di desa-desa? Padahal setiap dari kita membawa peran penting untuk kemajuan bangsa ini.

Dimanakah rasa keadilan itu

Profesi yang satu diperhatikan tapi jangan juga profesi yang lain diabaikan. Profesi ini digaji kecil sedangkan profesi itu digaji besar. Bawahan digaji kecil sedangkan atasan digaji tinggi. Itukah yang namanya keadilan? Beberapa alasan yang kami dengan mengapa perlu perbedaan gaji.

  1. Pekerjaan ini kami dapat lewat jenjang pendidikan tinggi sedangakan mereka mengerjakan tugasnya tanpa mengenyam pendidikan terlebih dahulu. Menurut kami itu sudah sangat adil sebab orang yang berpendidikan pekerjaannya ringan sedangkan yang belum berpendidikan pekerjaannya berat. Jadi mengapa gajinya harus beda?
  2. Jabatan ini didapatkan lewat perjuangan bertahun-tahun sedangkan mereka hanyalah pegawai baru. Menurut kami ini sudah sangat adil sebab pegawai itu pekerjaannya lebih berat sedangkan pejabat tinggi biasanya lebih banyak bersantai dan jalan-jalan ke luar daerah. Jadi mengapa mereka dibayar dengan nilai uang yang berbeda?
  3. Oh… Para pejabat harus digaji tinggi biar mereka tidak korupsi. Ini adalah alasan yang sangat nyeleneh. Sebab saat ini ditengah era keterbukaan informasi dan transparasi anggaran semuanya dapat ditelaah dengan teliti. Anggaran dan pembukuaannya dibuka saja secara online agar diketahui oleh publik sehingga tidak ada lagi yang berani macam-macam.
  4. Kami mau jujur, makan tiap hari artinya butuh hasil pangan dari para petani setiap hari. Sedangkan kami sendiri tidak pernah berobat ke rumah sakit selama beberapa tahun ini. Adilkah bila gaji petani lebih rendah daripada gaji dokter?
  5. Nelayan berjuang mati-matian di laut bahkan mempertaruhkan nyawanya sedangkan pejabat duduk setiap hari disofa yang empuk sambil tiduran pulak. Dimana keadilannya, jika kedua profesi ini digaji dengan jumlah yang berbeda jauh.

Tidak ada damai sebelum ada pembagian yang merata

Sebelum kue kesejahteraan dibagi rata kepada semua pihak maka Indonesia masih akan terus bergejolak. Selagi negara tidak memberi pekerjaan dan menggaji setiap warganya maka selama itu pulalah tertanam sifat memberontak alias makar di hati rakyat. Selama negara hanya mengenyangkan pihak-pihak tertentu sedangkan yang lainnya mengalami kelaparan bahkan busung lapar maka selama itu pula setiap pemimpin negeri tidak akan tenang hatinya. Selagi masih ada rakyat yang kehidupannya dibiarkan terlantar di luar sana maka selama itu pulalah bibit-bibit teroris tumbuh subur. Selama masih ada rakyat jelata yang kehidupannya miskin maka selama itu pulalah petinggi negara tidak memiliki wibawa di negaranya sendiri terlebih lagi dinegara lain.

Ditangan pribadi uang beresiko merusak

Lihatlah apa jadinya orang-orang yang memiliki banyak uang di negara ini. Bukankah mereka yang membiayai berbagai aksi perlawanan/ pemberontakan terhadap ibu pertiwi? Lihatlah uang mereka yang banyak itu digunakan untuk menindas orang tertentu yang tidak disukainya. Perhatikanlah bahwa setiap orang yang memiliki banyak uang, ia dan anak-anaknya berlaku semena-mena terhadap rakyat. Amatilah dengan seksama orang yang menyimpan banyak uang memanipulasi hukum bahkan menyeretnya untuk kepentingan pribadi. Cermatilah lagi bahwa mereka yang memiliki banyak uang rame-rame melakukan tindakan menyimpang, ia sendiri, anak-anaknya, keluarga dan seluruh kerabatnya. Uang yang terlalu banyak dikantong adalah alat pengacau yang masif dinegeri ini.

Selengkapnya, Bahaya yang ditimbulkan uang

Harus ditemukan sistem yang berputar sehingga negara tidak rugi terus

 

Negara adalah sistem yang berputar untuk membagi kemakmuran

Pemerintah adalah pedagang di negarannya sendiri. Setiap objek vital yang berhubungan langsung dengan hasil bumi harus dikuasai oleh negara kecuali pelaku ekonomi kreatif. Kemampuan utama dari pemerintah adalah memutar uang sehingga rupiah yang ia berikan kepada para pegawainya akan kembali semua kedalam kas negara atau setidaknya 2/3-nya akan dikembalikan oleh rakyat.

INI BARU ADIL

Semua profesi berhak digaji oleh negara (APBN minus)

Semua hasil bumi akan ditampung & dikelola oleh negara

Negara akan menjadi pedagang yang menjual balik itu kepada rakyat

Semua profesi wajib membeli kepada negara (APBN plus)

Sehingga tidak ada uang negara yang lari ke swasta sebab apa yang ia bayarkan kepada rakyat akan kembali dibelanjakan oleh rakyat sehingga kembali lagi kedalam kas negara

Proses ini akan berputar-putar terus dan berlangsung secara seimbang bahkan menyisakan untung bagi negara

Untung yang dihasilkan akan dibagikan pula kepada seluruh rakyat

Jika memang tidak cukup semua maka dibagikan secara bertahap dari tahun ke tahun sampai semuanya merasakan keuntungan tersebut

Meminimalisir kerugian : nasionalisasi perusahaan vital

Ceritanya sekarang adalah untuk meminimalisir masuknya uang negara kepada pihak swasta maka objek vital yang banyak digandrungi oleh masyarakat luas akan diakuisisi oleh negara. Sehingga Indonesia tidak perlu meminjam uang ke bank dunia setiap tahun. Istilah yang sering digunakan oleh para investor adalah pembagian saham atau nasionalisasi perusahaan swasta/ asing. Sadarilah bahwa jika pihak swasta terlalu banyak menguasai sumber daya (uang) maka orang-orang ini dapat beresiko menimbulkan kekacauan dengan membayar orang tertentu untuk menimbulkan huru-hara dimana-mana. Lebih baik negara Indonesia kaya raya daripada kantong pribadi hidup bermewah-mewahan. Bila negara kita kaya maka mau berapa turunanpun anak-cucu kita akan makmur dimasa depan.

Mengatasi kebobrokan moral

Masalah yang kemudian muncul adalah bagaimana dengan tingkat pengangguran? Pada dasarnya anak-anak harus diajari untuk memiliki moralitas dan daya tahan yang lebih kuat juga sabar di bangku sekolah. Sekolah bukan saja untuk membentuk otak melainkan juga merupakan lembaga pendidikan dan sekaligus sebagi tempat melakukan simulasi sosial untuk membina mental anak. Mereka harus dibina untuk lebih sabar, bertanggung jawab, bekerja sama (gotong royong), tekun dan bekerja keras. Seorang anak baru dapat menjadi tanggung jawab negara untuk memberinya pekerjaan yakni pada usia 25 tahun. Sebelum usia tersebut ia harus belajar lebih sabar.

Meniadakan pengangguran

Untuk meminimalisir pengangguran lebih baik untuk mengurangi penggunaan mesin. Pemanfaatan tenaga manusia pada hal-hal yang dapat dilakukan oleh manusia. Penghematan anggaran dinomor duakan sebab orang yang bekerja lebih penting daripada uang. Pengangguran juga akan menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan sosial bermasyarakat. Salah satu bidang yang sangat banyak menyerap tenaga kerja adalah profesi seni & hiburan. Seperti dalam pembuatan film, drama musikal, opera dan lain sebagainya yang banyak menyerap tenaga manusia/ tenaga kerja bukan yang bersifat perorangan (solo).

Ada sistem peringkat pada semua profesi di masing-masing wilayah

Masalahnya sekarang adalah kalau semua orang dibayar sama  dimana keseruaanya hidup ini? Ya keseruaannya disitu tadi seperti yang kami bilang pada tulisan kami yang sebelumnya juga dimana setiap profesi memiliki para pemimpin (semacam pemimpin perusahaan). Dimana para pemimpin ini pekerjaannya lebih ringan dan sering jalan ke luar daerah (untuk pelatihan). Keuntungan para pejabat hanya itu saja sedangkan gajinya tetap sama. Pemimpin dipilih dari antara orang-orang yang sudah memiliki pengalaman kerja yang tinggi dengan cara demokrasi yang diundi dan berputar sempurna. Ada jangka waktu seseorang untuk memimpin (1 atau 2 tahun saja) sehingga setiap orang yang sudah lama bekerja memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki kursi kepemimpinan.

Sistem yang seperti ini juga akan membuat orang betah berlama-lama pada profesinya bahkan sampai karatan anak-cucunyapun menekuni profesi yang sama. Tidak ada lagi anak petani yang berusaha untuk jadi PNS atau anak nelayan yang berusaha keras jadi Polisi melainkan semuanya bertekun pada profesinya. Toh juga kalau dia pindah profesi gaji dan kesejahteraan yang dirasakan sama. Sehingga semua orang juga tidak lagi iri hati kepada sesamanya, sekalipun ada tapi minim sebab toh gajinya sama kan…. Sistem yang sempurna akan menghasilkan orang-orang yang hebat, inovatif dan kreatif dibidangnya.

Ketergantungan terhadap bank dunia diminimalisir

Tidak mudah untuk membuat sistem seperti ini terlebih lagi banyak objek vital dinegeri ini yang dikuasai oleh pihak swasta. Nasionalisasi tidak pernah berjalan dengan mulus tapi dapat dimulai dengan mengeluarkan undang-undang agar mereka menjual sahamnya secara bertahap. Objek vital ini dikuasia karena merupakan pundi-pundi uang rakyat sehingga negara tetap memiliki uang untuk dibagikan kembali kepada rakyat dalam bentuk gaji. Hal seperti ini juga akan membuat Indonesia bebas dari rentenir sekelas bank dunia dan antek-anteknya.

Pada akhirnya uang mendatangkan kesejahteraan bersama

Apabila semua komponen bangsa disejahterakan oleh pemerintah maka masing-masing orang akan berdiri atas nama Indonesia untuk membela negara ini dari berbagai ancaman, hambatan dan tantangan yang datangnya dari dalam maupun dari luar. Tidak ada lagi orang yang merelakan diri untuk melakukan aksi bom bunuh diri sebab selama ini ia disusui oleh ibu pertiwi. Bahkan kami bisa mengatakan bahwa segenap rakyat Indonesia siap mengangkat senjata (wajib militer) untuk membela negaranya. Sebab kecenderungan manusia : “Mereka mengikuti dengan setia majikan yang membuatnya mengecap kemakmuran“.

Uang bisa mendatangkan bencana dan bisa juga membawa kesejahteraan bagi semua orang. Semuanya itu tergantung dari cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengelolanya. Lebih baik uang bertumpuk di tangan pemerintah daripada bertumpuk di tangan seseorang yang bersifat pribadi. Sebab sulit untuk mengetahui keinginan hati manusia, sedang manusia itu sendiri penuh dengan hawa nafsu. Lebih aman menumpuk rupiah di kas pemerintah dimana seluruh rakyat mengetahui hal ini sebab semuanya dibuka dan dilaporkan secara online & transparan tanpa ada yang terselip sedikitpun.

Salam Indonesia yang sejahtera!

Iklan

4 comments

  1. […] Kue kesejahteraan kalau dimakan sendiri bisa buat keselek/ tersendak. Mulailah membagikannya dengan membelanjakan beberapa rupiah ke pos-pos yang pantas. Menghabiskan beberapa sumber daya kepada UKM demi kemajuan bersama. Jadi jangan terlalu pelit, belanjakanlah sebagian dan nikmatilah hidup ini apa adanya ! Baca juga, Negara adil menggaji sama semua profesi […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s