7 Fenomena & Tanggung Jawab Terhadap Uang – Cara agar yang kaya tidak tambah kaya (serakah) dan yang miskin tidak tambah susah (melarat)

Fenomena dan tanggung jawab manusia terhadap uang

Uang selalu bisa memberikan dampak ganda. Merupakan alat tukar yang sah secara nasional dapat memberi dampak baik namun dapat pula mendatangkan dampak buruk. Orang lain menyebutnya sebagai buah simalakama atau bisa juga merupakan pedang bermata dua. Kemampuannya untuk membeli sesuatu yang baik dengan menukarkannya pada nilai tertentu sama dengan kemampuannya untuk membeli kejahatan dengan menukarkannya pada harga tertentu. Ia adalah sumber potensial bencana yang sesungguhnya.

Ditangan yang salah uang bisa menjadi apa saja sebab kertas ajaib ini tidak sama sekali tidak memiliki otak. Pelaku ekonomi harus jujur bahwa mereka rasanya tidak senang dengan seseorang yang hanya bisa mencari lalu menyimpan uangnya. Mereka lebih senang dengan orang yang giat mencari namun giat pula membelanjakannya. Konsumen yang boros lebih diminati daripada seseorang yang hidupnya berhemat.

Fenomena keberadaan uang ditengah masyarakat

Dapatkah uang disamakan nilainya dengan kebahagiaan? Lebih tepatnya dapatkah itu memberikan kebahagiaan? Menurut kami mungkin saja bisa. Ada saatnya dimana beberapa rupiah itu dapat membawa senyum dari bibir seseorang. Masalahnya terletak pada kemampuan masing-masing untuk menghasilkan rupiah. Kertas ajaib ini hanya dihasilkan sekali dalam sebulan. Memang beberapa jenis usaha juga menghasilkannya setiap hari misalnya yang bergerak dalam bidang perdagangan. Tapi tetap saja itu terbatas. Masalahnya adalah apabila hati hanya bahagia saat kantong penuh yang artinya bahagianya itu hanyalah selama beberapa hari saja. Setelah jumlahnya menipis atau setelah keadaannya hanya cukup-cukup makan dalam artian tidak mampu lagi membeli beberapa kesenagan berbelanja misalnya fashion & barang mewah maka bahagianyapun turut meredup. Menggantungkan kebahagiaan pada kertas adalah fana. Temukan kebahagiaan lain dalam kebenarang teman.

Baca juga, perbedaan & persamaan antara uang dan kebenaran

Apakah segala sesuatu dapat dinilai dengan kertas? Atau istilah kerennya dapatkah semua hal ditukar/ digantikan dengan uang? Namanya juga alat tukar yang sah yang artinya hampir semua barang dapat di barter dengan mengedepankan kertas. Harus diakui bahwa ada beberapa barang yang tidak dapat dinilai dengan rupiah. Jika demikian, terlebih lagi dengan moralitas dan atittitude yang tidak bisa terbeli. Kesetiaan, kejujuran, ramah tamah, kesopanan, kesantunan dan kebaikan hati bahkan masih banyak lagi nilai-nilai moral yang tidak terbeli. Apabila anda memiliki moralitas dan attitude yajg baik maka hal itu sama artinya dengan memiliki sesuatu yang lebih berharga dari uang.

Tidak semua yang diinginkan dapat diperoleh dengan rupiah. Ada hal-hal tertentu di dunia ini yang harus diraih lewat proses perjuangan. Salah satu diantaranya adalah proses belajar dibangku sekolah/ kuliah. Sebesar apapun sumber daya yang anda miliki, tidak dapat dibandingkan dengan kehadiran anda “duduk bangku” untuk mengikuti proses belajar-mengajar disana. Demikian halnya juga saat anda mengikuti pertandingan/ kejuaraan/ olimpiade tertentu dimana semuanya itu harus dilalui dengan kerja keras dan ketekunan. Begitu juga dengan kesabaran, anda tidak dapat membelinya kecuali dengan belajar sendiri dengan mulai bersabar dalam hal-hal kecil dan melewati tekanan kehidupan tanpa amarah yang berdampak buruk.

Anda juga tidak mungkin menilai kepala manusia seharga kertas. Hanya orang yang bodoh saja yang mahu dibayar dengan rupiah untuk mengubah prinsipnya terhadap sesuatu. Semakin cerdas manusia maka semakin tidak dapat dibeli (disogok) akan tetapi semakin bodoh seseorang maka beberapa rupiah saja dapat mengubah pendiriaannya dalam hitungan detik. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk membebaskan negeri ini dari politik uang dalam segala bidang yakni dengan mencerdaskan setiap insan yang ada di dalamnya.

Terlalu banyak uang murni tidak sehat. Ibarat kata orang yang terlalu banyak makan niscaya cepat atau lambat penyakit metabolis akan menyerang dari dalam. Terlalu bergantung kepada rupiah dalam segala sesuatu jelas tidak baik. Menggunakannya untuk memanjakan diri tidak selalu berdampak positif. Alangkah lebih baik bagi anda untuk membatasinya sebab ekploitasi yang berlebihan dengan bantuan rupiah terkadang mendatangkan bencana. Misalnya pembukaan lahan dan penebangan pohon untuk daerah pemukiman akan mengurangi areal resapan air sehingga berpotensi menyebabkan banjir dan tanah longsor. Pembangunan hunian mewah/ villa di daerah perbukitan akan menyebabkan banjir di tempat yang lebih rendah. Singkatnya, pemakaian uang yang tidak dibatasi dapat merusak lingkungan. Selengkapnya, Dampak negatif yang disebabkan oleh uang

Tanggung jawab manusia terhadap uang

Setiap user yang memegang uang harus disertai dengan tanggung jawab yang penuh. Sekali lagi kami mau tegaskan bahwa uang tidak punya otak dan nilai moralnya tidak ada. User-lah yang menentukan baik-buruknya jalan yang akan dibuka oleh kertas tersebut. Bila segala sesuatu diperoleh dan dijalankan dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab niscaya keberlangsungannyapun akan mendatangkan kebaikan. Berikut beberapa tanggung jawab manusia yang memegang rupiah di tangannya.

  1. Bertanggung jawab kepada Tuhan.

    Benarkah nilai rupiah yang anda pegang dapat dipertanggung jawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa? Apakah semuanya itu sudah diperoleh dengan cara-cara yang jujur? Sudahkah itu memperhatikan kaidah-kaidah yang diatur dalam standar kehidupan (Kitab Suci) yang diyakini? Jangan sisihkan Tuhan hanya demi setumpuk kertas yang fana.

  2. Tanggung jawab terhadap lembaga tertentu.

    Setiap dari kita ikut dalam organisasi tertentu termasuk organisasi keagamaan. Dalam lembaga inilah ada dukungan moral yang dapat diperoleh. Oleh karena itu menuntaskan tanggung jawab terhadap organisasi adalah sebuah itikad baik dalam hidup bersosial kemasyarakatan. Sebab setiap lembaga memiliki filosofi sendiri yang diyakini oleh semua anggotanya.

  3. Bertanggung jawab terhadap negara.

    Apakah rupiah yang anda miliki diperoleh sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku luas di masyarakat? Sudahkah memenuhi tanggungan pajak yang dibebankan kepada anda? Ingatlah bahwa warga negara yang baik selalu taat membayar pajak. Bay the way kami sendiri belum pernah mengurus pajak karena penghasilan berada di bawah 60 jutaan pertahun tapi setidaknya kami turut membayarkan ppn saat membeli sesuatu.

  4. Tanggung jawab kepada diri sendiri.

    Sudahkah anda memenuhi kebutuhan pribadi lewat uang yang dimiliki? Hemat boleh tapi pelit terhadap diri sendiri dapat membuat anda jatuh sakit & stres. Gunakan rupiah apa adanya untuk keperluan sehari-hari termasuk untuk sesekali menikmati hidup. Ingatlah bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh kertas melainkan dengan memperkatakan dan melakukan kebenaranpun anda telah berbahagia.

  5. Bertanggung jawab terhadap keluarga.

    Keluarga adalah orang pertama yang perlu dibahagiakan setelah diri sendiri. Bahkan beberapa orang rela mengorbankan kesenangannya demi kebahagiaan keluarga. Anda bisa menjadi/ menunjukkan manfaat kepada orang terdekat lewat uang yang dimiliki. Akan tetapi ini bukanlah segalanya. Melainkan hubungan yang dekat, loyalitas, keterbukaan, saling menghargai dan rasa saling memiliki lebih penting/ lebih tinggi nilainya daripada selembar kertas.

  6. Tanggung jawab terhadap sesama.

    Sudahkah uang yang diperoleh disedekahkan sebagian kepada sesama? Atau jangan-jangan itu hanya dimanfaatkan untuk diri sendiri. Bersedekah tidak harus kepada orang yang meminta-minta melainkan dengan membeli sesuatu kepada pedagang kecil juga termasuk usaha bagi-bagi rejeki.

  7. Bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Apakah pemanfaatan rupiah yang anda lakukan tetap memperhatikan keberlangsungan lingkungan hayati yang hijau? Sekali lagi kami katakan bahwa pemanfaatan uang secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan sehingga merugikan masyarakat banyak. Sampah dan limbah industri yang berserakan adalah wujud dari kemakmuran yang tidak bertanggung jawab. Jangan biarkan keinginan anda untuk hidup mewah menyebabkan pencemaran lingkungan.

Cara agar yang kaya tidak tambah kaya (serakah) dan yang miskin tidak tambah susah (melarat)

Mengapa profesi tertentu dihargai dengan uang yang tinggi dibandingkan profesi lain? Ini adalah sebuah hierarki yang tidak dapat dijelaskan oleh apapun juga. Misalnya saja/ contoh dekatnya adalah mengapa petani dibayar dengan harga yang murah dibandingkan dengan dokter yang bekerja di rumah sakit? Padahal hasil tani berupa pangan dibutuhkan sehari-hari sedangkan dokter hanya dibutuhkan sesekali. Bahkan selama beberapa tahun belakangan ini kami tidak pernah memeriksakan kesehatan ke rumah sakit. Ini adalah fenomena yang unik. Apakah ini dikarenakan dokter memiliki hubungan/ koneksi yang baik dengan para pejabat tinggi dibandingkan dengan petani yang mungkin kalah populer.

Satu-satunya yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk mensejahterakan seluruh masyarakat hanyalah dengan berbagi. Sebab uang yang anda miliki bukanlah ditujukan untuk diri sendiri melainkan ditujukan pula agar dimampukan untuk membagikannya kepada sesama. Seperti telah dijabarkan di atas (tanggung jawab terhadap rupiah) maka anda dapat membagikannya ke pos-pos yang tepat.

Kue kesejahteraan kalau dimakan sendiri bisa buat keselek/ tersendak. Mulailah membagikannya dengan membelanjakan beberapa rupiah ke pos-pos yang pantas. Menghabiskan beberapa sumber daya kepada UKM demi kemajuan bersama. Jadi jangan terlalu pelit, belanjakanlah sebagian dan nikmatilah hidup ini apa adanya ! Baca juga, Negara adil menggaji sama semua profesi

Salam santun!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s