Cara Membuat Binatang Buas Tidak Berbisa – Menghilangkan racun dalam tubuh hewan sehingga aman dipelihara di kebun binatang

Cara menghilangkan bisa binatang buas dikebun binatang

Binatang adalah salah satu makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah sendiri untuk melengkapi kehidupan di bumi ini. Perannya dalam rantai makanan sangat besar sehingga ada hubungan saling ketergantungan satu sama lain. Yang satu memakan yang lain dan yang lainnya lagi memakan yang satu demikianlah seterusnya berputar-putar sehingga terjadi keseimbangan alam dimana tidak ada yang jumlahnya bertambah drastis sehingga memunahkan binatang di bawahnya. Kesempurnaan dalam rantai makanan membuat segala sesuatunya berjalan dengan semestinya tanpa ada yang menjadi hama sehingga menimbulkan kerusakan yang besar.

Kehidupan hewan di alam liar sangat sadis dan mengerikan.  Budaya memakan dan dimakan, sifat kanibal yang mematikan teman sendiri dan lain sebagainya adalah sebagai pelajaran bagi manusia. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita betapa manusia berbeda dari ciptaan lainnya. Itulah mengapa saat kita mulai tidak logis sehingga bersikap tidak wajar maka ada baiknya hati ini mengingat kembali kehidupan di alam luas yang liar. Setidaknya ada satu hasrat di dalam diri ini untuk tidak bersikap anarkis (penuh kekerasan) terhadap sesama karena “kita bukan binatang!”.

Inilah yang kami sebut sebagai keseimbangan antara intelektual dan emosional: saat emosional menjadi “jahat dan tidak terkontrol” (kebinatangan) maka intelektual menegaskan bahwa “kita bukan binatang!” Ingat-ingatlah kembali kehidupan binatang yang liar di luar sana sehingga anda kembali waras dan rasa kemanusiawian itupun kembali terpancar disetiap detik yang dilalui. Pengetahuan yang luas akan lingkungan sekitar membuat anda lebih cerdas sehingga lebih manusiawi.

Membahas tentang kehidupan beberapa hewan buas di alam, baik yang mamalia, melata maupun serangga: Bagaimana  ceritanya, mengapa hewan ini memiliki bisa? Darimanakah sumber bisa tersebut? Terus itukan racun lalu mengapa ia sendiri tidak mati oleh toksin tersebut? Ini adalah sebuah teka-teki yang sangat menarik untuk dijawab. Sebab binatang juga makhluk hidup yang sifatnya hanya mampu memanfaatkan senyawa kompleks yang sudah ada, misalnya karbohidrat, lemak dan protein. Binatang jelas saja tidak mampu menyusun senyawa baru dari makanannya. Satu-satunya mahkluk hidup yang dapat menyusun senyawa kompleks lain dari bahan-bahan mineral yang ada hanyalah tumbuhan hijau yang memiliki klorofil.

Tumbuhan hijau mampu mengubah bahan kimia (mineral bumi) menjadi bahan alami yang lebih kompleks sehingga dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup makhluk lainnya. Satu lagi makhluk hidup tersembunyi yang suka menghasilkan senyawa lain dari hasil pemecahan senyawa kompleks yaitu bakteri. Kemampuan kuman yang satu ini untuk menghasilkan sesuatu yang dapat membahayakan hidup makhluk lain termasuk manusia sudah terbukti.

Baca juga, Makhluk hidup terkuat sepanjang masa

Sama seperti kuman yang hidup dalam tubuh orang gila dimana perputarannya sempurna. Maka demikianlah pula perputaran kuman dalam hidup hewan buas. Dalam waktu lama kuman yang terletak dibagian mulutnya menghasilkan zat-zat tertentu. Senyawa tersebut menumpuk pada bagian tertentu sehingga bercampur dengan air liurnya. Inilah yang membuat binatang tersebut berbisa, karena air liurnya telah bercampur dengan senyawa yang disekresikan oleh bakteri. Sedangkan kuman tersebut tidak berbahaya baginya sebab tubuhnya telah menyesuaikan diri dari awal dan mampu bersimbiosis mutualisme dengan binatang dimaksud.

Simbiosis mutualisme antara kuman dengan makhluk hidup tertentu menghasilkan racun yang dapat bermanfaat bagi hewan tersebut untuk mencari dan melumpuhkan mangsanya. Perpaduan/ kerja sama yang telah berlangsung lama antara keduanya membuat binatang ini mampu menyesuaikan diri dengan toxin tersebut. Sehingga hal itu tidak membawa dampak kerusakan yang besar baginya.

Selengkapnya, Proses pembentukan bisa hewan

Pada kenyataannya, toxin tersebut akan membunuhnya juga. Ini terjadi tanpa ia sadari sebab racun yang dihasilkan oleh kuman yang tidak dapat dinetralisir oleh tubuhnya sendiri. Setiap kali ia memperoleh mangsa/ makanan maka toksin tersebut dapat dinetralisir lewat darah yang ia konsumsi dari buruannya. Kita tahu semua, bahwa darah mengandung NaCl dan antioksidan yang tinggi sehingga mampu menetralisir pengaruh senyawa tertentu yang berbahaya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, kegesitannya/ kelincahannya untuk mencari mangsa berkurang. Ini membuat senyawa yang berbahaya itu tidak mengalami netralisasi dalam waktu yang lama. Sehingga toksin tersebut semakin lama semakin merusak. Pada satu titik dimana hewan tersebut tidak dapat lagi menemukan mangsa maka disaat itulah ia keracunan oleh bisanya sendiri sehingga tewas.

Kami dapat mengatakan bahwa setiap makhluk hidup yang mampu bersimbiosis mutualisme dengan kuman menghasilkan bisa pada bagian tertentu dari tubuhnya. Orang gila yang liarpun (hidupnya bebas dan tidak ada yang merawat), seandainya ia ganas dan menggigit niscaya bekas gigitannya yang berbisa itu akan melemahkan syaraf-syaraf anda. Jadi bukanlah mustahil jika orang yang mereka gigit mengalami kejang-kejang, pingsan bahkan kematian. Oleh karena itu penting sekali untuk mendetoksifikasi setiap senyawa yang dipecahkan oleh bakteri dalam tubuh makhluk hidup.

Langkah ini terutama dibutuhkan bagi hewan buas yang hidup di penangkaran alias di kebun binatang. Sehingga, dampak buruk yang terjadi dapat diminimalisir sekalipun terjadi sesuatu yang tidak terduga dimana mamalia/ reptil/ serangga tersebut menyerang petugas atau pengunjung kebun binatang. Melakukan detoksifikasi bisa adalah sebuah terobosan untuk menciptakan areal rekreasi yang aman dan nyaman untuk dikunjungi.

Agar tubuh hewan tidak sampai menghasilkan racun maka perlu dilakukan usaha netralisasi lewat makanan yang dikonsumsi. Seandainya hewan tersebut mengkonsumsi buah dan sayur maka proses detoksifikasi telah dilakukan oleh vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi bagi hewan yang tidak mengkonsumsi buah dan sayur dapat diberikan garam sebagai agent detoksifikasi dalam tubuh makhluk hidup tersebut.

Kemampuan garam untuk menghilangkan racun sudah terbukti keampuhannya. Seseorang yang keracunan disebabkan oleh perubahan tingkat keasaman tubuh. Keadaan ini didukung oleh komponen elektrolit dalam darah yang tidak mampu lagi berfungsi sebagai larutan penyangga yang dapat mempertahankan stabilitas pH. Mengkonsumsi larutan garam isotonik sebagai asupan tambahan adalah pilihan yang baik untuk kembali menyehatkan tubuh dari berbagai macam toksin yang berbahaya.

Demikian pula halnya dengan hewan yang berbisa. Tubuhnya tidak mampu menetralkan toksin yang dihasilkan oleh bakteri sehingga terjadi pembiaran. Tindakan ini telah diantisipasi oleh mekanisme haemostasis dalam tubuh hewan tersebut akan tetapi ketika bisa tersebut mengenai makhluk hidup lain maka tubuhnya akan terkejut sehingga mengalami beberapa gangguan ringan maupun fatal yang berujung pada kematian. Jika dalam makanan binatang ini dibubuhkan/ diberikan garam maka tubuhnya akan menjalani proses auto detoksifikasi sendiri sehingga bisa tersebut menjadi netral. Artinya, setiap gigitan/ sengatan dari hewan tersebut tidak lagi mematikan melainkan hanya efek lukanya saja yang dirasakan.

Baca juga, Cara menyembuhkan penyakit rabies pada hewan dan manusia

Mari berdamai dengan binatang!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s