9 Cara Melakukan Perubahan – 8 Manfaat Mengubah Diri & 8 Akibat Tidak Mampu Menerima Perubahan – Manajemen Perubahan

Cara membawa perubahan - Manajemen perubahan

Perubahan adalah pergeseran makna, nilai, tujuan dan kaidah tertentu yang terjadi dalam kehidupan manusia baik yang bersifat perseorangan maupun dalam kelompok bermasyarakat. Kita terus berubah dari hari ke hari. Bahkan semenjak lahir ke dunia ini sampai sekarang secara fisiologis struktur, jumlah dan fungsi sel tubuh terus bergerak naik. Hingga akhirnya kita sampai pada suatu titik kedewasaan dimana pertumbuhan telah maksimal dan stabil.

Situasi yang buruk mengajak kita untuk berubah

Fakta yang mengawali sebuah perubahan adalah karena adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan yang terjadi. Kita berharap semuanya membaik namun kenyataannya malah bertambah buruk. Situasi inilah yang membuat seseorang berpikir dengan keras, mengoreksi diri, sikap dan keputusan yang telah ditetapkan dan dilakukan sebelumnya. Seseorang juga bisa berubah berkat koreksi (kritik) dari orang lain dan akibat pengamatan sendiri berdasarkan hasil perbandingan dengan suatu standar kehidupan (Kitab Suci dan peraturan perundang-undangan).

Berawal dari perubahan cara pandang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan derasnya arus informasi dari luar, istilahnya kerennya “sekali klik saja maka semua yang diinginkan tampil memukau”. Kita terus berubah seiring dengan perkembangan otak/ kecerdasan yang di dorong oleh (a) masuknya informasi baru (setidaknya ter-update), (b) ilmu pengetahuan, (c) wawasan dan (d) pengalaman seseorang. Segala sesuatu memang diawali dari pergeseran pola pikir berdasarkan pengetahuan dan wawasan yang dimiliki oleh seseorang. Pada hakekatnya muncullah sebuah ide yang mencirikan inovasi yang kreatif dan berbeda dari sebelumnya.

Indonesia dalam lingkaran perubahan nasional

Belakangan ini arus perubahan gencar terjadi di negeri kita Indonesia. Para pemimpin bangsa mengubah kebiasaan lama yang merugikan negara, seperti yang belakangan gencar terjadi yakni “membongkar praktek suap-menyuap”. Dari sini kami dapat mengerti bahwa kehendak untuk berubah dimulai dari diri sendiri, yakni sebatas kemampuan dan wewenang yang telah dipercayakan kepada kita. Jangan di nilai besar-kecilnya sebat setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Melainkan marilah melihat dari niat baik dan ketulusan masing-masing. Perubahan yang sejati adalah pergeseran yang membawa kepada perkembangan dan kemajuan yang dapat dirasakan oleh semua orang. Berikut perbedaannya berdasarkan besarnya pengaruh yang ditimbulkan.

  1. Perubahan parsial. Yang meliputi pergeseran yang bersifat sebagian dari kebiasaan yang telah ada sebelumnya.
  2. Perubahan total. Yang meliputi keseluruhan dari semua kebiasaan/ peraturan yang sudah ada sebelumnya.

Pengorbanan seorang revolusioner

Seharusnya tidak ada kesulitan untuk mengubah yang buruk menjadi baik. Sebab tujuannya memang untuk kemajuan ke arah yang lebih positif. Tapi tidak jarang kita temui bahwa pekerjaan ini membutuhkan pengorbanan. Disinilah banyak yang sering crash dan bertentangan satu sama lain. Tidak ada titik temu antara orang yang memberi ide dengan mereka yang melaksanakannya. Terlebih saat pemberi ide berada di luar struktur yang telah disepakati sebelumnya. Inilah yang membuat beberapa orang menyatakan bahwa “Mudah untuk mengubah diri sendiri akan tetapi sulit rasanya mengubah sistem yang sudah ada“. Beberapa hal yang perlu di ikhlaskan untuk dikorbankan demi sebuah frase “berubah untuk maju”.

  1. Rela ditolak oleh orang lain terutama bagi mereka yang tidak sependapat dengan gagasan yang kita utarakan.
  2. Ikhlas dipermainkan oleh orang lain. Manusia saling menguji, saat menyerukan kepada orang lain untuk berubah secara tidak langsung penampilan kita mencolok. Hal inilah yang menantang orang lain untuk menguji kita.

    Baca juga, Teknik mengatasi ujian hidup sehari-hari

Gagasan revolusi memang mendatangkan rasa sakit bagi kita. Tapi hal itu bukan apa-apa dibandingkan dengan manfaat yang dirasakan oleh orang banyak. Sebab melakukan kebaikan dan menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah makna kehidupan yang sebenarnya.

Dimulai dari mengubah diri baru kemudian mengubah orang lain

Mudah untuk mengubah diri sendiri sebab ruang kendalinya hanya satu yaitu pikiran seorang saja. Seperti yang telah kami katakan sebelumnya bahwa kenyataan yang pahit mendorong seseorang untuk menggali kehidupannya. Mencari serpihan informasi yang salah/ benar dimasa lalu (internal) dan menghubung-hubungkannya dengan fakta yang di alami sekarang. Terlebih lagi ketika ada informasi baru dari luar (eksternal) sehingga wawasan lebih luas dan pengalamannya bertambah. Memanage pikiran sendiri tidak begitu sulit, asal saja ada itikad baik niscaya hal ini dapat terwujud. Akan tetapi, mengatur banyak orang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Logikanya “Bisakah anda seorang diri menggiring tujuh perahu (atau lebih banyak lagi) sekaligus ke tengah samudra”. Bukankah ini pekerjaan yang melelahkan dan menyerap lebih banyak sumber daya.

Tipe orang yang paling sulit diubah

Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap perubahan. Ada yang lama tapi ada pula yang cepat/ segera. Perbedaan ini bergantung dari tingkat kecerdasan, pengertian dan keyakinan masing-masing manusia. Mengubah orang dewasa tidak semudah mengubah seorang anak kecil. Rata-rata orang yang telah memiliki (a) prinsip, (b) berpegang pada standar kehidupannya dan (c) bersikap selektif lebih sulit untuk diubah. Sebab tingkat kesadaran mereka sangat tinggi dan perbandingan yang dilakukan cukup akurat. Satu-satunya yang mengubah orang-orang seperti ini adalah hubungan sebab-akibat. Artinya mereka tidak akan berubah sebelum merasakan rasa sakit akibat dari perbuatannya.

Awal dari gagalnya perubahan

Kesalahan terbesar dalam sebuah perubahan adalah saat kita bersikap memaksa seolah-olah ingin mengendalikan orang lain. Ini adalah pekerjaan yang mustahil sebab kita hanya memiliki dua tangan, dua kaki dan satu mulut untuk melakukannya. Kita harus sadar betul sebagai manusia biasa yang memiliki kelemahan. Kita bukan Tuhan bahkan sekalipun Ia yang Agung dan Hebat itu ingin mengubah ciptaan-Nya,  Ia mau kita melakukannya berdasarkan kesadaran dan pemahaman sendiri bukan karena paksaan.

Tidak mungkin memaksa orang lain untuk berubah sebab ini sama saja dengan membebankan batu seberat 5 Kg kepada anak kecil. Tekanan yang ia alami akan membutnya stress bahkan depresi sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan tindakan untuk mengakhiri hidup atau menyimpang dari norma sosial dalam masyarakat. Kuncinya adalah kesabaran. Tidak perlu terburu-buru, biarkan hal itu mengalir begitu saja sesuai dengan pemahaman setiap orang. Bisa saja idenya disampaikan sekarang namun berubahnya tahun depan. Istilah kerennya adalah biar lambat asalkan selamat.

Satu-satunya hal yang dapat memaksa di dunia ini adalah hukum. Setiap kelompok masyarakat yang hendak hidup lebih baik memiliki sikap sadar hukum yang tinggi. Jadi, jika ingin menerapkan sesuatu yang sifatnya memaksa maka gunakanlah hukum sebagai alat yang keras dengan sanksinya yang tegas terhadap setiap anggota masyarakat tanpa pandang bulu.

Selengkapnya, Hanya hukum yang dapat memaksa manusia

Manajemen perubahan

Prosedur awalnya adalah mengubah pola pikir pada pusat kendali kehidupan dan menghubungkannya dengan fakta sebab-akibat yang menembak keyakinan (standar kehidupan) setiap orang sehingga pemahamannya yang salah berubah. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

  1. Fakta yang salah.
  2. Melakukan rekonsiliasi dengan semu pihak yang terkait demi persamaan persepsi sebab-akibat sehingga menumbangkan pola pikir yang lama.
  3. Menghubungkannya dengan standar kehidupan (baik Kitab Suci maupun Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku) untuk menciptakan mindset yang baru.
  4. Menentukan sikap, tata-cara dan langkah-langkah yang ditempuh untuk memulainya.
  5. Melakukan perubahan itu sendiri dengan cara membawanya pada profesi dan bidang masing-masing.
  6. Menggiatkannya dengan ikhlas dan konsisten.
  7. Mengadakan review dari setiap indikator yang diterapkan.
  8. Kembali menyusun ulang teknik yang akan ditempuh bersama.

Alasan, mengapa seseorang berubah?

Alasan mengapa seseorang mau mengubah diri dengan sukarela ataupun dengan paksaan berhubukan dengan fakta yang ia alami sehari-harinya. Hubungan sebab-akibat adalah faktor penting untuk mengubah mindset seseorang. Terlebih ketika hubungan tersebut tercantum dalam standar kehidupan seseorang. Wujud dari alat perubahan sebab akibat adalah.

  1. Rasa takut dan kuatir. Ketakutan seseorang menjadi salah satu penentu penerimaan seseorang akan ide pergeseran yang hendak di wujudkan.
  2. Hati yang gelisah, tidak tenang dan jauh dari kedamaian. Keadaan yang mendorong seseorang untuk mengoreksi kehidupannya dan mengubah apa saja yang diperlukan untuk hidup yang lebih baik.
  3. Kesakitan – fisik. Penyakit yang dialami seseorang secara tidak langsung mensugestinya dengan keras untuk tidak melakukan lagi perbuatan yang sebelumnya membuat di sakit.
  4. Sakit hati – mental (psikhis). Ketika seseorang merasa sakit hati akibat perilaku sendiri niscaya keadaan ini akan membuatnya piker-pikir dahulu sebelum bertindak.
  5. Menderita kerugian – materi. Seseorang yang dirugikan secara pribadi tidak akan jatuh dalam lobang yang sama.
  6. Mengalami keuntungan – materi. Ini adalah kejadian yang langka. Tanpa disengaja kejadian yang berlangsung di luar rencana akan tetapi malah membawa keuntungan. Ini adalah pengalaman buruk yang membawa yang membuahkan hasil yang baik pula.  Keadaan ini secara tidak langsung menyuruhnya untuk mengubah kebiasaanya yang tidak menguntungkan sebelumnya.
  7. Memperoleh sensasi rasa senang. Sebuah perilaku yang tidak biasa tiba-tiba terjadi anehnya malah membuat senang. Sensasi rasa senang yang tak terduga ini dapat saja mengubah kebiasaan seseorang.

Sasaran perubahan sejati adalah kebenaran

Sasaran perubahan yang pertama adalah keyakinan seseorang. Ini berhubungan erat dengan prinsip manusia seutuhnya. Jika lebih ditelaah lagi maka yang pertama kita ubah adalah ketetapan hati (standar kehidupan) yang ia yakini selama ini. Sadarilah bahwa manusia haus dengan kebenaran. Maka cepat atau lambat ia pasti akan menemukan jalan kepada kebenaran itu. Ini bukan perkara mudah. Merupakan masalah yang sangat komplit sehingga tidak dapat dilakukan sendiri. Sebab mereka yang sangat sulit untuk di ubah adalah orang yang merasa benar.

Katalisator sebuah perubahan

Mengubah seseorang yang salah tidak sulit akan tetapi mengubah mereka yang merasa benar bakalan menguras tenaga dan energi.  Dibutuhkan peran orang lain untuk mendorongnya terutama orang yang dekat dan dipercaya olehnya. Berikut ini penentu cepat tidaknya mengubah orang atau disebut juga sebagai katalisator.

  1. Orang sebagai subjek yang membawa perubahan. Kebanyakan orang yang hendak diubah sangat menilai kehidupan si pembawa ide tersebut. Apakah kata-katanya sesuai dengan perilakunya? Apakah tahan uji?
  2. Kualitas perubahan itu sendiri. Ide yang kreatif tidak selalu baik. Bisa saja itu adalah sebuah penipuan yang berujung pada konspirasi masal. Kualitas ini berhubungan dengan kejujuran, tujuan yang sebenarnya dan itikad baik untuk kepentingan bersama.
  3. Adanya fakta di lapangan yang sesuai dengan hal yang akan diubah. Fakta dilapangan berhubungan dengan faktor sebab-akibat.
  4. Media publikasi. Baik cetak, audio, audio-visual dan online.
  5. Dukungan dari tokoh agama.
  6. Didukung oleh tokoh masyarakat (tokoh adat).
  7. Dorongan dari masyarakat luas.
  8. Pada akhirnya orang akan menimbang & memperhitungkan manfaat yang di peroleh dari semua proses tersebut.

Cara melakukan perubahan

Masing-masing orang memiliki cara tersendiri untuk mengajak orang lain pada sebuah perubahan yang sejati. Teknik yang digunakan oleh seseorang untuk mengubah sebuah sistem dalam organisasi bermasyarakat.

Kampanye iman

  1. Sholat/ Doa. Merupakan senjata pertama-tama untuk mengubah situasi yang sedang berlangsung (pembawa ide dapat berada di dalam maupun di luar organisasi kemasyarakatan). Berdoa merupakan cara yang pertama dan dapat dilakukan oleh semua orang yang percaya dengan adanya Sang Pencipta.
  2. Khotbah. Inilah yang selalu digiatkan oleh tokoh agama.

    Kampanye pribadi

  3. Pidato. Penyampaian gagasan di depan umum untuk mempengaruhi pandangan orang lain.
  4. Teknik perubahan dengan memberi contoh (pembawa pesan dapat berada di luar dan di dalam sistem organisasi).

    Kampanye media

  5. Lewat poster, pamflet, tulisan dan baliho yang diletakkan di jalan-jalan atau di ruang publik yang tersedia (pembawa pesan dapat berasal dari dalam maupu dari luar sistem yang ada).
  6. Pesan terbuka lewat media online (pembawa pesan dapat berada di dalam maupun di luar sistem yang sudah ada sebelumnya).

    Kampanye masal

  7. Debat terbuka melalui forum masyarakat atau melalui media komunikasi, baik cetak, audio, audio visual dan online (pelaku berada di luar objek/ organisasi yang ada).
  8. Demonstrasi di jalanan (pelaku berada di luar objek/ organisasi yang ada).

    Kampanye mengubah haluan

  9. Dengan membuat organisasi yang baru atau sistem yang baru sebagai pesaing dari perkumpulan yang dianggap kurang baik sebelumnya (yang memberikan gagasan merupakan bagian dari kelompok yang sudah ada sebelumnya lalu mengeluarkan diri).Terkadang hal ini bukan ide yang baik sebab membutuhkan banyak sumber daya dan menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Faedah sebuah perubahan

Kehidupan terus bergerak maju ke depan. Tidak perlu terbawa arus melainkan cukup dengan mengikutinya saja sambil berpegang pada standar kehidupan yang dimiliki. Manfaat sebuah pergeseran nilai adalah sebagai berikut.

  1. Mampu menyesuaikan diri dengan situasi. Sehingga mudah berbaur dengan orang banyak sekalipun dalam tekanan.
  2. Membawa damai.
  3. Menguntungkan semua pihak.
  4. Menyelesaikan persoalan/ masalah sosial.
  5. Menyembuhkan fisik yang lemah (sakit).
  6. Membuat orang lain bahagia.
  7. Mensejahterakan secara ekonomi.
  8. Pada dasarnya, minat dan semangat untuk mengubah diri akan membawa perkembangan dan kemajuan bagi setiap orang yang melakukannya.

Penyebab yang membuat seseorang tidak mau mengubah diri dan hidupnya

Banyak pergeseran positif yang terjadi di sekeliling kita. Tapi mengapa masih saja ada orang yang tidak suka dengan hal itu? Berikut alasan mengapa seseorang tidak ingin mengubah diri dari kebiasaannya yang buruk yakni.

  1. Belum mengetahui dan mengenal ide tersebut akibat media komunikasi yang tidak memadai.
  2. Tidak mengerti – bodoh (IQ rendah). Akibat keterbatasan wawasan dan ilmu pengetahuan membuat seseorang tidak bisa berubah atau sekalipun bisa tapi lambat dalam melaksanakannya.
  3. Sudah merasa nyaman dengan diri sendiri. Perasaan ini mungkin berhubungan erat dengan keyakinan seseorang yang sudah merasa berdiri dipihak yang benar.
  4. Tidak jarang kami menemui orang yang tidak mau mengubah cara-cara lama kepada yang terbaru hanya karena merasa harga dirinya terlalu tinggi untuk mengikuti hal tersebut.
  5. Gagasan untuk berubah yang diajukan mengganggu kepentingannya atau lebih tepat penghasilannya.
  6. IQ terlalu tinggi. Mereka dengan IQ tinggi memiliki standar analisis yang tinggi pula sehingga hal ini kadang membuat mereka terlalu mengada-ada (terlalu takut dan kuatir).
  7. Bersikap sentimen/ tidak senang kepada yang membawa pesan pembaharuan.

Bahaya sikap yang enggan menerima perubahan

Pada hakekatnya manusia diciptakan berbeda. Setiap orang memiliki maksud dan tujuan sendiri-sendiri dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tidak mungkin bagi kita untuk menghakimi seseorang yang tidak mampu menerima sesuatu yang baru untuk kebaikan bersama. Dampak buruk akibat sikap yang tidak menerima perubahan adalah.

  1. Menimbulkan pertentangan dan gejolak di dalam kelompok sosial. Ada semacam perbuatan yang tidak menyenangkan ditujukan kepada orang-orang tertentu.
  2. Lama kelamaan berpotensi menyebabkan perpecahan di antara kelompok sosial.
  3. Menyebabkan rasa bersalah dan kegelisahan. Miris melihat orang lain bergiat untuk memperjuangkan yang baik dan benar tapi diri sendiri masih main lumpur dalam kebiasaan orang tua jaman dulu.
  4. Membuatnya kuatir dan ketakutan karena memilih untuk berjalan sendiri-sendiri.
  5. Mencirikan keegoisan sehingga membuatnya lebih rapuh dan mudah goyah (karena stres) dibandingkan dengan orang lain.
  6. Memiskinkan secara ekonomi. Cara-cara lama yang cenderung konvensional tidak dapat meningkatkan produktivitas di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat
  7. Membuatnya tersisih dari kehidupan bermasyarakat, pekerjaan atau dalam kelompok (organisasi) tertentu.
  8. Pada akhirnya, hidup tidak maju-maju bahkan cenderung ngedrop alias “down” dari hari ke hari.

Apakah anda siap berubah dan mengorbankan beberapa kebiasaan lama yang mungkin terasa sayang untuk ditinggalkan? Ingatlah bahwa kita hidup dalam nafas kebenaran. Itulah yang menuntut diri ini untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

Salam berkorban!

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s