17 Ciri-Ciri Masyarakat Primitif Harus Dihindari – Kebiasaan masyarakat sangat menentukan tingkat kemajuan bersama

Ciri khas masyarakat primitif (jaman dulu) yang harus ditinggalkan oleh Indonesia

Perkembangan sosial telah menyentuh seluruh lini kehidupan. Bukan semakin memburuk melainkan semakin membaik. Sekalipun demikian harus disadari bahwa ada yang harus dikorbankan dari setiap kemajuan itu. Hal-hal yang tidak penting namun sudah menjadi kebiasaan harus ditinggalkan. Sebab kemajuan sosial sangat mendukung perkembangan lainnya seperti ekonomi, seni-budaya, ilmu pengetahuan, dan kreativitas. Namanya juga sosial oleh karena itu harus digalangkan secara bersama-sama sehingga memberikan efek yang nyata.

Ketika manusia meniru hewan

Jaman dahulu, manusia masih sedikit sehingga ada kecenderungan menjadi egois. Tidak ada agama dan pengenalan akan Allah. Manusia memiliki kecenderungan untuk meniru lingkungannya. Belajar dari kehidupan binatang hutan dimana yang kuat-tajam gigi dan cakarnya adalah penguasa tertinggi. Inilah yang dicari-cari oleh banyak kalangan terutama kalangan atas dimasa itu. Kekuatan otot, pedang dan senjata di asah dan diadu untuk menentukan siapa yang berhak menduduki posisi puncak (raja). Simak, Tanda khas sifat-sifat binatang

Ketika manusia bertemu dengan Penciptanya

Begitulah kehidupan nenek moyang kita dahulu kala akan tetapi semuanya berubah ketika mereka bertemu dengan pencipta-Nya. Dari sanalah mereka menemukan siapa sebenarnya dirinya. Bagaimana caranya memaknai hidup dan apa sesungguhnya yang dapat menyenangkan hati ini. Dari sinilah banyak orang menjadi sadar kemanusiawiaannya. Mereka memutuskan untuk meninggalakan kebinatangannya lalu mulai berpikir tentang kebersamaan dalam segala sesuatu.

Dari perseorangan menjadi kebersamaan

Rasa kegotong royongan  adalah wujud dari lemahnya sikap individualistik. Sendiri saja tidak mampu melakukan banyak hal. Seseorang menjadi kentara kelemahannya saat ia berjuang sendiri. Akan tetapi bersama hidup kita menjadi lebih baik. Lemahnya teman yang satu ditutupi oleh kelebihan teman yang lain. Setiap orang berbeda-beda seperti puzzle kehidupan. Mereka harus ditempatkan pada posisi yang tepat agar satu-sama lain membentuk rangkaian yang menggambarkan keindahan sejati. Indah itu bukan ketika semua adalah sama melainkan saat setiap orang saling menghargai perbedaan dan mengetahui batasnya layaknya pelangi.

Ciri khas masyarakat primitif

Berikut akan kami berikan beberapa ciri khas masyarakat primitif yang harus kita hindari. Jika hal-hal di bawah ini masih kita pegang tegus niscaya kehidupan bermasyarakat tidak akan pernah maju. Berikut selengkapnya.

  1. Kesejahteraan adalah barang langka, kemiskinan tidak terhitung. Yang kaya semikin kaya yang miskin tambah melarat.
  2. Aturan lebih berpihak kepada orang besar sedangkan orang kecil ditindas oleh aturan yang telah dibuat.
  3. Manusia dikendalikan dengan suara teriakan, otot besar, pedang, panah dan senjata. Masyarakat tidak mengenal aturan melainkan ditakut-takuti dengan keempat hal di atas (dilemahkan/ digentarkan oleh kekuatan militer).
  4. Masyarakat digiring pada strata sosial yang semu. Kelas kaya dan kelompok miskin terpetak-petak oleh adat istiadat.
  5. Menganut sistem adat masyarakat kerajaan dimana raja (pemimpin) adalah segalanya. Pemimpin sekaligus sebagai tuhan di dunia ini yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
  6. Kekuasaan terpusat ditangan pemimpin, keputusannya harus dipenuhi, kehendaknya adalah kemauan yang otoriter. Baca juga, Pengaruh kekuasaan yang terlalu besar mendatangkan ancaman
  7. Koreksi dan kritikan adalah kelemahan yang menyakitkan hati.
  8. Masyarakat menyimpan kebencian bak gunung berapi yang suatu saat akan meledak. Istilahnya “colek dikit ganas”. Kesabaran menjadi sangat jarang ditemui. Banyak hal yang memberi kesan terlalu berlebihan, terburu-buru dan dipaksakan.
  9. Penampilan bak selebritis adalah nomor satu. Kejujuran adalah nomor sekian yang penting enak di dengar dan dipandang orang lain.
  10. Kebenaran diabaikan penghiburan diperoleh dari kenikmatan dunia (materi) adalah nomor satu. Moralitas dipandang sebelah mata.

  11. Kehormatan dan harga diri adalah segalanya sekalipun diraih dengan cara yang tidak benar. Baik-buruknya suasana hati tergantung pada pujian orang lain. Selengkapnya, Penghargaan dan pengormatan adalah semu
  12. Harta, jabatan dan ketampanan/ kecantikan adalah alat kesombongan untuk dipamerkan kepada yang lainnya.
  13. Perbedaan sudah menjadi api kecil (menimbulkan kebencian). Yang suatu saat akan membesar dan menjadi pemisah yang memicu keretakan dan konflik horizontal.
  14. Orang pintar yang dekat dengan penguasa menjalankan konspirasi untuk membodohi masyarakat sehingga meraup untung besar dari pembodohan tersebut.
  15. Kenikmatan hubungan seks antar manusia adalah buruan semua kalangan. Tidak hanya orang dewasa melainkan yang muda, remaja bahkan anak-anakpun sudah doyan membakar hawa nafsu dengan pacaran sana sini.
  16. Pengetahuan lingkungan minim. Alam digerus besar-besaran demi kelimpahan uang dan kemewahan pribadi. Mereka tidak memahami siapa yang kelak dikorbankan lewat bencana alam yang akan terjadi.
  17. Perdamaian sangat jarang terjadi. Keamanan itu mahal dan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu sedangkan masyarakat biasa di teror oleh kasus pencopetan, penjarahan, begal motor, penganiayaan, dan pembunuhan hingga terorisme.

Apa untungnya bagi kita hidup di dunia yang fana ini? Ketika nafas berhenti berhembus dan jantung berhenti berdetak maka semua yang telah diraih akan ditinggalkan pula. Satu-satunya yang kita bawa bukan harta kekayaan atau harga diri atau penghormatan atau prestasi melainkan kebenaran yang terucap dalam kata-kata dan tindakan selama kita hidup. Oleh karena itu, tinggalkan kebiasaan primitif yang indahnya sementara saja lalu bergiatlah untuk melakukan, memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran sejati.

Salam hidup damai

Iklan

2 comments

  1. […] Tanpa disadari, kebiasaan ini telah membentuk pola pikir masyarakat untuk bersikap berlebihan (lebay) terhadap uang dan memupuk ketidakadilan yang terjadi dimana-mana. Karena telah dibiasakan secara turun temurun maka semua masyarakatpun mati rasa sehingga mau saja melakukannya. Mereka mau saja digagahi oleh kepentingan adat yang berujung pada pemborosan sumber daya yang sangat boros dan kental dengan pengaruh tetua adat. Budaya semacam ini sama dengan yang dimiliki oleh masyarakat primitif yang hanya menguntungkan kalangan atas saja. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s