Kebenaran Sejati

Kebenaran sejati berdasarkan filosofi salib Kristus

Artikel Kristen – Manusia adalah bagian dari kebenaran yang seutuhnya. Kita tidak mampu memisahkan diri dari hal tersebut sebab nafas yang mengalir dalam setiap tetes darah ini asalnya dari Tuhan. Secara tidak langsung, sadar atau tidak, kita dituntut untuk menghidupinya (baik dalam perkataan maupun perbuatan) secara nyata maupun di dalam pikiran sendiri (senantiasa memikirkannya). Itulah kepuasan tertinggi dalam hidup ini. Tidak ada yang dapat menyamainya bahkan dengan materi dan segala kemuliaan duniawi.

Materi terbatas, kebenaran tidak terbatas

Kebenaran tidak akan pernah berakhir dalam kehidupan ini. Tingkat kepuasan setelah melakukannya juga tidak sepotong-sepotong melainkan jika ditekuni akan terus menghasilkan seumur hidup. Materi itu sangat terbatas sehingga sangat cepat habis. Kemampuan dan kekuatan untuk mencarinya juga tidak seumur hidup. Bahkan pegawai negeri sipil dan swasta saja membatasi karyawannya sampai umur 55 tahun saja setelah itu pensiun. Jadi jumlah materi yang kita peroleh tidak menentu/ tidak stabil, kadang tinggi dan kadang rendah.

Sikap yang benar menuntun kita kepada kemanusiawian sejati. Kemuliaan duniawi tidak terus menerus diperoleh. Saat kemampuan materi mulai lemah, potensi yang dimiliki meredup dan kuatnya tubuh ini tidak seperti dulu lagi maka disaat itulah kita menyadari betapa tua dan rentanya kita. Lagipula kekuasaan itu dibatasi oleh undang-undang, hanya lima tahun saja. Lalu bagaimana kita menghibur dan memuaskan diri setelah semuanya itu berlalu? Baca teman, Lebih penting materi atau kebenaran.

Penghormatan dari orang lain tidak selalu ada

Kehormatan terlalu fana. Mau sampai kapan kita menjadi orang terhormat? Padahal hari-hari tidak menentu, kadang beruntung dan kadang merugi. Jabatan tidak pernah stagnan, kalau bukan pimpinan yang menurunkan, maka peraturan atau orang lain yang lebih energik, cerdas dan lebih hebat dari diri ini. Seiring waktu berlalu kehormatan semakin lama semakin meredup. Apalagi manusia berbeda-beda, ada yang menghormati dan ada pula yang menghina, kita tidak dapat mengendalikan bibir dan perilaku orang lain. Selengkapnya, Harga diri dan penghormatan itu tidak ada

Pujian sangat terbatas

Pujian hanya sebatas itu. Mustahil ada orang setiap bertemu memuji kita, bertemu lagi memuji-muji lagi, emang loe tuhan? 😀 Biasanya yang melakukan ini hanyalah kaum penjilat dan orang-orang munafik yang memang sengaja menjatuhkan anda. Kemampuan dan potensi yang dimiliki juga tidak selalu berada di atas. Ada waktunya untuk bersinar dan tidak lupa terbenam pula. Ketahuilah dengan seksama bahwa pujian tidak bertahan lama karena berlalu begitu cepat tanpa menyisakan manfaat apapun. Lebih baik memanjakan lidah dengan makanan karena manfaatnya sampai besok pagi sesaat sebelum itu (kotoran) di buang ke toilet.

Kebenaran dalam persepektif Salib Kristus (khusus Kristen)

Di dalam kekristenan, terdapat dua inti dari Hukum Taurat dan Kitab para Nabi, berikut selengkapnya dalam Matius 22:37-39.

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Yesus Kirstus adalah tokoh sentral dalam Alkitab. Dialah kebenaran yang hidup telah membawa hukum Taurat dan kitab para Nabi bersama diri-Nya (baca kembali kutipan ayat di atas). Semua ajarannya kami adopsi dalam tulisan-tulisan yang diterbitkan. Banyak tulisan kami yang terinspirasi dari kisah-Nya. Salib bukan sekedar simbol. Ada makna yang dalam dibalik kesederhanaannya. Ini sama dengan peran dan ajaran-Nya ditengah dunia ini, yakni memperbaiki hubungan Allah dengan manusia dan antara manusia dengan sesamanya.

a. Kebenaran yang sejati, menjalin hubungan karib dengan Tuhan

Tuhan dan manusia terhubung erat dalam kekekalan. Bukan saja hanya sekedar relasi antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Akan tetapi lebih dari itu. Nafas kita adalah titipan Tuhan. Hubungan itu bisa retak dan terputus oleh dosa. Manusia telah kehilangan kebenaran dalam hati dan sikapnya. Inilah yang membuat hidup terasa kosong dan selalu haus akan kepuasan. Apabila kita bergaul karib dengan Sang Pencipta, rasanya sudah penuh. Terpancar rasa syukur dari dalam hati sehingga besar-kecil, tinggi-rendah, baik-buruknya nikmat materi yang diterima sudah cukup untuk memuaskan kehidupan ini (merasa cukup).

Dapat dikatakan bahwa ini merupakan tuntutan agar kita dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Tuhan. Bagaimana cara melakukannya? Dengan menjadi pribadi yang selalu memuji dan memuliakan nama-Nya di segala waktu dan di segala situasi. Anda dapat menyatakannya melalui perkataan dan perbuatan (sikap) yang menyatakan ajaran Tuhan. Ini juga dapat dilakukan dengan cara senantiasa memuji dan memuliakan nama-Nya dalam hati, bibir maupun dengan menggunakan alat musik.

Pikiran yang senantiasa fokus kepada Tuhan dalam segala sikon (situasi dan kondisi) adalah suatu jalan untuk mencapai kebermanfaatan yang sejati. Dengan demikian andapun dapat senantiasa terhubung dengan Yang Maha Kuasa. Artinya, pikiran dijernihkan dari segala yang jahat termasuk hawa nafsu yang sesat dan kebinatangan. Mulailah melakukannya dengan senantiasa bercakap-cakap dengan Tuhan (di dalam hati) sambil berdoa, membahas firman dan bernyanyi memuliakan nama-Nya. Rutinitas ini harus dilatih terus-menerus agar menjadi kebiasaan baik yang membudaya.

b. Kebenaran yang sesungguhnya memelihara kedekatan dengan manusia

Hubungan sosial dengan sesama dijaga oleh kebenaran. Apabila berkata dan bertindak yang benar seharusnya secara otomatis ini menjadi magnet untuk menarik lebih banyak orang kepada kita. Setiap perbuatan yang kita ekspresikan selalu berdampak positif, negatif dan biasa saja. Ini yang kami sebut sebagai, “hidup ini seperti bola karet, apa yang kita lempar suatu saat akan kembali juga”. Setiap ada aksi pasti ada reaksi hanya saja kita jangan terlalu berharap yang baik-baik saja. Sebab, baik dan buruk itu datangnya silih berganti untuk membentuk mental ini semakin kuat (sabar) dalam menanggung segala sesuatu.

Cara terbaik untuk menjalin hubungan yang dekat dengan sesama adalah dengan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi yang lainnya. Ini adalah cara tercepat dan termudah untuk mendekatkan diri dengan orang lain. Anda dapat melakukannya dengan mulai berbuat baik kepada sesama dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Misalnya ramah-tamah, memberi petunjuk, memberi saran dan pemberian lainnya yang sesuai dengan sumber daya dan potensi yang dimiliki.

Dibalik semua kebermanfaatan itu, pastikan bahwa tujuan anda melakukannya benar dan tulus. Melakukan kebaikan kepada orang lain yang disertai dengan “modus dan motif” tertentu sama sekali tidak mendatangkan damai dan ketenangan di dalam hati.  Ia kalau tujuan anda tercapai tetapi kalau tidak maka kekecewaan akan memilikan hatimu. Oleh karena itu, ada baiknya jikalau anda menolkan keinginan dan mendasarkan semua kebaikan yang dilakukan tersebut untuk menyatakan kemuliaan dan kasih Tuhan melalui diri anda. Seperti yang tercantum dalam salah satu ayat firman: “Lakukanlah segala sesuatu seperti anda melakukannya untuk Tuhan“.

c. Hubungan baik dengan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hubungan baik dengan sesama.

Harus dipahami sekalipun kebermanfaatan untuk Tuhan dan untuk manusia berbeda jalurnya/ jalan yang ditempuh tidak sama. Akan tetapi kedua peran ini berjalan beriringan dan berdampingan satu sama lain. Tidak ada yang namanya, hubungan baik dengan Tuhan menjauhkan atau membuat diri ini menolak sesama manusia. Pada dasarnya manfaat yang kita berikan kepada sesama bernada positif sesuai dengan ajaran Firman. Tidak ada yang nama-Nya berbuat jahat kepada sesama demi menggenapi firman/ membela Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan tidak perlu dibela, seperti yang tertuang dalam salah satu ayat Lukas 23:28 yang berkata : Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!

Mustahil kita diijinkan Tuhan untuk menyakiti sesama demi nama-Nya sebab Allah adalah kasih. Jika kita anak-anak Allah maka sudah seharusnya sikap kita menyatakan kasih Bapa kepada dunia.

Cara menghadapi tanggapan orang terhadap sikap kita

Saat orang lain menilainya positif mungkin mereka menyambutnya dengan baik, tersenyum, menirukan hal yang sama bahkan lebih lagi. Beberapa yang bersikap biasa saja mungkin hanya tertegun diam (bukan cuek) lalu pergi begitu saja. Atau tidak jarang juga beberapa orang balik menyindir, menertawai, menjelek-jelekkan bahkan menghina pula. Dalam semua reaksi yang ditunjukkan, kita harus mengoreksi diri dan melihat kebelakang apakah tindakan yang dilakukan sudah tepat benar atau masih jauh dari kebenaran itu sendiri.

Begaimana reaksi kita dalam menghadapi tanggapan orang lain? Apa yang harus kita perbuat? Terbebas dari sikapnya itu baik atau tidak. Berikut tindakan selanjutnya.

  1. Kuatkan hati (sabar) “Saya pantas menerimanya, kuatkan hatiku ya Tuhan”. Hindari menolak kembali perlakuan buruk yang anda terima sebab hal tersebut tidak mendatangkan kedamaian di dalam hati ini.
  2. Ekspresinya yang baik balas dengan kebaikan yang sama. Misalanya, senyuman dibalas dengan senyum, apresiasi dibalas dengan terimakasih, dan lain sebagainya yang menurut anda pantas.
  3. Walau ekspresinya (teman itu) jelek, tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Cobalah untuk tertegun berdiam diri saja atau keluar (pergi) dari sana. Ini baru namanya konsistensi yang benar. Tanpa sikap konsisten yang berkelanjutan benarnya kita mendatangkan keragu-raguan bagi orang lain (tidak dipercayai) yang melihatnya.
  4. Komunikasi memang penting. Tapi kita salah kalau berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal. Rasanya tidak ada gunanya menanggapi orang asing sebab biar bagaimanapun cara menjelaskannya mereka tidak mengenal diri ini. Akan tetapi ekspresi aneh dari orang terdekat patut di pertanyakan secara baik-baik. Dengan demikian kita bisa mengoreksi diri sendiri.
  5. Saat yang dihadapi ujian kehidupan maka tidak perlu bertanya ini-itu sebab dari awal orang (sikawan) tersebut memang sudah niat ingin menjatuhkan kita. Yang demikian jangan digubris (orangnya) melainkan diabaikan saja lalu cari solusi yang tepat.

Pemahaman yang berbeda tentang nilai benar dan penyatuan persepsi

Harus dipahami bahwa nilai benar yang kita yakini tidak sama dengan orang lain. Ada satu aturan yang bisa dijadikan tolak ukur sikap kita terhadap yang lainnya yakni “lakukanlah terlebih dahulu, apa yang ingin dilakukan orang lain terhadapmu” (Terinspirasi dari Alkitab). Artinya, jika kita merasa itu sakit, mengapa melakukannya kepada orang lain; bila itu dirasa baik mengapa ditahan-tahan sehingga tidak dilakukan kepada orang lain. Apa artinya kita merasa benar tapi menyakiti orang lain dengan mengedepankan kekerasan? Baca juga, Cara menghindari sifat yang anarkis

Sadarilah bahwa kebenaran sejati mempersatukan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama. Bila yang dibina hanya hubungan dengan Tuhan saja maka diri ini cenderung egois. Namun bila yang dibangun hanya relasi dengan orang lain niscaya kita cenderung tidak jujur dan penuh dengan tipu muslihat (manipulatif). Kedekatan dengan Tuhan membuat diri ini idealis >> cerdas >> berhikmat. Hikmat menuntun anda untuk lebih manusiawi.

itu adalah pengorbanan

Keintiman dengan Tuhan tercermin dari sikap sehari-hari. Sikap kita tidak pernah jauh dari kehidupan bersosial. Pada awalnya dalam keluarga, kerabat dan orang-orang disekitar. Satu hal yang sangat kita butuhkan dalam memperjuangkannya adalah pengorbanan. Ada yang berkata bahwa besar-kecilnya kebenaran kita ditentukan oleh pengorbanan yang dilakukan. Ini bukan masalah nilainya melainkan lebih kepada persentasi total. Seseorang yang mengorbankan diri untuk mengabdi seumur hidup pada suatu hal yang dianggapnya benar lebih tinggi pengorbanannya dibandingkan dengan seorang miliader yang memiliki harta triliunan menyumbangkan dana 5 miliar untuk proyek yang benar itu.

Hubungan yang baik dengan sesama dimulai dari keluarga

Jika kita mengakui bahwa dekat dengan Yang Maha Kuasa seharusnya kebenaran-Nya menuntun diri ini untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Mengakui kedekatan dengan Tuhan tetapi hubungan dengan sesama (terutama orang terdekat – keluarga) amburadur menunjukkan bahwa pemahaman yang dangkal tentang nilai yang benar. Cekcok kecil, kesalahpahaman sederhana, pertengkaran minimalis adalah wajar-wajar saja. Akan tetapi rasa sakit yang dipendam-pendam berubah menjadi kebencian kemudian ditransformasikan menjadi dendam yang suatu saat akan meledak bak gunung berapi. Sebelum itu terjadi, sebaiknya komunikasi yang terbuka harus dibina hari demi hari dalam keluarga.

Persoalan jangan sampai membuat kebaikanmu kendur. Jika sekedar untuk berdiam diri dan membersihakan hati-pikiran dari yang jahat maka menyendirilah sejenak namun jangan terus-menerus sendiri. Hubungan kita yang baik dengan Tuhan selalu menuntut diri ini untuk berbaur/ bergaul dan bersosialisasi dengan sesama sehingga dapat bertukar manfaat dengan orang lain. Fokuskan pikiran senantiasa kepada Tuhan sembari mengasihi sesama disetiap langkah kaki ini.

Pada akhirnya, hidup ini ditujukan untuk senantiasa memuliakan Tuhan sembari menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Lakukanlah semuanya itu dengan sabar, tekun, penuh kerja keras, tulus dan selebihnya serahkan kepada kehendak-Nya. Baik buruknya tanggapan orang lain diterima apa adanya. Ini adalah awal dari kedamaian hati. Tapi ingat, usaha memperbaiki diri dan perjuangan harus selalu ada sebab dari sanalah berkat-berkat itu datang tanpa disadari.

Salam hidup rukun

Iklan

13 comments

  1. […] Kebenaran sejati adalah tindakan yang difokuskan untuk kemuliaan nama Tuhan dan menunjukkan kasih kepada sesama. Hidup memuliakan nama Tuhan berarti mengikuti semua ajaran-Nya sembari memuji dan memuliakan nama-Nya. Baik menggunakan lidah sendiri dan/atau alat musik dan bisa juga dengan memuji memuliakan Tuhan di dalam hati sembari melakukan pekerjaan ringan. Untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain maka perlu menyatakan kasih kepada siapapun. Lewat kebaikan yang kita lakukan maka hidup ini menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. […]

    Suka

  2. […] Kebenaran yang hakiki adalah saat kita mampu mendatangkan manfaat bagi kemuliaan nama Tuhan dan menjadi bermanfaat bagi sesama. Tahukah anda bahwa semua cerita tentang materi, harga diri dan kehormatan juga kemenangan datangnya dari luar diri ini? Hal-hal ini tidak dapat kita kendalikan karena semuanya tergantung bagaimana lingkungan sekitar menilai diri ini. Padahal kita sudah tahu dengan jelas bahwa kita tidak dapat memastikan semua penilaian orang itu baik pasti ada juga yang buruk diantaranya. Oleh karena itu, berusaha untuk tidak ketergantungan dengan hal-hal seperti itu. Semakin anda candu terhadap hal tersebut maka semakin mudah pula orang lain mempermainkan bahkan mengendalikan hidupmu. […]

    Suka

  3. […] Kita harus memiliki prinsip hidup. Orang lain, kata-kata mereka dan tindakan mereka kekita tidak dapat dijadikan standar yang sifatnya konsisten. Sebab mereka juga hanya manusia biasa yang memiliki kepentingan sendiri-sendiri yang mungkin saja mengganggu bahkan merugikan masyarakat luas. Itulah mengapa suara orang lain tidak dapat dijadikan standar. Terlebih ketika mereka telah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan sempit yang tidak menjunjung rasa kebersamaan dan nilai-nilai kebenaran. […]

    Suka

  4. […] Jika dahulu kita merasakan nikmatnya dunia ini “waw banget”, suatu saat kita akan melihat semuanya itu biasa saja. Apabila dulu ada rasa menggebu-gebu saat melakukan sesuatu, bertambahnya umur membuat diri ini memandang rendah sikap itu. Dimasa yang lalu ada suatu rasa yang diiming-imingi/ diimpikan/ dirindui, suatu hari nanti kita menyadari bahwa semua itu hanya berujung kepada kesia-siaan. Begitu fana, nikmatnya tidak seperti dulu lagi. Simak pula, Apa itu kebenaran yang sejati? […]

    Suka

  5. […] Sadarilah bahwa manusia hidup dalam nafas kebenaran. Sehebat apapun motivasi yang dibuat untuk menyemangati hari demi hari namun semuanya terasa hambar dan hampa jadinya. Bila yang dilakukan berada diluar jalur kebenaran niscaya timbul ketakutan & kekuatiran yang akan berujung pada kegagalan atau kehancuran yang menjerat pihak-pihak yang bersalah. Simaklah, Kebenaran yang sejati. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s