Dosa Manusia Yang Paling Mendasar – Ingin Jadi Sama Seperti Tuhan, Berkuasa, Dihormati Dan Dipuji

Dosa-manusia-yang-paling-mendasar-ingin-jadi-sama-seperti-tuhan-dihormati-berkuasa-dan-dipuji

Sejak dari zaman purba kala manusia sudah menginginkan hal ini. Kilas balik ke belakang dengan berpatokan pada Kitab Suci maka dapat kita saksikan bagaimana nenek moyang terdahulu ingin menjadi sama seperti Tuhan. Kejadian itu dimulai ketika mereka memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Jika kita baca terus seluruh perjanjian lama (Alkitab – Kristen) maka akan didapati bagaimana hawa nafsu akan kekuasaan, kehormatan dan pujian diraih dengan menumpahkan darah orang lain hingga pada akhirnya mereka sendiripun akan ditelan pula oleh orang yang lebih kuat darinya. Ini terus berputar-putar, membunuh dan dibunuh. Orang yang membunuh akan terbunuh pula. Kalau bukan dia yang terbunuh oleh mata pedang maka keturunannya pasti tidak akan terluput dari bencana yang akan datang.

Banyak orang menjadi murtad dan dibutakan oleh ketiga hal ini. Mereka tersandung jatuh bukan karena tidak mampu mencari makan/ bekerja melainkan karena berebut kuasa, hormat dan pujian. Banyak kejadian kecil maupun besar, nyata maupun diam-diam, jujur maupun tipu-tipu, tulus maupun yang licik terjadi karenanya. Bahkan tidak dapat dipungkiri betapa besarnya pengorbanan untuk memperjuangkannya dan mempertahankannya. Tidak jarang kita temukan orang menjadi gila, baik di media maupun disekitar karena pengorbanan yang begitu besar tidak membuahkan hasil apa-apa.

Kekuasaan, kehormatan dan pujian jugalah yang sudah banyak mendegradasi negeri ini. Baik degradasi lingkungan, kebobrokan moral dan kemunduran sosial. Sesungguhnya kita sudah banyak menderita kerugian akibat dari kesewenang-wenangan penguasa terhormat dan terpuji sejak dari awal kemerdekaan Indonesia. Ini sangat wajar karena mereka bukan tuhan. Ketiga kemuliaan ini telah membuat mereka sombong kemudian mendorong mereka masuk dalam wilayah abu-abu hingga akhirnya terperosok dan terjun bebas tanpa harga diri.

Wilayah ini sangat rentan dengan kesombongan padahal setiap orang yang sombong menjadi lemah dan jatuh karenanya. Ini adalah wilayang yang hanya diketahui oleh mereka yang mengenal dirinya, mengerti semua rasa yang diekspresikannya dan terbiasa sederhana dalam segala hal. Salah satu dorongan kuat untuk menjadi sombong adalah iri hati melihat kesuksesan orang lain. Mereka yang tidak mampu mengendalikan rasa ini cenderung melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan untuk menjatuhkannya. Akan tetapi mereka yang mampu mengontrol rasa iri akan mengubahnya menjadi kekuatan untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Selengkapnya, Cara menekan kesombongan

Ketika hati menjadi sombong, hidup mulai banyak yang bolong. Kita rapuh terhadap gangguan kecil. Mudah khilaf dan salah namun tidak pernah diakui. Lari dari kesalahan sendiri kemudian mencoba menyembunyikannya dari semua orang. Padahal Tuhan yang di atas maha tahu segalanya. Terus berlari sejauh mungkin dan berlindung dibalik kekuasaan. Mengisi hati dengan kenikmatan dunia yang fana dan mengharapkan hormat dan pujian dari orang lain. Namun semuanya itu sia-sia belaka. Semakin mencari kemuliaan semakin hampa rasanya. Tanpa disadari, sudah terjun bebas. Akhirnya kita sadar, kesombongan tidak membuat hidup semakin tinggi melainkan semakin rendah di bawah garis standar kehidupan. Moralitas tak bernilai dan ketakutan menghantui.

Kemuliaan duniawi berhubungan erat dengan sikap materialistik (cinta materi secara berlebihan). Sadarilah bahwa kekuasaan, kehormatan dan pujian telah menjatuhkan banyak tokoh dunia. Rasa sombong telah merasuk ke hati sehingga bertindak semena-mena diluar batas norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Setelah semuanya itu yang terjadi kemudian adalah bencana yang berputar kemudian menggilas habis semua yang ada. Rasa bersalah dan penyesalan sudah tidak ada artinya lagi. Kesombongan membuat orang lupa diri, lupa batas hingga lupa segalanya. Hatinya lebih terpikat pada nikmat dunia yang fana yang tidak akan pernah memberi kepuasan dalam hati.

Inilah dosa manusia paling mendasar sejak dari zaman dahulu kala. Kita ingin diperlakukan sama seperti tuhan yang berkuasa, dihormati dan dipuji. Padahal sudah berulang kali sejarah terulang bahwa setiap orang yang ingin mengambil kemuliaan tuhan untuk dirinya sendiri pastilah akan jatuh dalam dosa. Kesombongan adalah tindakan sendiri yang memaksa untuk menempatkan dirinya di atas segalanya padahal kita bukan siapa-siapa, debu yang tidak berguna. Satu-satunya jalan lurus untuk mencapai penghargaan sejati adalah mematuhi peraturan yang ada dan berprestasi di bidang yang kita geluti (pada profesi masing-masing). Walau kita tahu bersama bahwa jalan menuju kesana tidak mudah. Jika kita menghargai peraturan maka orang lain juga akan menghargai kita bahkan presidenpun akan menghargai diri ini.

Adalah baik bagi kita apabila tidak mengejar secara berlebihan (lebay) kemuliaan duniawi karena itu terlalu fana (hanya sementara). Kalau ada, ya silahkan ; tidak ada juga ya gak apa-apa. Hiduplah mengalir seperti air agar tidak mudah kecewa. Lebih penting bagi kita untuk bisa hidup damai dimanapun berada. Lakukan dan perjuangkanlah kebenaran dalam setiap aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Mulailah dengan hidup yang senantiasa memuji-muji nama-Nya (baik di dalam hati, lewat mulut maupun dengan alat musik). Apabila anda bisa melakukan yang lebih, jadilah bermanfaat bagi orang lain (untuk menyatakan kasih Allah kepada dunia).

Salam santai!

Iklan

3 comments

  1. […] yang kami bicakan pada tulisan sebelumnya bahwa hawa nafsu tertinggi manusia adalah “ingin menjadi sama seperti tuhan” yang maunya ditinggikan, dimuliakan dan disembah. Ini adalah tabiat asli manusia dan ini jugalah […]

    Suka

  2. […] yang kami bicakan pada tulisan sebelumnya bahwa hawa nafsu tertinggi manusia adalah “ingin menjadi sama seperti tuhan” yang maunya ditinggikan, dimuliakan dan disembah. Ini adalah tabiat asli manusia dan ini jugalah […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s