Gejolak Sosial · Kepribadian

Rasa Sakit Yang Membuat Anda Bijak Atau Malah Sangat Pendendam – Dewasa Adalah Mencicipi Semua Rasa Yang Ada

Rasa sakit yang membuat anda bijak atau malah sangat pendendam

Hidup ini hanyalah soal rasa. Besar – kecil, tinggi – rendah, tawa – tangis, suka – duka, susah – senang, asam – asin, semua itu adalah respon kita setelah menanggapi kejadian yang berbeda bahkan kadang yang sama pula. Kita mengalami hari-hari buruk lalu berkata “Hati saya hancur”. Mengalami moment yang menyenangkan bersama keluarga lalu berkata “Senang banget hari ini!”. Jatuh – bangun dan jatuh lagi lalu berkata “Sial banget hari ini”. Terjepit oleh masalah dan menemukan jalan buntu lalu berkata “Lagi galau tingkat tinggi”. Padahal kalau hati ini menerima semua itu apa adanya kemudian bersyukur kepada Tuhan niscaya hati lebih tentram, lega rasanya dan pikiran terbuka untuk menemukan solusi terbaik.

Otak sama tapi lingkungan berbeda

Faktanya adalah “Hati dan pikiran tetap sama lho…. Hanya suasana diluar diri yang berbeda. Lalu apa hubungannya suasana di luar yang berubah-ubah dengan suasana di dalam (fisiologis otak) yang gitu-gitu aja?”. Jangan larut dalam suasana di sekeliling anda, milikilah prinsip hidup sebagai standar lalu konsisten melakukannya. Jika sikap, perkataan dan perbuatan konsisten alhasil suasana hati lebih stabil walau lingkungan berada di luar harapan.

Milikilah sikap yang bernilai

Hidup yang kita jalani harus bernilai. Maksudnya bukan nilai dalam bentuk uang karena itu terlalu fana (hanya sementara). Nilai kehidupan diperoleh dari standar yang kita miliki seperti kebaikan, kejujuran, keikhlasan, kesabaran, rela berkorban, pemaaf, tanpa pamrih dan masih banyak lagi sikap positif yang dapat kita adopsi dalam kehidupan sehari-hari. Uang di tangan bisa habis akan tetapi sikap yang bernilai akan terus ada (seumur hidup) selama kita konsisten melakukannya.

Asal rasa sakit

Darimana saja kita memperoleh pahitnya penderitaan? Berikut ini daftar rasa sakit berdasarkan darimana ia berasal.

  1. Keadaan fisik. Tubuh yang kurang sehat juga turut berkontribusi terhadap penderitaan yang di alami oleh seseorang.
  2. Diri sendiri. Masih kekanak-kanakan, kapasitas otak masih belum cukup, belum mengenali semua rasa, belum mengenali diri sendiri, masih gemar melakukan dosa dan lain sebagainya yang membuat seseorang rapuh sehingga mudah tersakiti.
  3. Berasal dari orang lain disekitar. Baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Pribadi pengganggu, pembenci (musuh) dan sebagainya.

Rasa sakit butuh dimengerti maka jadilah bijak

Rasa sakit adalah waktu yang tepat untuk memaklumi kehidupan yang tidak sempurna ini. Yang kami maksudkan disini bukanlah soal rasa yang dapat dicitrakan oleh indra melainkan apa yang dirasakan dalam hati saat seseorang menghadapi masalah. Kepahitan merangsang pikiran untuk melihat semua kesakitan itu dari sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu kita belajar agama, sisi spiritual yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah, yang di atas. Setiap orang yang meyakini adanya Tuhan, pasti dapat melihat rasa sakit sebagai rancangan untuk mendewasakan bahkan membuat kita menjadi lebih bijak dalam menjalani hidup. Ukuran perkembangan kebijaksanaan sangat bergantung pada kebiasaan dan kemampuan seseorang untuk memahami/ mengertikan apa yang sedang ia alami. Baca juga, Persiapan menghadapi masalah

Memahami kesakitan yang diderita adalah awal dari mengenal diri sendiri. Menemukan solusi paling masuk akal (cerdas) dalam setiap masalah yang dihadapi butuh perjuangan & kerja keras. Kemampuan ini akan kita peroleh setelah dewasa. Persoalan demi persoalan melatih otak untuk mengambil keputusan terbaik. Mungkin diri ini juga pernah memilih solusi yang sesat/ salah sehingga menjadi pelajaran buat kedepannya. Saat kita merasakan langsung apa akibat dari pilihan yang dibuat maka itulah yang membuat diri ini lebih bijak. Lihat juga, Tekanan kehidupan menuntun pada ide, inovasi, kreativitas dan kolaborasi

Peroleh penghiburan dari kebenaran

Saat rasa sakit yang kita alami ditimpa dan ditekan oleh cinta kepada Tuhan alhasil pahitnya tidak akan berlama-lama. Cinta adalah kebutuhan emosional yang berhubungan dengan lubang di hati. Cinta kepada Yang Maha Kuasa adalah yang paling pas mengisi lubang itu. Sebab mencintai-Nya sam artinya dengan melakukan segala perintah dan larangan-Nya. Membuat gerakan dan kebiasaan yang seiringan/ seirama dengan-Nya (walau tidak sama persis mungkin hampir mendekati karena kesempurnaan-Nya tidak tertandingi) adalah tujuan hidup ini. Firmannya adalah surat-surat cinta yang menghiburkan dan menguatkan hati. Kesempurnaan cinta hanya kita peroleh dari Allah saja. Cinta sejati yang tak pernah berlalu dan tak pernah berakhir. Selengkapnya, Penghiburan di tengah penderitaan

Penghiburan dari dunia ini terbatas

Cinta kepada sesama (pasangan hidup) memang dapat juga mengisi lubang itu. Hanya saja masih ada kekosongan. Oleh karena manusia tidak ada yang sempurna. Sesama tidak sepenuhnya mengerti seluk beluk hati dan pikiran ini. Lagipula kepentingan yang berbeda-beda memunculkan maksud hati dan sikap yang berbeda pula. Walau dari awal kita sudah saling (dengan pasangan) menyamakan visi dan kebiasaan sehari-hari, tetap masih ada konflik kecil dalam kehidupan berumah tangga. Mereka yang dilahirkan di waktu yang sama dalam satu rahim saja (kember siam identik) pasti memiliki perbedaan baik dalam hal perkataan dan tingkah laku apalagi dengan sepasang manusia yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Ketika rasa sakit dibalut dengan kenikmatan dunia

Menghadapi sakitnya penderitaan tanpa cinta akan membuat kita lebih menyukai pelarian. Rasa cinta yang hilang diisi dengan cinta akan materi dan kenikmatan dunia yang fana. Menikmati hidup dengan cara yang salah, melakukan perbuatan menyimpang, narkoba, seks bebas, alkohol dan lain sebagainya. Kita mencoba mengisi lubang di hati dengan mencintai gemerlapan dunia namun sia-sia belaka. Yang ada hanyalah rasa bersalah, kemiskinan (hidup melarat), bui (masuk penjara) dan penyesalan.

Rasa sakit tanpa penghiburan membuatmu menjadi anti sosial

Mengatasi rasa sakit tanpa cinta juga membuat kita kehilangan arah dan tujuan hidup, membenci pergaulan, menjauhi hidup yang bersosial dan menjadi sangat pendendam. Lebih memilih untuk mengurung diri dan hidup dalam keterasingan. Jika begini ceritanya, kita telah terseleksi secara sosial karena tidak menemukan sesuatu yang lebih berharga dan layak diperjuangkan dalam hidup. Ini membuat kita terlalu rapuh dan tidak dapat bertahan dari kerasnya badai kehidupan (masalah dan persoalan). Hati yang hampa membuat hidup tidak semangat, lesu, lelah dan loyo. Kita tersingkirkan oleh karena kekuatiran yang ada dalam hati.

Penghiburan sejati

Kebenaran adalah penghiburan sejati di dalam kehidupan manusia. Dunia dengan segala gemerlapan dan pesonanya akan berlalu. Bahkan semenarik apappun dia tidak bisa bertahan lama di dalam hati ini. Satu-satunya penghiburan yang sejati adalah cinta kasih kepada Allah yang diwujudnyatakan dalam kebenaran. Ada dua kebenaran yaitu hidup memuji dan memuliakan nama Tuhan dan yang terakhir adalah menjadi bermanfaat (menyatakan kasih Allah) bagi sesama manusia. Apabila kedua hal ini rutin anda lakukan setiap hari maka sudah cukup untuk mendatangkan sukacita di dalam hati.

Kepahitan menghasilkan kebijaksanaan atau dendam

Pahami benar kepahitan yang anda alami saat ini. Jika hati mampu menerima semuanya itu apa adanya maka perasaan lebih lega dan tenang menghadapinya. Dengan demikian anda menikmati rasa itu (biarkan saja sakitnya menusuk-nusuk) lalu bersyukurlah atas semua yang telah terjadi. Sembari berpikir untuk menemukan solusi dan memperbaiki diri. Pada akhirnya jikalau anda berhasil melewati semua proses ini maka akan ada makna kehidupan yang ditemukan yang dapat membuatmu lebih bijak dalam menjalani hidup.

Lain halnya ketika anda menolak bahkan melawan semua kepahitan yang dirasakan. Alhasil keadaan ini akan memunculkan kebencian di dalam dada. Semakin kesal anda dengan situasinya maka semakin besar hasrat untuk melampiaskan kemarahan. Namun bila anda bisa mengendalikannya (ada rasa malu dengan orang-orang disana) maka kekesalan itu hanya akan berubah menjadi dendam yang berkepanjangan. Jika tidak mampu membersihkan pikiran dari hal-hal yang jahat ini maka bisa saja suatu saat nanti dendam yang terus ditimbun akan meluap seperti banjir bandang yang meluluh lantakkan kehidupan orang lain bahkan diri sendiri.

Dewasa adalah mencicipi semua rasa yang ada. Maksudnya bukan rasa yang di kecap oleh indra (misalnya lidah) melainkan suasana hati saat menghadapi persoalan hidup yang pelik. Bukan hanya suka melainkan duka juga, bukan hanya tawa melainkan tangis juga, bukan hanya senang melainkan susah juga. Kesadaran setiap orang akan pentingnya rasa sakit membuat dia mampu menyesuaikan diri dengan itu. Kemampuan mengelola rasa di hati adalah tanda kedewasaan. Kemampuan memunculkan rasa bahagia di tengah pahitnya penderitaan adalah puncak dari kedewasaan yang membuat seseorang menjadi lebih bijak hari lepas hari.

Salam konsistensi rasa!

Iklan

2 tanggapan untuk “Rasa Sakit Yang Membuat Anda Bijak Atau Malah Sangat Pendendam – Dewasa Adalah Mencicipi Semua Rasa Yang Ada

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s