11 Bahaya Popularitas – Mereka yang gila, populer dengan cara yang salah

Bahaya Popularitas – Mereka yang gila, populer dengan cara yang salah

Semua orang harus memiliki prinsip hidup. Tanpa ini kita bisa saja kehilangan arah karena sugesti-sugesti yang kita peroleh lewat indra secara terus menerus. Pesan yang ditangkap itu mungkin singkat sekali. Namun karena dilakukan secara intens mampu mensugesti pikiran kita hingga melakukan sesuatu yang melanggar batas-batas kehidupan. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki prinsip dalam menjalani hari demi hari.

Prinsip sama dengan standar kehidupan

Prinsip sama artinya dengan standar kehidupan. Masing-masing dari kita harus memiliki sebuah standar untuk dijadikan acuan dalam bersikap menanggapi segala sesuatu. Arus dunia ini sangat kuat teman. Lebih tepatnya arus yang mendorong orang untuk menjadi jahat (samaelungu) sangat kuat disekitar. Oleh sebab itu, kita harus memiliki standar yang kuat sebagai pegangan untuk kemudian dicerna dalam bentuk prinsip hidup. Inilah yang akan menyeleksi segala sesuatu yang dicitrakan lewat indra

Apa yang selalu dilihat itu yang dimimpikan

Hati-hati dengan apa yang anda lihat (disaksikan dengan mata kepala) secara terus menerus. Kebanyakan orang ingin menjadi seperti apa yang ia saksikan sehari-hari. Misalnya,

  1. Mereka yang suka menonton film, ingin menjadi bintang film.
  2. Kadang yang doyan menyaksikan infotainment, mau menjadi artis.
  3. Tidak jarang, yang sering menonton televisi ingin masuk TV.
  4. Juga mereka yang sering melihat kemewahan hidup glamour ingin memiliki secara pribadi kemewahan itu.
  5. Begitu juga mereka yang sering menonton film porno, ingin menjadi artis porno atau setidaknya membuat video pornonya sendiri (ckckckkk).

Apa yang rutin kita saksikan akan bertransformasi menjadi keinginan/ cita-cita yang hadir dalam setiap mimpi-mimpi kita.

Apa yang sering dilihat itu yang diinginkan

Ketika mata kita lebih gemar melihat orang yang tenar dan populer dalam hidupnya niscaya hati ini menginginkan untuk menjadi salah satu dari orang-orang itu. Ini adalah awal dari sebuah ambisi yang berpotensi “sangat” mengecewakan dan kelak akan merusak kehidupan sendiri maupun orang lain. Maksud saya disini adalah, tontonan kita harus beragam (jangan doyannya itu-itu saja) dan senantiasa menggunakan “otak”, “logika” dan “pertimbangan” saat mencitrakan segala sesuatu yang ada di sekitar.

Teman yang beragam lebih mendewasakan

Saat berteman, jangan hanya mau menjalin hubungan dengan orang keren dan tenar. Sadarilah bahwa keadaan ini secara tidak langsung mengsugesti kita untuk menginginkan bahkan mengejar kepopuleran itu dengan cara apapun, termasuk dengan menghalalkan segala cara. Lalu ketika itu tidak terwujud, kita lebih rentan terhadap stres. Oleh karena itu, jangan pilih-pilih teman melainkan bertemanlah kepada semua orang, baik dengan yang tenar, miskin, kaya bahkan deengan orang-orang yang mengalami keterbelakangan (mental).

Populer itu fana “banget

Popularitas itu apa sih? Saya nggak ngerti. Apakah itu soal pujian? Mereka yang gila populer terlalu berlebihan menanggapi pujian yang datang. Padahal itu hanya kata-kata belaka. Perkataan itu berlalu lebih cepat dari angin yang berhembus. Lebih nikmat makanan, soalnya apa yang kita makan masih bertahan selama 12 jam di perut sebelum akhirnya dikeluarkan di jamban pagi hari. Lagipula jika kita ingin merasakan kepuasan yang penuh, tegakkanlah kebenaran dalam setiap tindakan sehari-hari.

Hati yang menginginkan pengakuan dari orang lain sangat riskan dengan sikap yang gila popularitas. Padahal itu (kata-kata) terlalu singkat untuk dikenangkan. Oleh karena itu jangan membiasakan diri dan jangan pernah menuntut (memaksa) orang lain untuk mengakui anda. Sibukkan diri dengan bekerja lalu tegakkan kebenaran dalam setiap sikap dan keputusan anda. Simak juga, Melakukan yang benar adalah kekuatan dan penghiburan

Ketenaran itu seperti permen, nikmatnya sesaat saja. Seperti kedipan mata, yang datang dan pergi tanpa anda sadari. Jangan gantungkan (candu) kebahagiaanmu pada ketenaran sebab hal ini hilang timbul dan tidak stabil. Satu-satunya penghiburan sejati yang dapat diaktifkan kapanpun kita inginkan adalah kebenaran, yaitu memuliakan nama Tuhan dan berbuat baik memberi manfaat kepada sesama. Gantungkanlah kehidupanmu pada kedua hal ini maka hati akan terpuaskan dan menjadi bahagia hari lepas hari.

Dampak buruk dari keinginan untuk populer

Popularitas tidak selalu baik. Baik bagi orang yang mengalaminya maupun bagi mereka yang melihatnya. Berikut ini akan kita bahas bersama apa saja bahayanya menjadi orang populer.

  1. Menimbulkan rasa sombong.

    Kesombongan itu manusiawi. Bahkan anak-anak tidak menyadari bahwa dia menyombongkan diri karena mereka masih belum mengenali perasaan sendiri (hanya orang dewasa yang mengenali apa yang ia rasakan). Oleh karena itu alangkah baiknya jika anak tidak dipopulerkan saat masih kecil agar mereka tidak belajar/ membina/ membangun kesombongan sejak dini. Selengkapnya, Dampak negatif sikap sombong.

  2. Menimbulkan ketergantungan.

    Ini sudah kebiasaan manusia. Apa yang terlalu di ekspose (lebay), terpapar sangat intens dan sangat diinginkan akan membuat hati ini terbiasa lalu menginginkannya lagi dan lagi. Kecanduan popularitas membuat hidup kacau balau. Suatu saat anda akan mengerti hal ini.

  3. Mempertahankannya dengan segala cara.

    Apabila sudah candu niscaya diri ini akan mencari-cari cara untuk membuatnya tahan lebih lama. Bertujuan untuk mempertahankan itu membuat beban hidup semakin tinggi. Ini termasuk dengan melakukan segala sesuatu yang diperlukan termasuk dengan cara yang tidak benar.

  4. Kita terbatas dan hanya bergerak disekitar ketenaran.

    Mindset sudah terbentuk untuk mengais rezeki pada sesuatu yang membuat terkenal. Ini memetak-metakkan kehidupan kita. Cenderung membatasi diri dan bergerak hanya disekitar kepopuleran. Padahal rezeki manusia berbeda-beda. Lagipula rezeki bisa datang darimana saja, yang penting kita berusaha sebaik mungkin (maksimal).

  5. Kebodohan ditambah gila populer membuat seseorang menyimpang jauh dari norma yang berlaku.

    Terdapat dua gendang popularitas. Ada orang yang populer di jalan yang baik namun tidak jarang ada yang terkenal di jalan yang jahat karena kelalimannya.

    Saya yakin bahwa popularitas gendang pertama di dominasi oleh orang-orang cerdas, memiliki bakat dan kemampuan tertentu.

    Mereka yang IQ-nya rendah namun ingin populer akan cenderung menempuh cara-cara kotor untuk mewujudkannya. Seperti menjadi bintang porno (porn star), melakukan aksi kriminal dan aksi mencari sensasi berlebihan lainnya dengan keluar dari norma dan aturan yang berlaku luas di masyarakat.

  6. Cenderung gila hormat dan gila pujian.

    Ketergantungan terhadap kepopuleran mendorong seseorang melakukan cara yang tidak halal untuk mewujudkannya. Hal seperti ini akan menjadi penyakit masyarakat ketika mereka melakukan sesuatu atas dasar hanya untuk dihormati, disanjung dan dipuji oleh sesamanya.

    Keadaan ini membuat mereka sangat rapuh ketika direndahkan oleh orang lain melalui gangguan indra (pribadi pengganggu). Timbulah sikap berlebihan yang sangat emosional saat menanggapinya padahal itu hanya masalah sepele.

  7. Kinerja menurun.

    Pesona popularitas memang sangat memukai hati. Banyak orang yang terlena karenanya. Itu seperti narkoba yang membuat mereka mabuk kepayang. Mungkin karena terlalu dihayati sehingga mereka menjadi lupa diri dan mulai kehilangan akal sehatnya. Tidak ada lagi latihan dan enggan untuk memperbaiki diri sebab menganggap diri sudah hebat. Padahal ini adalah cela yang menandakan kelemahan yang akhirnya membuat kinerja dan prestasinya menurun.

  8. Terlalu emosional menanggapi “kata orang” sehingga menyimpang.

    Ketika kita ingin sekali populer, itu artinya kita sangat butuh pengakuan dari orang lain. Padahal tidak baiklah hidup ini jika ujung-ujungnya hanya agar diakui oleh yang lainnya karena

    + Pengakuan orang sangat fana (sangat cepat berlalu),

    + Terlalu rapuh dengan “kata orang” sehingga mudah emosional saat diejek, dibully, difitnah dan dihina orang, Simak juga, Cara mengatasi fitnah yang tidak jelas

    + Pihak marketing/ pelaku penipuan dapat menjebak kita dengan mudah pada sesuatu yang merugikan dengan iming-iming popularitas,

    + Orang-orang tertentu bisa mengarahkan kita untuk melakukan kejahatan hanya untuk mendapat pengakuan.

  9. Popularitas itu boros.

    Sadarilah teman ketika kita sangat ingin terkenal maka semua sumber daya akan dikeluarkan seluruhnya untuk menggapainya. Semua pengeluaran yang dibutuhkan kadang tidak disadari sampai pada suatu titik kita menghitungnya lalu menyesal namun semuanya sudah terlambat.

  10. Popularitas itu tidak ada, puasnya terbatas.

    Hanya karena masuk televisi, radio, media cetak (koran dan majalah), media online lalu kita merasa sudah menjadi terkenal. Padahal itu hanyalah sesaat saja. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa apa yang dicitrakan oleh indra mata dan telinga sangat cepat berlalu, lebih cepat dari hembusan angin sepoi-sepoi. Lagi pula zaman sekarang setiap orang yang memiliki kamera, smartphone dan internet dapat melakukan semuanya itu sendiri. Jadi kepuasannya singkat sekali kawan. Lebih baik kita menjadi orang yang bermanfaat dengan melakukan kebaikan dan memperjuangan kebenaran disetiap detik yang dilalui niscaya kepuasannya lebih tahan lama.

  11. Mudah stres.

    Segala sesuatu yang membuat ketergantungan dan terlalu diinginkan akan membuat kita rentan stres. Terlebih lagi ketika itu tidak terwujud atau gagal di tengah jalan niscaya pasti stresnya semakin tinggi. Oleh karena itu dalam segala sesuatu bersikaplah biasa saja (jangan lebay). Kemudian marilah kita melakukan kebenaran yang memuaskan seumur hidup.

Alangkah baiknya, jika ingin populer bukanlah menjadi tujuan hidup setiap dari kita. Lebih baik memperjuangkan apa yang benar dalam segala aktivitas kemudian menjadi orang yang bermanfaat paling tidak bagi keluarga sendiri. Kembangkan diri, gali potensi agar kita bisa berinovasi, berkreasi dan berkolaborasi dalam bidang masing-masing.

Salam hidup damai!

Iklan

One comment

  1. […] Dunia telah dibius oleh pujian dan popularitas. Semua orang bergerak berdasarkan trend yang sedang hot dibicarakan di media sosial. Entah itu positif atau negatif, entah itu baik ataupun jahat, mereka digiring oleh pujian yang tidak ada didunia nyata melainkan hanya terdapat di dunia maya. Angka menjadi sangat krusial dan diminati oleh hampir semua penghuninya. Mulai dari angka like, share, plus, pin dan lain sebagainya yang berhubungan dengan popularitas seseorang. Selengkapnya, Menggila akibat ketenaran […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s