Benarkah “lebih baik mati daripada malu?” – Miliki kemaluan yang wajar, jangan berlebihan!

Benarkah lebih baik mati daripada malu

Hidup ini terus berkembang. Jika kita terus menatap masa lalu, pastilah akan terjatuh. Demikian juga ketika kita masih meyakini filosofi zaman dahulu alias mitos kuno niscaya kita tidak akan bergerak maju. Kita harus mengusahakan kedamaian karena dalam ketentraman kita dapat berinovasi, berkreasi dan berkolaborasi. Ketentraman itu bukan semata soal kemakmuran melainkan lebih dari apa yang dapat dilihat oleh mata yakni kedamaian hati.

Lebih penting ketentraman hati

Usaha untuk menciptakan kedamaian di luar diri sendiri sulit untuk terwujud. Dikarenakan setiap manusia berbeda, kelebihannya berbeda, pengetahuannya berbeda, pengertiannya berbeda dan kepentingannya berbeda pula. Sadarilah bahwa usaha ini membutuhkan sumber daya yang luar biasa bahkan sampai merusak alam sekitar kita. Keinginan untuk nyaman sendiri hanyalah sebuah angan-angan yang sesungguhnya mencirikan keegoisan dan membuat kepribadian orang-orang disana tidak akan pernah dewasa. Berbahagialah ketika seseorang menunjukkan kreativitasnya pada tempat yang tepat sebab itu adalah pertanda perkembangan kehidupan di lingkungan anda.

Hati-hati dengan keyakinan anda

Filosofi yang kita yakini di tengah masyarakat adalah cara diri ini untuk mencapai ketentraman hati. Apabila filosofi salah niscaya tindakanpun pada bersalahan semuanya, cepat atau lambat dampaknya tidak lagi membawa damai melainkan menciptakan kesombongan dan mendorong kebencian di hati ini maupun di hati orang lain. Oleh karena itu berhati-hati menganut sebuah paham.

Pengertian

Menurut saya pribadi malu adalah sebuah rasa yang manusiawi, muncul karena perbedaan antara apa yang diyakini (kita percayai) dan kenyataan yang terjadi. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan keyakinan anda sebab hal itu dapat membuat diri ini merasa malu karena tidak melakukannya dengan baik.

Penyebab

Malu pada hakekatnya adalah rasa yang berlebihan, timbul karena tidak punya pegangan hidup (standar kehidupan). Kita cenderung menjadikan budaya, suara orang lain, media termasuk internet sebagai standar sehingga kehidupan mudah terombang ambing. Berikut akan kita bahas mengapa seseorang merasa malu?

  1. Melanggar norma di masyarakat, yakni norma agama, hukum, adat, kesusilaan dan kesopanan. Ini sudah benar.
  2. Tidak memiliki dan tidak bertindak sesuai dengan prinsip hidup yang berdasarkan kepada standar kehidupan yang hakiki (Kitab Suci). Ini juga sudah benar.
  3. Khilaf dalam menanggapi dan melakukan sesuatu. Ini tidak sama dalam kesalahan melainkan lebih berkaitan kepada kebiasaan (budaya) dalam masyarakat.
  4. Terguncang secara berlebihan oleh mitos/ kepercayaan kuno yang tidak jelas. Ini tidak sepenuhnya baik.
  5. Goyah secara berlebihan oleh perkataan orang lain. Ini sebaiknya di hindari.
  6. Terlalu terobsesi oleh perkataan media, TV, radio, majalah dan media sosial internet. Apalagi ini juga harus dipertimbangkan baik-baik.
  7. Tidak berani di depan umum karena belum terbiasa. Takut ketika disuruh ke depan padahal tidak ada salahnya mencoba agar andapun terbiasa.

Menuntut perubahan

Rasa ini masih wajar sebatas yang kita lakukan memang jelas-jelas salah. Tidak tahu malu setelah melakukan kesalahan sangat berbahaya karena beresiko mendorong anda untuk menjadi penjahat (termasuk koruptor) kelas hiu di masa depan. Rasa ini ada bukan untuk di bawa sedih lalu di ratapi melainkan sebuah langkah awal agar kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Pada akhirnya kemaluan tanpa perubahan adalah sia-sia belaka.

Relatifitas kemaluan

Melakukan tindakan yang memalukan bersifat relatif. Tidak semua rasa malu disebabkan setelah melakukan kesalahan. Akan tetapi semua kesalahan akan mempermalukan diri ini. Oleh karena itu kita harus memiliki standar sendiri sebagai dasar acuan yang menyatakan tentang kapan saatnya kita malu dan kapan tidak. Jangan menghakimi diri sendiri tanpa dasar yang jelas. Pemahaman kita terhadap nilai-nilai kebenaran sangat dibutuhkan disini.

Pembagian berdasarkan asalnya

Menjadi malu adalah sebuah refleks otomatis. Berdasarkan asal muasalnya rasa ini dapat digolongkan dalam dua bagian, yakni.

  1. Muncul sendiri dari dalam hati setelah melakukan sesuatu yang kita anggap salah. Sejauh mana anda mengerti tentang kebenaran maka sejauh itulah rasa malu yang anda miliki. Jika seseorang memahami Kitab Suci dalam lingkup yang kecil niscaya kemaluannya kerdil sehingga tindakannya cenderung semberono terhadap orang lain. Akan tetapi jika setiap orang mampu mendalami isi Kita Suci niscaya rasa malu itu membuatnya mampu menahan diri untuk melakukan hal-hal yang jahat.
  2. Akibat perlakuan orang lain terhadap kita. Ini sangat tergantung dari rasa indra mengecap sebuah peristiwa. Jika kita berlebihan maka hal-hal kecil yang di ekspresikan oleh orang lain sangat memalukan diri ini.

Malu yang jelas-jelas aneh

Malu melakukan hal yang salah adalah wajar akan tetapi menganggap hal yang memalukan tindakan yang benar adalah sebuah kegagalan. Untuk menyatakan kebenaran anda harus benar bahkan harus punya nyali sebab tidak ada seorangpun yang dapat melarangnya. Akan tetapi satu yang kami pesankan adalah INGAT MOMENT YANG TEPAT saat melakukannya. Tidak perlu tergesa-gesa lalu biarkan orang tersebut memilih. Apapun keputusannya itu adalah pilihan pribadi. Tidak perlu memaksa sebab hanya hukumlah yang bersifat paksaan bagi manusia.

Satu lagi kemaluan yang aneh bagi kami adalah merasa malu saat disuruh untuk tampil di depan umum. Inipun tidak baik bagi kesehatan mental anda teman. Cobalah untuk mulai belajar berani tampil di depan umum. Mungkin pertama-tama ada rasa tremor/ gugup/ demam panggung, itu sudah biasa, kamipun dahulu mengalaminya. Akan tetapi terus berusaha mencoba suatu saat nanti andapun akan menjadi seorang yang lihat melakukannya. Satu hal yang kami ingatkan jika di depan umum adalah jaga pikiran tetap fokus dan berkonsentrasi pada satu hal. Konsentrasi yang buyar/ kacau adalah awal dari kejadian demam panggung.

Jangan kebablasan rasa

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, perasaan malu muncul akibat rasa bersalah yang merupakan awal perubahan. Artinya, apa yang harus diubah, ya diubahlah agar rasa itu tidak tetap “ngetam” dalam pikiran dan tidak kembali lagi kelak di masa depan. Rasa ini baik adanya selama ada batasannya (masih wajar) sebab sesuatu yang berlebihan juga tidak bagus untuk dipelihara.

Berlebihan menganggap orang lain dapat mempermalukan kita

Malu karena perbuatan orang lain adalah pertanda bahwa kita terkesan lebay. Menanggapi orang lain secara berlebihan membuat kita melupakan standar kehidupan ini. Sebenarnya rasa ini muncul karena kesalahan sendiri. Jadi ketika orang lain bersalah seharusnya dia sendirilah yang merasa malu. Kita tidak perlu terlalu memperhatikan suara dan tawa kecil yang garing ditelinga. Abaikan itu dan sadarilah bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf lalu berikan kesempatan kepada teman kita untuk memperbaiki dirinya.

Kemudian bagaimana pula ketika seseorang dengan sengaja mempermalukan diri ini. Maka yang terjadi disaat itu adalah “beradu percaya diri”. Setiap orang yang sudah merasa melakukan hal yang benar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Apabila kita berada dipsisi yang benar mengapa harus malu? Perlakuan orang lain itu dapat berupa fitnah, bully, ejekan, hinaan, celaan, kritik dan lain sebagainya.

Jangan merendahkan dengan berkata “lebih baik mati daripada malu

Mereka yang gede rasa (GR) akan mengekspresikan malu yang berlebihan. Karena hidup itu lebih penting dari rasa ini. Bahkan diluar sana ada orang yang berjuang untuk hidup dengan melakukan hal-hal yang menurut orang lain “memalukan”. Seperti berdagang keliling, pemulung, peminta-minta dan masih banyak lagi. Jadi, dapat dikatakan bahwa rasa ini sebenarnya tergantung dari standar yang sudah ditetapkan oleh pikiran sendiri.

Menghina pekerjaan seseorang berarti menghina Tuhannya

Jadi jangan menghina dan merendahkan orang lain dengan mengatakan bahwa “Lebih baik mati daripada malu!”. Karena setiap pekerjaan yang di lakukan sekecil apapun itu adalah ibadahnya kepada Tuhannya. Oleh sebab itu, jika anda menghina pekerjaannya berarti anda juga menghina tuhannya!

Salam perubahan!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s