Benarkah “Kata-kata lebih tajam daripada pedang?” – Kita kurang cerdas lalu melukai diri sendiri

Siapa-bilang-kata-kata-lebih-tajam-daripada-pedang

Keseharian kita tidak pernah lepas dari berkata-kata. Baik saat di rumah, sekolah, tempat kerja, mall, warung makan dan tempat-tempat berkumpul lainnya. Satu-satunya tempat dimana setiap orang dilarang bicara bahkan berbisikpun tidak yakni “di ruang ujian”. Tiada hidup tanpa kata bahkan bayi baru lahirpun mengeluarkan suara walau dalam bentuk tangisan. Adakah anda menyadari hal ini?

Lidah tidak terbatas

Lidah mampu dan bebas menjadi apa saja. Apabila tangan dan kaki memiliki keterbatasan dalam hal-hal tertentu atau setidaknya ada batas kekuatannya. Sedangkan mulut tidak terbatas, dari sana bisa keluar apa saja, bisa terucap berbagai-bagai hal, mulai dari yang buruk sampai yang baik, berkat maupun kutuk, rasa peduli dan benci, bahkan kosa kata baru dalam Bahasa Indonesia mulai bermunculan yang asalnya dari bahasa daerah masing-masing. Kekayaan khasanah lidah tidak terbatas. Satu-satunya yang dapat mengendalikannya adalah pikiran sendiri.

Silat lidah tanda kecerdikan, anda di arah mana?

Banyak orang yang senang dengan kata-kata yang keluar dari lidah, terutama kaum hawa. Seolah itu lebih indah daripada rasa yang lainnya. Ini memang baik jika sebatas ramah-tamah saja. Cerdiknya manusia itu dibawa dalam suasana yang humoris, ada pula yang menambahkan sajak untuk berpuisi, rasa cinta dari lubuk hati yang dalam tumpah dalam kata romantis yang menyentuh kalbu, kecerdasan yang menyatu dengan moment yang tepat menghasilkan kebijaksanaan yang membaharui kehidupan.

Ketika bibir sudah mengarah kepada keburukan

Tidak jarang juga kita temukan bahwa perkataan telah melukai banyak hati. Ada yang mengumbar sepatah – dua patah kata yang tidak bertanggungjawab. Kadang ada juga yang bermain-main, mengucap sesuatu untuk merendahkan dan melemahkan yang lainnya. Beberapa ada yang lupa diri, bertutur sapa tidak lagi menyenangkan karena kesombongan. Tidak jarang, ada yang terkesan berlebihan (lebay), perkataan dibuat-buat agar menarik perhatian lebih banyak orang. Itulah manusia, saking cerdiknya, perkataan diperhalus, dipoles bahkan digarami dan dicabein biar meninggalkan kesan yang lebih jelas (lukanya 😀 ).

Lebih penting ucapan atau tindakan yang benar

Sebenarnya apa yang diucapkan hanya sebatas kata saja, tidak lebih. Tetapi ada beberapa yang menganggap itu sebagai sesuatu yang lebih mahal nilainya dari semua rasa yang dapat dicitrakan oleh indra bahkan dari pada materi sekalipun. Mereka menganggap ucapan lebih berharga daripada uang padahal melupakan bahwa yang pantas diperjuangkan dalam hidup ini adalah kebenaran. Mungkin ada dari kita yang begitu merindukan pengakuan dan pujian dari orang lain. Kita begitu memperjuangkannya mati-matian bahkan sampai berkorban lebih deminya. Padahal itu adalah pekerjaan yang sia-sia saja. Baca juga, Nilai yang benar adalah penghiburan dan kekuatan kita

Jangan tergila-gila pada pengakuan dan pujian

Pujian dan pengakuan adalah kesenangan indra telinga. Seperti kata adek, “Anjing menggonggong kafilah berlalu, perkataan yang terucap lebih cepat berlalu ketimbang semilir angin sepoi-sepoi”. Kita terlalu memperhatikan apa yang ada diluar diri ini, malah tidak peduli dengan suara hati sendiri. Indra telinga terlalu di diekspose (berlebihan/ lebay) sejak kecil. Ini mendorong rasa di bagian itu menghasilkan sensasi yang berlebihan. Ketika tersentuh tidak cukup hanya menghasilkan kenikmatan melainkan kita juga dituntut untuk mencarinya lagi dan lagi alias ketergantungan. Inilah yang membuat beberapa orang lebih gemar dipuji-puja dan mencari pengakuan dari orang lain. Apesnya, ketika kita menghalalkan segala cara untuk memperoleh itu termasuk dengan cara keluar dari standar kehidupan sendiri (Kitab Suci). Baca juga, Dampak buruk dipuji orang lain

Kita kurang cerdas lalu melukai diri sendiri

Lihatlah bodohnya hewan : “Ketika anjing diusir dengan kata-kata keras maka ia akan pergi dari sana karena suara lantang yang mengganggunya, padahal mungkin saja ia berada di tempat yang tepat, hanya manusianya yang terlalu ilfil sehingga bersikap lebay”. Demikian juga ketika kita dihina, dibully, dicaci dan direndahkan orang dengan kata-kata kasar. Terlalu takut dengan itu mungkin karena belum pernah mendengarkannya dan terlalu memasukkannya dalam hati (dihafalkan dan diulang-ulang oleh pikiran) sendiri. Ini membuat kita sakit hati dan terluka lalu lari dari pahitnya kenyataan hidup. Kita terlalu bodoh karena memperhatikan perkataan orang lain lalu melukai hati sendiri.

Benarkah kata-kata lebih tajam daripada pedang?

Proses masuknya perkataan, baik ataupun buruk kedalam hati - pikiran sendiri

Jangan percaya dengan mitos kuno, perkataan tidak segitunya kali. Coba lihat bagan di atas, itu adalah proses bagaimana cara tubuh mencitrakan segala rangsang yang berasal dari luar termasuk perkataan orang lain. Anda bisa melihat bahwa 1 dari 4 tahapan tersebut terjadi di luar diri ini. Perkataan orang lain kadang lembut dan keras, baik dan buruk, menekan dan mengangkat diri ini. Pandai bersilat lidah membuatnya bisa jadi apa saja. Orang lain dapat menilai kita dengan caranya sendiri, terserah itu urusannya dan kepentingannya apa? Benar atau jahat. Tiga dari empat proses yang kita alami terjadi dalam diri sendiri setelah mendengar “kata orang”. Ini berarti bahwa setelah mendengar fitnah, hinaan, ejekan (bully) dari orang lain, sakit tidaknya hati ini sebagian besar tergantung dari diri sendiri.

Ada baiknya jikalau anda mulai mengubah mindset selama ini. Jika selama ini meyakini bahwa kata-kata kasar sangat mengganggu kehidupan orang lain maka sekarang anggaplah itu sebagai “suara tembak tanpa peluru“. Bukankan senapan tanpa anak peluru hanya dentuman saja yang membuat telinga pekak. Akan tetapi suara itu pada dasarnya tidak melukai dan tidak mendatangkan keburukan apapun bagi anda. Demikian jugalah halnya dengan berbagai-bagai kata-kata kasar orang lain kepada anda. Anggap saja itu sebagai angin lalu dimana anda hanya perlu membiasakan diri, tetap santai dan tenang juga selalu mengisi pikiran dengan hal-hal positif. Salah satu hal positif yang terbaik adalah dengan selalu memusatkan pikiran kepada Tuhan dalam doa-doa, firman dan puji-pujian bagi kemuliaan nama-Nya.

Bijaklah menjalani hidup

Kemampuan anda memahami hal ini tergantung dari kecerdasan otak sebab hidup ini pilihan sobat. Orang cerdas akan memegang prinsip hidup dan keyakinan sendiri sedangkan orang bodoh akan terombang ambing lalu menjadi tidak berarti (bermanfaat) bagi yang lainnya. Ini semua kembali lagi pada tingkat kedewasaan seseorang dalam mengambil keputusan. Apakah anda orang yang cukup cerdas untuk mengerti hal ini lalu memutuskan untuk tidak terpengaruh dengan hinaan, bully dan fitnah dari orang lain? Atau membiarkan diri sendiri terjebak dalam situasi sulit karena kondisi emosional yang tidak terkendali.

Miliki standar sebagai penyaring

Jangan biarkan kata-kata kotor/ negatif merasuki otakmu

Belajarlah dari perahu, seluas dan sedalam-dalamnya air sekelilingnya tidak lantas membuat itu masuk hingga ia tenggelam kedalam. Apabila semua yang ada di dunia ini kita masukkan dalam hati tanpa menyeleksinya terlebih dahulu niscaya kita akan tenggelam dalam keterpurukan abadi. Disana ada luka, rasa sakit dan kepahitan yang mendalam. Milikilah standar hidup (Kitab Suci) agar perkataan dan tingkah laku anda menjadi lebih baik dari hari ke hari. Simak juga, Kitab Suci sebagai standar kehidupan kita

Ingatlah

Tajamnya perkataan orang lain terlalu lemah untuk membunuh anda. Akan tetapi perkataan yang sesuai dengan tindakan yang salah lebih tajam dari pedang menusuk dari dalam. Sebab rasa bersalah-lah yang menyakiti hati ini. Cerdaslah menjalani hidup ini dan jangan melukai diri sendiri dengan melafalkan hal-hal yang negatif. Biarkan “kata orang” berlalu, belajarlah dari sana, ambil hikmahnya lalu buang keburukannya.

Salam santun!

Iklan

One comment

  1. […] Bila diuji secara fisik akibatnya berupa luka dan memar yang dapat sembuh tetapi apabila ujiannya secara mental artinya tidak teraba tapi sakitnya seperti menusuk-nusuk dada ini. Oleh karena itu banyak orang mengatakan “kata-kata lebih tajam dari pada pisau” Padahal ini adalah prinsip yang salah. Perkataan menjadi hampa rasanya ketika hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Ini seperti “suara tembak tanpa peluru“, yang terganggu hanya indra saja sedangkan diri sendiri (tubuhmu) sama sekali belum terluka. Seharusnya hanya rasa bersalah yang dapat membuat gelisah dan gundah gulana. Selengkapnya, Benarkah kata-kata lebih tajam daripada pedang? […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s