Apa yang terutama dalam hidup ini materi, harga diri, kehormatan, menang, manfaat, kebenaran – Tentukan pilihan hidup pada rasa yang paling penting

Hidup-adalah-pilihan-rasa-kebenaran-adakah-memimpinmu

Hidup ini hanya soal rasa. Peristiwa berbeda yang terjadi hari lepas hari menyentuh rasa dalam hati. Kemudian kita meresponnya dengan cara sendiri-sendiri. Ada yang menanggapi berlebihan namun ada pula yang menanggapi sama saja. Ada yang menyahut secara terang-terangan akan tetapi ada juga yang menyahut dengan cara santai. Semuanya terjadi karena pengertian, kesadaran (kepekaan) dan tingkat kejenuhan rasa dalam diri kita.

Lima indra merasakan hal yang berbeda yang ujungnya bahagia atau tidak

Kita memiliki lima indra dimana masing-masing mengkodekan rasa yang berbeda yang dapat memicu kebahagiaan. Seperti melihat pemandangan indah, mencium bau kesegaran yang menyejukkan, mengecap nikmatnya makanan, menikmati kehangatan yang membuat nyaman. Biasanya hal-hal yang membawa kenyamanan dari dua indra atau lebih akan membawa rasa senang yang lebih juga.

Rasa 5 detik tidak penting amat

Di dunia ini sesuatu yang memiliki citarasa yang tinggi akan dihargai lebih dengan sejumlah materi. Padahal kejadian itu hanya berlangsung selama 5 detik lalu berlalu begitu saja. Banyak yang tertipu karena rasa sesaat dan tidak berpikir “selanjutnya apa yang akan terjadi?”. Jangan sampai diri ini lebih mementingkan rasa dibandingkan dengan manfaatnya.

Santai bro…. perbedaannya dimulut saja

Apapun yang di nikmati saat ini, semoga berguna bagi keberlanjutan kehidupan kita. Misalnya ada yang makan nasi, yang lain sarapan dengan gandum, yang lainnya lagi mengkonsumsi roti. Otomatis ada perbedaan rasa diantara semua makanan ini. Tapi perbedaan itu hanya dimulut saja sedangkan manfaatnya sama-sama baik untuk tubuh. Sebaliknya pikiran kita meresponnya bagaimana? Tidak perlu berlebihan menanggapi segala sesuatu.

Hanya 5 detik sudah tinggi hati

Kita tidak perlu membawa apa yang terasa 5 detik di dalam mulut ke dalam pikiran bahkan menghidupinya dengan menganggap itu lebih baik daripada orang lain yang menggunakan sesuatu yang sederhana (lebih rendah nilainya). Atau lebih tepatnya, jangan sampai apa yang dimakan/ diminum kita banggakan/ sombongkan dari mereka yang mengkonsumsi yang lebih ringan harganya. Sebab pada hakekatnya semua makanan manfaatnya satu buat kesehatan fisik. Bahkan dapat saya katakan bahwa, bahan makanan yang mahal harganya jangan sering dikonsumsi karena beresiko memperburuk kesehatan. Misalnya daging.

Demikian juga dengan nikmat duniawi yang lain. Jangan merasa hebat sendiri dengan apa yang kita kenakan/ pakai/ gunakan/ miliki karena lebih tinggi nilainya dari beberapa orang yang disekitar kita. Sebab itu hanyalah masalah rasa 5 detik saja sedangkan yang selanjutnya kita peroleh adalah lebih kepada manfaatnya. Misalnya saja kita baru membeli smartphone mahal dan berkelas. Diri ini “merasa” senang tapi rasa itu tidak terus berlanjut. Paling-paling 5 hari atau net-netnya 5 minggu kemudian pasti sudah bosan. Sedangkan yang kita rasakan terus menerus adalah daya guna dari gadget tersebut.

Hidup bermanfaat bukan sekedar rasa

Jadi bagaimana sekarang. Apa yang lebih penting dalam hidup anda? Yang terasa lewat indra atau manfaat selanjutnya. Putuskan untuk memilih dan memprioritaskan apa yang utama (kegunaan). Sedangkan yang lainnya (rasanya) bersifat fleksibel. Jika dapat memperoleh yang mahal, silahkan; yang sederhana, silahkan; yang murahan juga silahkan. Menurut kesanggupan dan kenyamanan kantong anda karena yang lebih penting adalah manfaatnya harus dapat.

Apapun itu perolehlah sesuai kesanggupan, apa adanya

Begitulah juga dengan semua barang/ materi yang kita gunakan dalam hidup ini. Misalnya, bagaimana perbedaan rasa menggunakan baju mahal/ bermerek dengan pakaian kaki lima/ obral? Jangan fokus pada rasa indah saat mata memandang itu melainkan ketahui dengan jelas, apa manfaatnya bagi kehidupan. Apabila manfaatnya sudah dapat, berapapun harganya, bagaimanapun rupanya itu tidak penting lagi.  Milikilah segala sesuatu sesuai dengan kesanggupan, apa adanya.

Ingat untuk kembali kepada manfaat. Apabila kita melakukan sesuatu yang bermanfaat abaikanlah embel-embelnya seperti rasa mata memandang, lidah mengecap, telinga mendengar, hidung membaui, kulit meraba yang hanya berlangsung 5 detik saja. Tapi lihatlah kepada keberlanjutan manfaatnya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Tanpa ini hidup tidak berarti dan terasa hampa.

Antara manfaat dan kebenaran

Manfaat itu sangatlah luas. Dapat dinilai dari sisi yang berbeda sehingga kegunaannyapun berbeda-beda bahkan bertentang satu sama lain. Dapat dinilai dari sudut pandang orang pertama (pelaku/ subjek/ saya), orang kedua (objek/ dia) dan orang ketiga (mereka, general, masyarakat umum). Jadi harus kita ambil keputusan berdasarkan tanggungjawab yang telah dipercayakan. Misalnya kita yang bergerak dalam lingkup pribadi memilih bermanfaat untuk diri sendiri; yang bergerak dalam lingkup antara kedua belah pihak memilih berguna untuk pihak-pihak tertentu saja; yang bergerak dalam sekop masyarakat harus memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

Tahapan selanjutnya adalah “apa yang terutama, manfaat atau nilai benar”? Posisi kedua hal ini adalah nilai yang sangat important dan menjadi tolak ukur dari banyak tindak tanduk sehari-hari. Jika manfaat lebih penting ketimbang kebenaran niscaya sikap kita sehari-hari cenderung memanfaatkan situasi untuk kepentingan tertentu yang belum pasti kebenarannya. Sedangkan ketika kita lebih mendahulukan kebenaran-Nya kemudian mencari manfaat niscaya hati lebih tenang melakukannya dan hidup kita beruntung.

Nikmatnya materi dibandingkan dengan kebenaran

Keadaan ini erat kaitannya saat seseorang lebih merasa dihiburkan dengan materi ketimbang kebenaran. Saat kondisi ini berlangsung, uang akan mengambil kunci kendali kehidupan kita. Seolah kita menganggap bahwa materi adalah kunci kepada kebenaran. Prinsip ini akan membawa anda pada “mendewakan materi”. Ketika uang yang mengatur segalanya akan menjadi buruk. Hati nurani tidak lagi manusiawi. Kebersamaan akan terasa hampa sedangkan kelaliman merajalela.

Harga diri atau kebenaran-Nya

Demikian juga dalam hal nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Lebih bernilai harga diri atau kebenaran. Tidak ada perselisihan diantara kedua hal di atas. Akan tetapi penempatan yang salah akan membuat hidup ini berantakan. Lebih duluan mana, dihargai atau dibenarkan. Pendekatan yang lebih detail, yang mana yang lebih utama diantara keduanya.

Beberapa orang mengutamakan harga diri dalam kesehariaannya daripada kebenaran. Mereka begitu giat mengejar “bagaimana agar dihargai orang”! Bahkan saking geregetnya, menghalalkan segala cara (yang haram) untuk meraih penghargaan dari masyarakat. Nilai kebenaran tidak dihiraukan lagi. Bukan sekedar itu saja melainkan yang benar diinjak injak untuk mewujudkan tujuan sempitnya. Ada lagi yang berlaku mengkaburkan nilai itu lalu memaksakan nilai-nilai yang rancu dan menimbulkan kontroversial.

Lebih penting menang atau benar

Dalam cerita yang lain, ada pula orang yang mengutamakan kemenangan ketimbang kebenaran. Seolah menang itu segalanya. Seperti kemenangan adalah keharusan sedang kekalahan selalu ditolak. Padahal itu dicapai dengan cara-cara yang tidak benar. Menang adalah mutlak sedang cara mencapainya (proses) tidak dipedulikan lagi. Mereka berharap ujungnya indah sedangkan jalan-jalan yang mereka lalui penuh dengan kecurangan, ketidak adilan dan ketidak jujuran.

Lebih mendesak kehormatan atau apa yang benar

Kisah berikutnya adalah antara kebenaran dan kehormatan. Ini juga satu sisi kehidupan yang menarik perhatian banyak orang. Menginginkan lebih banyak penghormatan padahal tidak menghormati pihak manapun. Dalam istilah sehari-hari orang berkata “gila hormat”. Apabila kehormatan lebih menyenangkan hati ini dibandingkan dengan kebenaran niscaya hal itu digapai dengan kaidah-kaidah yang penuh dengan tipu muslihat dan persekongkolan jahat.

Bukan berarti…..

 

Yang terutama kebenaran yaitu bermanfaat bagi Tuhan dan sesama manusia 2

Dalam keseharian kita bukan berarti bahwa harus menganggap “sampah” semua tentang materi, harga diri, kehormatan dan kemenangan. Artinya, jikalau ada, ya dinikmati bukan malah disombongkan lalu cobalah untuk berbagi sedangkan “jikalau tidak ada” ya dimaklumi saja. Jangan sampai hati ini galau gara-gara rasa 5 detik yang belum kita peroleh. Sudah sewajarnya kita merasa cukup dan bersyukur atas segala karunianya. Sampai sekarang masih bernafas dengan lega itu sudah hebat. Padahal diluar sana masih ada orang yang tinggal dibangsal-bangsal rumah sakit yang bernafas dengan oksigen yang dibeli.

Ketika kita kurang dihormati dan tidak dihargai orang karena melakukan apa yang kita yakini benar : jangan bersusah hati. Ketika kita kalah (tidak menang) karena menggunakan kaidah-kaidah yang benar dalam pertandingan : jangan berkecil hati. Ketika kita kekurangan materi karena menggunakan cara-cara yang halal dalam bekerja : jangan bersedih terus. Melainkan bersyukurlah karena anda masih dimampukan untuk melakukan hal yang benar karena kebenaran itulah yang menghiburkan hati ini sekalipun kita berada di tengah tekanan kehidupan yang pelik.

Kejar dan lakukanlah kebenaran rasanya tak tertandingi

Kebenaran yang hakiki adalah saat kita mampu mendatangkan manfaat bagi kemuliaan nama Tuhan dan menjadi bermanfaat bagi sesama. Tahukah anda bahwa semua cerita tentang materi, harga diri dan kehormatan juga kemenangan datangnya dari luar diri ini? Hal-hal ini tidak dapat kita kendalikan karena semuanya tergantung bagaimana lingkungan sekitar menilai diri ini. Padahal kita sudah tahu dengan jelas bahwa kita tidak dapat memastikan semua penilaian orang itu baik pasti ada juga yang buruk diantaranya. Oleh karena itu, berusaha untuk tidak ketergantungan dengan hal-hal seperti itu. Semakin anda candu terhadap hal tersebut maka semakin mudah pula orang lain mempermainkan bahkan mengendalikan hidupmu.

Ada baiknya jikalau anda mulai mencari kebahagiaan hati dengan mendatangkan manfaat bagi kehidupan orang lain. Sebab mengasihi sesama dan berbuat baik kepada orang lain adalah panggilan jiwa manusia yang sebenarnya. Tuntutan semacam ini sudah ada dalam nafas kita sebab nafas kita adalah titisan Allah yang menciptakan bumi dan langit (pelajari lagi proses penciptaan bumi dan manusia). Mulailah bermanfaat bagi sesama diawali dari hal-hal kecil saja, misalnya dengan bersikap ramah kepada siapapun. Senyuman, sapaan dan salaman dengan orang yang kita kenal setiap kali bertemu. Bahkan bagi orang asingpun senyuman itu berarti kebaikan hati dimana anda senang dengan dirinya.

Kita dapat selalu memuliakan nama Tuhan dalam segala waktu yang dilalui. Ini adalah sebuah hasrat yang juga merupakan alasan utama “mengapa Tuhan menciptakan manusia?“. Memuji-muji Dia di segala waktu yang kita lalui baik lewat mulut, alat musik maupun dengan memutarkan lagu-lagu rohani. Jika anda sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada waktu luang untuk bernyanyi lewat mulut maka andapun dapat melakukannya di dalam hati sendiri. Jika pikiran senantiasa terpusat kepada Tuhan disegala waktu maka hal ini sekaligus akan membersihkan hati anda dari berbagai hawa nafsu yang sesat, kebinatangan dan sifat-sifat jahat lainnya. Kebiasaan ini akan membudaya sehingga menjadi candu terindah yang pernah ada.

Mulai menentukan pilihan hati pada proses

Kita harus membuat pilihan dalam hidup ini. Pilihan yang tepat untuk kebaikan bersama sekarang maupun di masa depan. Jangan hanya menilai satu sisi saja melainkan seluruhnya ditempuh dengan cara-cara yang benar. Sebab itu kita harus berorientasi pada proses bukan hanya pada hasil. Proses yang ditempuh dengan penuh perjuangan, kerja keras, latihan, tekun dan displin akan memberikan hasil yang lebih memuaskan dan melegakan hati sekalipun yang didapat kadang kurang baik/ tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Jika kebenaran adalah prioritas utama dalam hidup maka hari-hari akan diisi untuk memuliakan nama Tuhan dan mendatangkan manfaat bagi sesama manusia. Saat usaha sudah maksimal untuk meraihnya, tidak ada kata menyesal sekalipun hasil yang kita dapatkan tidak baik namun belajarlah pasrah kepada-Nya. Mengucap syukur jadi lebih mudah karena kita dipuaskan oleh kebenaran itu sendiri. Sebab hidup ini hanyalah masalah rasa. Menurut perasaanmu mana yang paling penting? Apa yang paling berharga? Apa yang paling dibutuhkan? Ini sangat subjektif dan bersifat individualistik. Tentukan pilihan hatimu kawan!

Salam untuk hidup yang lebih baik!

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s