11 Cara membasmi hama tanaman dengan memanfaatkan makhluk hidup lainnya (predator) dalam lingkaran rantai makanan – Hati-hati melakukan perburuan liar

Cara membasmi hama tanaman dengan memanfaatkan predator pemangsa dalam rantai makanan

Jangan membunuh serangga di sekitar dengan sembarangan sebab semua makhluk hidup menduduku rantai makanan yang menciptakan keseimbangan di alam ini. Kita jangan egois, harus mau berbagi makanan dan tempat dengan makhluk hidup lainnya. Apabila kita dominan dan mau menang sendiri niscaya binatang-binatang pengganggu, yang berbisa sekaligus menjijikkan akan bermunculan di sekitar rumah anda.

Manusia dalam lingkaran rantai makanan

Manusia terikat dalam rantai makanan di sekitarnya. Sebagai yang terkuat dan cerdas, kita berada dipuncak rantai makanan namun mahkluk hidup yang terdapat dibawah kita begitu banyak bahkan lebih banyak dari jumlah manusia itu sendiri. Sekalipun manusia omnivora (pemakan daging dan tumbuhan), sayang kita bukanlah tipe makhluk pemakan segalanya. Sebab ada suatu rasa dalam diri ini yang menjahkan kita dari semua itu yakni “jijik” dan “jorok” juga kadang “beracun”. Mustahil bisa memakan semua serangga dan tumbuhan. Oleh karena itu jangan membunuh sembarangan, hewan dan serangga yang ada disekitar kita berperang untuk menekan jumlah binatang menjijikkan dan beracun itu.

Sadarilah teman bahwa dengan membunuh dan memunahkan salah satu spesies hewan maka spesies dibawahnya cenderung tidak terkendali jumlahnya. Situasi ini berpotensi menyebabkan wabah yang merugikan manusia dan lingkungan. Hewan yang terlalu banyak jumlahnya memiliki potensi bergerak ke daerah pertanian (yang kaya dengan makanan) sehingga menjadi hama yang dapat mengurangi hasil panen.

Keuntungan pemberdayaan musuh alami dalam memberantas hama tanaman

Pemanfaatan musuh alami sebagai predator untuk membasmi hama tanaman sangat menguntungkan karena alasan sebagai berikut :

  1. Selektivitas tinggi dan tidak menimbulkan hama baru,
  2. Organisme yang digunakan sudah tersedia di alam,
  3. Organisme yang digunakan dapat mencari dan menemukan inangnya,
  4. Dapat berkembang biak dan menyebar
  5. Hama tidak menjad resisten atau jika terjadi sangat lambat,
  6. Pengendalian dengan sendirinya  (Sumber : Van Emden 1976 dalam Lubis 2005).
  7. Lebih murah dari segi biaya.
  8. Tidak berbahaya bagi kesehatan manusia
  9. Menekan kehilangan dan kerugian hasil akibat organisme pengganggu tanaman (OPT)
  10. Produk tanaman yang dihasilkan berkualitas, sehat, dan aman dikonsumsi.

Predator hama disekitar anda

Dalam rantai makanan yang perlu anda ketahui adalah bukan dalam arti serangga hama pembuat onar itu hilang sama sekali. Melainkan sistem memakan dan dimakan ini menciptakan keseimbangan. Sehingga hama yang seharusnya merusak menjadi tidak berbahaya lagi sebab hewan-hewan saling memakan dan dimakan satu sama lain. Jangan berharap sistem ini akan membasmi si perusak sama sekali melainkan mengendalikan jumlahnya agar tidak berelebihan. Berikut ini beberapa predator alami dari hama tanaman :

  1. Segala jenis burung (burung hantu, gereja, pipit dan yang lainnya) adalah musuh alami bagi serangga. Sedangkan predator untuk menekan jumlah burung adalah burung elang.
  2. Kelelawar adalah predator serangga.
  3. Kodok/ katak adalah musuh alami dari nyamuk (baik larva maupun dewasa), lintah dan hama kecil diperairan lainnya.
  4. Tikus musuh alaminya burung hantu dan ular. Keberadaan hewan juga turut mengendalikan serangga lainnya sehingga tetap bermanfaat jika jumlahnya terkendali. Sebab tikus adalah sipenyuka serangga juga (omnivora).
  5. Burung elang memangsa burung-burung kecil lainnya.
  6. Kumbang Kubah. Larva kumbang ini lebih rakus memakan 5-10 mangsa (telur, nimpa, larfa, dewasa) wereng batang padi daripada yanng dewasa.
  7. Kumbang Tanah. kumbang dewasa memangsa wereng batang.
  8. Jangkerik. Jengkerik dewasa dan nimfa merupakan predator telur tetapi juga memakan larfa kecil dan wereng, juga memangsa telur penggerek batang bergaris, penggerek batang kepala gelap, pengggulung daun, ulat gerayak, lalat daun, nimfa werwng batang dan wereng daun.
  9. Laba-laba loncat. Laba-laba jenis ini memangsa wereng daun dan serangga lainnya.

  10. Laba-Laba mata tajam. Satu laba-laba dapat membunuh 2-3 ngengat tiap harinya, sehingga mereka dapat mencegah meningkatnya populasi generasi baru serangga hama.
  11. Tabuan. Pemangsa kelompok telur wereng batang dan wereng daun, setiap larva memangsa 4-8 telur tiap harinya.
  12. dan lain sebagainya.

Resiko jangka panjang dari pestisida

Pemakaian pestisida dan herbisida dalam pertanian menyebabkan bencana jangka panjang. Kedua zat ini adalah racun yang mematikan kehidupan binatang-binatang kecil, bahkan racun tersebut dapat menumpuk di dalam tubuh manusia dan lama kelamaan menimbulkan penyakit termasuk kanker.

Kepunahan satu jenis binatang akan memutus mata rantai kehidupan dalam rantai makanan sehingga menyebabkan makhluk hidup yang ada di bawahnya mejadi tak terkendali dan merajalela merusak pertanian penduduk bahkan jumlahnya bisa meledak meledak.

Beberapa manusia serakah dan terkesan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan hasil bumi. Apalagi jika subjek ditawar dengan harga tinggi dipasar gelap. Pemakaian barang-barang berbahaya demi kesenangan sesaat yang berpotensi merusak lingkungan hidup seperti senapan angin, jala nilon dan lain-lain untuk membunuh berbagai jenis burung, ular, kelelawar dan predator lainnya sehingga lama kelamaan akan mengganggu keseimbangan  lingkungan.

Alam diciptakan seimbang tidak ada yang lebih dan kurang semua berada pada tempatnya masing-masing. Sayang beberapa dari kita lebih dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan akan uang lalu merusak keseimbangan itu. Setelah hama serangga meledak dan menyerang kawasan pertanian barulah semuanya sadar bahwa ada akibat jangka panjang dibalik perburuan yang gencar di lakukan selama ini. Oleh karena itu sebelum bencana ini terjadi alangkah lebih baik bila tindakan perburuan dilarang sejak dini.

Undang-undang yang mengatur tentang perburuan satwa liar

Bangsa Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa tanah air yang kaya dengan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, antara lain satwa yang beraneka ragam jenisnya. Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya bahwa usaha membunuh hewan terutama hewan besar (predator) dapat menyebabkan kepunahan yang berpotensi mengacaukan rantai makanan sehingga binatang dibawahnya menjadi tidak terkendali jumlahnya. Situasi ini berpotensi merebaknya hama pertanian.

Untuk melestarikan kekayaan alam yang berupa satwa liar tersebut, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya menetapkan antara lain bahwa pemanfaatan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk perburuan, dan pelaksanaannya perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan dengan mengindahkan tujuan yang telah ditetapkan dalam Undang-undang tersebut.

Mengingat hal yang demikian, maka dipandang perlu adanya pengaturan kembali masalah perburuan yang berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia yang menjamin pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan sebagai pengganti dan penyempurnaan dari Jachtverordening Java and Madura 1940 (Stbl 1940 Nomor 247) dan jachtverordening Java and Madura 1941 (Stbl 1941 Nomor 57).

Maksud dan tujuan dari pada Peraturan Pemerintah tentang Perburuan Satwa Buru ini ialah agar pemburuan satwa buru dapat diatur sedemikian rupa sehingga satwa buru serta lingkungan hidupnya jangan sampai punah dan dengan demikian secara lestari dapat memberi manfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Sebagian peraturannya berbunyi demikian

Pengertian pemburu termasuk di dalamnya pemburu manca negara. Sesuai dengan kepentingannya maka pemburu dibagi dalam tiga kelompok yaitu pemburu untuk :

  • Berolahraga (sport hunter);
  • Memperoleh tropy/tanda kemenangan (throphy hunter);
  • Memanfaatkan hasil buruan baik hidup atau mati antara lain untuk memperoleh daging (meat hunter), hasil dari satwa buru, atau bagian-bagian dari satwa buru.

Petugas yang mendapat perintah dari pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan berburu tidak termasuk dalam pengertian pemburu.

Angka 4

Satwa liar tertentu adalah satwa liar dengan jenis dan jumlah yang dapat diburu pada setiap musim buru.

Angka 8

Areal buru dapat berupa hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan produksi yang dapat di konversi, tanah negara lainnya, dan tanah milik.

Angka 9

Waktu tertentu adalah waktu di luar waktu satwa buru sedang musim kawin, hamil/bertelur, menyusui anak/membesarkan anak.

Angka 10

Kemampuan dan ketrampilan berburu satwa buru meliputi antara lain teknis berburu, pengetahuan tentang satwa buru, alat berburu, dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perburuan satwa buru.

Ayat (2)

Menteri dapat menetapkan satwa yang dilindungi sebagai satwa buru dalam rangka pengendalian hama, pembinaan populasi, pembinaan habitat, penelitian dan pengembangan serta rekayasa genetik, dan memperoleh bibit penangkaran dan pemanfaatan hasil penangkaran.

Ayat (3)

Huruf a

Yang dimaksud dengan burung termasuk jenis-jenis unggas yang masih mempunyai sifat liar.

Pasal 4

Ayat (1)

Dalam rangka mengetahui keadaan populasi dan laju pertumbuhan populasi satwa, dilakukan inventarisasi mengenai jenis, jumlah, jenis kelamin, musim kawin, beranak/bertelur, dan umur satwa. Yang dimaksud dengan jumlah satwa buru adalah jumlah dan jenis satwa yang boleh diburu.

Pasal 8

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan peledakan populasi adalah melimpahnya satwa liar secara mendadak sehingga jumlahnya melebihi daya dukung habitat. Tindakan untuk pengendalian satwa liar yang menjadi hama tersebut harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem. Satwa liar dinyatakan sebagai hama apabila gangguan dari satwa liar tersebut secara ekonomis telah sangat merugikan bagi pertanian. Dalam hal terjadi peledakan populasi satwa liar yang dilindungi sehingga menjadi hama, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah tersendiri.

Pasal 9

Huruf c

Yang dimaksud dengan alat berburu tradisional adalah alat yang biasa dipergunakan pemburu tradisional antara lain : jerat, perangkap, jaring, tombak, panah, dan sumpit.

Huruf d

Alat berburu lainnya meliputi antara lain panah mekanik, senjata bius, dan alat untuk mengambil sarang burung.

Ayat (2)

Bagi pemburu yang menggunakan peralatan tradisional dengan hasil buruan untuk diperdagangkan tidak diwajibkan memiliki akta buru, tetapi tetap harus memiliki surat ijin berburu, dan membayar pungutan izin berburu.

Pasal 14

Kriteria pemburu tradisional meliputi antara lain berdomisili dalam wilayah kecamatan sekitar tempat berburu, hasil buruan digunakan untuk keperluan adat, dan untuk pemenuhan keperluan hidup sehari-hari, dengan menggunakan alat berburu tradisional.

Pasal 15

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan identitas ialah meliputi : nama, umum, jenis kelamin dan tempat tinggal. Pencantuman sanksi dalam akta dikutip dari peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Huruf b

Terhadap hasil buruan yang akan dibawa oleh pemburu harus dilakukan sertifikasi oleh petugas yang ditunjuk.

Huruf d

Pengertian memanfaatkan hasil buruan yang diperoleh adalah memberi perlakuan yang layak terhadap hasil buruan yaitu dengan tidak :

  1. Meninggalkan hasil buruan sehingga menimbulkan akibat yang dapat mencemari lingkungan.
  2. Membuang bangkai atau bagian-bagian lain dari hasil buruannya ke tempat yang dapat mencemari lingkungan.

Pasal 19

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan bagian-bagiannya antara lain tanduk, kulit, bulu, taring dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud hasil dari satwa buru antara lain sarang, telur.

Teman-teman sekalian tidak perlulah berburu sebab banyak peraturan terkait yang mengatur hal tersebut lagipula perburuan yang tidak terkendali dapat merusak keseimbangan lingkungan hingga pada akhirnya merugikan diri sendiri cepat atau lambat.

Referensi dari berbagai sumber

  • forum.detik.com
  • agrobisnisinfo.com
  • google.com
  • dan masih banyak lagi
Iklan

3 comments

  1. […] Pengendalian serangga pengganggu (hama) dengan memanfaatkan musuh alaminya tidak memusnahkan/ memunahkan hama itu sampai nol. Melainkan hanya menekan jumlah pengganggu sehingga tidak menimbulkan kerugian yang luas bagi kehidupan. Simak juga, Cara membasmi hama dengan memanfaatkan predator […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s