7 Budaya Yang Melahirkan Koruptor – Korupsi karena trend yang salah di masyarakat

BUDAYA korupsi uang tidak dapat membeli segalanya

Budaya – Sebelumnya kita telah membahas mental manusia yang dapat mendorong seseorang untuk menjadi koruptor pendatang baru. Sekarang mari kita membahas masalah korupsi dengan memandang pada trend yang berkembang disekitar kita. Masyarakat yang menganut pemahaman-pemahaman sempit tentang kehidupan cenderung akan melahirkan koruptor-koruptor baru.

Baca juga, A. Mental koruptor yang harus anda hindari

Peran pemimpin sangat vital untuk menekan dan meminimalisir budaya ini bahkan bila perlu menghilangkannya sama sekali dengan cara menjadi model yang ideal bagi orang-orang disekitarnya. Seorang pemimpin itu tidak harus besar, mulailah dari pemimpin dalam keluarga. Jika dalam skala kecil, keluarga saja kebiasaan ini sudah mulai dikikis niscaya Indonesia akan menjadi lebih baik 5 – 10 tahun kedepan.

B. Korupsi murni terjadi karena budaya yang salah di masyarakat

Saat ini marilah kita bersama-sama melihat dalam sekop yang paling luas yakni masyarakat. Sadar atau tidak, kebiasaan masyarakat telah mendorong dan mengubah beberapa orang untuk rame-rame menjadi koruptor. Kebiasaan ini harus diubah dan budaya baru harus diciptakan bersama. Perilaku mencuri sebenarnya hanya terjadi pada orang yang melarat (mengalami kesulitan ekonomi). Akan tetapi akhir-akhir ini kebiasaan korupsi menjadi tidak manusiawi karena terjadi diantara kalangan orang ternama, sejahtera, pejabat dan yang jadi panutan di masyarakat. Berikut ini beberapa budaya yang beresiko membuat sikap korup tumbuh subur dimasyarakat.

1. Budaya instan

Coba bahas dan telisik satu per satu setiap trend yang berkembang disekitar anda. Katakan saja seperti budaya instan. Pemahaman ini menelurkan sebuah trend yakni “cepat kaya itu biasa”.  Sadar atau tidak, pemahaman yang seperti ini membuat beberapa orang tidak segan apalagi malu jikalau ia memiliki harta secepat kilat. Dalam hitungan bulan seseorang menjadi orang kaya baru padahal dia bukan seorang pengusaha dan tidak memiliki sumber yang jelas yang memberinya tumpukan uang, melainkan hanya seorang pegawai negeri sipil.

Setiap orang harusnya risih jika melihat hal tersebut bukan malah membangga-banggakannya atau menganggap ia hebat. Masyarakat harus peka dan melihat ini sebagai sebuah ketidak wajaran. Sikap orang banyak yang menunjukkan keraguan terhadap seseorang, secara tidak langsung menekan orang-orang yang mengekspresikan hal-hal yang tidak sepantasnya itu sehingga mereka dan orang lain tidak melakukannya lagi.

Namun sepertinya, masyarakat kita mudah dilunakkan hatinya. Beberapa koruptor justru membagi-bagikan hasil korupsinya kepada masyarakat. Bodohnya masyarkat juga mau menerimanya tanpa rasa bersalah. Coba masyarakat mau menolaknya secara serentak karena asal usul dana tersebut yang tidak jelas. Pastilah orang-orang seperti ini akan kapok.

2. Budaya yang mencitrakan mewahnya kesombongan

Sikap sombong secara tidak langsung membuat orang lain untuk iri hati lalu melakukan hal yang sama. Orang yang memamerkan kepunyaaanya dan yang mengikutinya juga sama-sama besalah. Oleh sebab itu alangkah lebih baik jika seorang pemimpin tidak suka pamer karena pengaruhnya akan berimbas kemasyarakat luas.

Di daerah kami sendiri, budaya sombong sangat kental karena warisan budaya diturunkan dari tetua adat yang sekaligus bertindak sebagai raja zaman dahulu. Ini dicirikan oleh kekayaan mereka dipuja karena banyaknya harta benda yang dimiliki. Pujian akan kemakmuran sang pemimpin dilantunkan dalam lagu-lagu kebudayaan sehingga turut memotivasi, mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta kekayaan.

Jika semua orang ingin hidup mewah padahal ia sendiri tidak mampu niscaya ia cenderung akan melakukan hal-hal yang menyimpang untuk mewujudkannya salah satunya adalah korupsi.  Ada baiknnya sikap-sikap pamer seperti ini dibatas-batasi artinya kita seharunya tidak selalu tampil wak karena kita bukan artis. Lebih baik bersikap sederhana saja agar orang lain yang melihatpun tidak merasa risih.

3. Budaya gengsi

Kalau sudah gengsi yang menguasai kehidupan seseorang niscaya ia akan menghalalkan berbagai macam cara untuk mewujudkan keinginannya. Hilangkan gengsi dalam diri anda lalu cobalah berpikir lebih maju dan berkembang. Seperti….

  • Cobalah untuk tidak bergantung dengan apa yang dapat dilihat melainkan APA ISINYA.
  • Cobalah untuk tidak fokus lalu melihat hal-hal yang sementara/ sesaat saja melainkan apa yang dibutuhkan seumur hidup.

Pernikahan seharusnya sebagai sesuatu yang sakral. Namun banyak orang lebih memandang pesta pernikahan yang hanya satu dua hari dilaksanakan dan mengabaikan kehidupan keluarga yang baru dibentuk. Akibatnya beberapa dari kita tergiur untuk melaksanakan pernikahan yang dibesar-besarkan. Padahal mereka mengabaikan satu pertanyaan “apakah keluarga yang baru dibentuk itu bahagia kedepannya dengan semua gemerlapan yang hanya 1, 2 hari saja?”

Baca juga, Bahaya Mahar Tinggi dalam Pernikahan

4. Budaya kampanye mahal

Bukan rahasia lagi bahwa kampanye pemilihan presiden, gubernur, walikota, dan bupati di negeri ini mahal biayanya. Beberapa calon pemimpin kita tidak tidak mampu berpikir panjang dan menalar dengan jernih situasi yang dihadapi. Mereka sangat tergiur menempati suatu jabatan di negeri ini sebab sistemnya masih belum sempurna. Masih ada beberapa celah (black hole) dalam aturan perundang-undangan yang berlaku dimana  memungkinkan para pejabat untuk meraup untung sebesar-besarnya dengan menghalalkan segala cara.

Mereka yang sudah mengetahui kelemahan/ keburukan birokrasi ramai-ramai ingin jadi anggota legislatif (DPR, DPD, DPRD) agar dapat melakukan korupsi sehingga menjadi kaya raya tujuh turunan. Orang yang tujuannya sudah tidak baik cenderung melakukan praktek kotor untuk memenuhi hawa nafsunya termasuk dengan cara korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Rela menggelontorkan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk menjadi pejabat. Yang sial akan menjadi gila karena kegagalan menyisakan utang dimana-mana. Sedangkan yang beruntung akan menjadikan jabatannya sebagai mesin penghasil uang (ATM) yang tidak bermoral. Kampanye sebagai ajang bagi-bagi harta warisan entah berantah yang pada akhirnya nanti puluhan, ratusan bahkan ribuan kali merugikan rakyat.

Sadarilah teman, hari ini anda menerima Rp. 50.000,- besok-besok wakil rakyat seperti ini ribuan bahkan jutaan kali merugikan kita lewat kinerja yang buruk dan praktek korup yang merajalela. Oleh karena itu siapapun bakal calon pemimpin yang menyogok anda dengan rupiah, ingatlah untuk tidak memilih orang tersebut sebab ketika ia menjabat kelak kerusakan yang disebabkan olehnya ribuan bahkan jutaan kali dari nilai yang Rp. 50.000,-

Budaya kampanye mahal sebaiknya ditiadakan dari ajang demokrasi di Indonesia sebab mana ada orang yang mau rugi besar. Niscaya, jika diberi kepercayaan akan balas dendam dengan melakukan korupsi dimanapun ia ditempatkan.

5. Sistem multi partai

Multi partai di Indonesia adalah pemborosan luar biasa. Selain boros dari segi anggaran, cara politik seperti ini juga sulit untuk dikendalikan/ dikontrol semuanya. Budaya seperti ini cenderung menambah panjang daftar praktek korupsi yang tidak dapat diungkapkan ke publik (tak terdeteksi). Oleh karena itu pemerintah dan legislatif harus menemukan cara cerdas untuk melangsingkan (meminimalisir) jumlah partai yang berhak mengikuti Pemilu.

6. Sistem yang tertutup

Banyak organisasi yang memiliki sistem keuangan yang tertutup, artinya mereka lebih suka membahas data keuangan secara intern. Padahal keadaan semacam ini sangat mendukung berkembangnya kongkalingkong yang tidak sehat antara orang-orang yang terlibat. Alangkah lebih baik jikalau sistem keuangan dalam suatu organisasi termasuk pemerintahan bersifat open goverment. Dimana semua pihak dan kalananga mengetahui kejelasan data keuangan sehingga praktek kongkalingkong/ persekongkolan jahat tidak dimungkinkan lagi sebab semua sudah dipublikasikan dengan lantang dan terang benderang.

7. Budaya yang mengindikasikan bahwa uang adalah segalanya

Uang telah menjadi alasan utama mengapa seseorang bisa menempati posisi tertentu. Jikalau budaya pengangkatan pejabat yang seperti ini diteruskan maka kedepannyapun orang-orang yang diangkat dengan cara ini berpotensi melakukan praktek korupsi. Mustahil seseorang berani memberikan mahar yang tinggi jikalau ia tidak bisa mengutil/ mencuri lebih dari itu. Jikalau kertas ini sangat diagung-agungkan niscaya uangpun akan dicari sebesar-besarnya sehingga menghalalkan segala carapun tidak masalah.

Sesungguhnya masih banyak lagi budaya masyarakat yang cenderung melegalkan sikap korup. Kiranya tiga hal ini dapat mewakilinya. Apabila kita ingin negeri ini menjadi lebih maju, alangkah baiknya jika kita mulai mengikis potensi-potensi negatif dimasyarakat yang cenderung melahirkan dan memelihara kebiasaan-kebiasaan buruk dalam masyarakat.

Salam manusia yang berbudaya!

Iklan

2 comments

  1. […] Dosa dapat dinilai dari dua sisi, yakni secara kualitas dan secara kuantitas. Kesalahan kita diperhitungkan bukan dari besarnya dosa itu melainkan juga dipertimbangan dari berapa orang yang dirugikan atas pelanggaran itu. Ini menunjukkan bahwa pelanggaran korupsi adalah dosa yang paling besar karena telah merugikan seluruh warga masyarakat yang berjumlah yang tidak sedikit. Jadi bagaimanakah anda dapat memohon ampun kepada ratusan ribu, jutaan bahkan ratusan juta orang? Bukankah ini yang akan menggelisahkan anda seumur hidup. Simak juga, Kebiasaan di masyarakat yang mendorong timbulnya perilaku korupsi. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s