13 Dampak Buruk Jujuran/ mahar yang Tinggi dalam pernikahan dari generasi ke generasi Hingga merusak tatanan sosial dalam kehidupan bermasyarakat

Bahaya jujuran (mahar) yang tinggi bagi kehidupan keluarga yang baru dibentuk

Jujuran – Pernikahan adalah moment sekali seumur hidup yang dinanti-nantikan oleh pasangan muda-mudi yang baru. Saat sepasang kekasih sudah memutuskan untuk sehidup semati dalam cinta sejati bahtera rumah tangga maka komitmen untuk menikah segera diwujudkan diatas pelaminan. Menemukan lawan jenis yang cocok bukanlah perkara yang mudah. Kepatusan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan adalah keputusan yang besar dimana kedua belah pihak siap menerima resiko satu sama lain.

Menikah adalah sebuah itikad baik yang harus di apresiasi oleh keluarga sebab diluar sana masih banyak pasangan sejoli yang terus berpacaran tidak jelas tanpa tahu kemana ujungnya. Tentu saja ini adalah salah satu dambaan dan tujuan orang tua bagi anaknya yang sudah dewasa dan bisa menafkahi diri sendiri (mandiri). Sudah sepatutnya, ini menjadi moment sukacita yang besar dalam bagi orang tua. Namun apakah layak bagi orang tua mengorbankan masa depan anaknya hanya untuk jujuran pernikahan?

Namanya juga keluarga. Kalau mau bahagia, marilah bahagia bersama. Jangan yang satu diinjak lalu diperah kuat-kuat hanya demi sesuatu yang sifatnya sesaat seperti kehormatan adat istiadat. Tanpa disadari, ini penyiksaan ibu…. Bukan dia lagi kalau kita berfoya-foya diatas penderitaan orang lain. Dimana hati nuranimu!

Lagipula menikahkan anak perempuan bukan berarti kehilangan dia selamanya. Anak selalu ada kok, Tinggal telepon aja…. Dia bisa menemani ibu dan ayah, Minta suaminya untuk melakukannya…. Dia bisa membantu toh, Suaminya pasti rela berkorban untuk sang mertua.

Lah…. Kalau mereka masih dililit utang, bagaimana mereka bisa bergotongroyong memikul kesusahan mertua… ? Jika mereka sibuk kerja terus buat mencukupi pengeluaran pesta kemarin, bagaimana mereka bisa punya waktu membantu…. ? Apabila mereka stres mikirin masalah finansial terus, bagaimana mungkin mereka menyumbangkan ide untuk kemajuan bersama… ?

Orang tua sebaiknya tulus merawat anak bukan hewan peliharaan untuk dijual kelak

Kasih orang tua seharusnya tulus kepada anak-anaknya. Bukan malah menghitung kerugiaannya saat anaknya perempuan ingin membangun bahtera rumah tangga dengan orang lain. Bukankah ada pepatah mengatakan “kasih ibu sepangjang hayat, kasih anak sepanjang galah”. Artinya, ibu mengasihi semua anaknya dengan tulus seumur hidup, orang tua tidak pernah melupakan anak-anaknya walau hanya sedetikpun.

Jangan jadi orang tua yang hobi berdagang

Kasih orang tua kepada anak-anaknya luar biasa panjang dan lebarnya (tidak terukur). Jika orang tua berpikir untuk memperoleh untung yang sebesar-besarnya saat anak perempuannya menikah berarti ia bertindak sebagai pedagang. Dalam istilah kerennya adalah perdagangan manusia (human trafficking). Seolah orang tua menjual anaknya untuk selamanya kepada seorang laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya.

Kebaikan yang upahnya sudah kita peroleh niscaya tidak terbayarkan lagi di surga

Terus, bukankah kasih yang kita lakukan upahnya sudah diterima jika menghendaki balasan dari semuanya itu. Jadi kasih dan pengorbanan yang ibu lakukan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun terhadap anak perempuannya, sudah diperhitungkan semua upahnya dalam jujuran saat menikah. Artinya upah yang besar yang seharusnya diterima orang tua disorga yang kekal sudah dikonversikan dalam bentuk kertas rupiah yang sia-sia. Apa ini yang diinginkan oleh ibu mertua?

Jaman sekarang budaya yang baik itu dinamis dan menyesuaikan dengan kebutuhan bukan ego manusia

Sudah saatnya kita meninggalkan pikiran primitif. Budaya dan adat istiadat dalam masyarakat harusnya bersifat fleksibel menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan orang-orang didalamnya. Dahulu, jujuran tinggi hanyalah bentuk kesombongan pemuka adat sekaligus sebagai simbol persaingan antar klan. Jaman dulu, jujuran adalah bentuk kebesaran yang menggambarkan kehebatan dan pengaruh seseorang didalam masyarakat. Sekarang, masakan budaya kolot seperti ini terus dipertahankan ditengah masyarakat yang sangat beragam dengan pemikiran modern.

Sudah saatnya budaya yang berlandaskan pada pikiran sempit yang penuh ego dan kesombongan ditinggalkan oleh generasi kita. Kebiasaan yang tidak cocok untuk mempersatukan dan malah beresiko mendorong terciptanya kelas sosial dalam masyarakat. Kalau dulu, ini memang berguna karena mempengaruhi posisi yang bersangkutan secara hukum. Sedang, jaman sekarang apapun status sosial anda, kedudukan tetap sama dimata hukum.

Jangan membuang budaya melainkan budaya yang tidak sesuai di museumkan

Membuang sama sekali “budaya menikah dengan mahar tinggi” ini juga tidak baik. Alangkah lebih baik jika hal ini dimuseumkan dan menjadi peninggalan sejarah untuk generasi berikutnya. Ini sebagai saksi sejarah yang menyiratkan bahwa kebiasaan sombong hanya akan mendatangkan bencana bagi orang-orang didalamnya. Berikut ini dampak buruk mahar yang tinggi dalam pernikahan yang secara pelan-pelan telah menggerogoti tatanan sosial dalam masyarakat.

Akibat jujuran tinggi yang berpotensi menimbulkan kebiasaan buruk dari generasi ke generasi

Kebiasaan buruk tidak perlu dipelihara teman. Jika satu kebiasaan buruk dipelihara niscaya kebiasaan jelek yang lainnya turut ikut bersama dengannya, cepat atau lambat, sadar atau tidak sadar.  Berikut ini pengaruh negatif budaya dengan mahar yang tinggi bagi kehidupan bermasyarakat.

  1. Beresiko lebih tinggi menimbulkan persoalan kelak.

    Hanya karena gengsi keluarga baru sudah didera oleh masalah. Mahar yang mahal otomatis membebani perekonomian keluarga yang hendak dibentuk kelak. Padahal, percaya atau tidak keluarga yang baru dibentuk itu sangat rentan masalah karena masih butuh penyesuaian diri antara orang-orang yang berkaitan didalamnya (terdekat). Resiko terjadinya konflik kelak akan lebih besar oleh hal ini.

  2. Menganggap rendah istri.

    Suami bisa saja merendahkan istrinya katanya “saya sudah membayar mahar lunas ke orang tuamu. Sekarang lakukan apa yang saya perintahkan!”. Sikap semena-mena ini bisa saja di lampiaskan oleh seorang suami karan memang dia telah membayar lunas untuk membeli istrinya.

  3. Mertua tidak dihargai lagi.

    Ada kecenderungan suami kurang menghargai mertuanya karena mungkin sedikit palak (sebal karena dendam) dengan sikap mertua saat pesta pernikahannya berlangsung. Atau bisa saja ia menganggap telah membeli istrinya dengan harga penuh dari sang mertua.

  4. Kesalahan terbesar : kesombongan.

    Sadar atau tidak mengumbar jujuran/ biaya pernikahan telah memancing rasa sombong terhadap orang-orang yang terlibat didalamnya.

  5. Menciptakan kelas sosial.

    Patut diketahui bahwa kebiasaan ini mendorong terciptanya kelas sosial yang tidak bermanfaat dalam masyarakat modern. Kelas sosial hanya bermanfaat untuk orang marketing yang manas-manasin orang yang merasa berada di kelas atas untuk membeli barang dagangannya.

  6. Menimbulkan penghargaan yang salah di masyarakat.

    Ada suatu gejolak dimasyarakat untuk lebih menghargai orang-orang yang menerapkan budaya ini. Seolah mereka yang terhebat. Padahal siapa yang sangka bahwa uang yang mereka miliki diperoleh dengan cara yang tidak halal.

  7. Mendorong seseorang menghalalkan segala cara.

    Meninggikan/ memuji orang-orang ini akan mendorong orang lain untuk meniru apa yang dilakukannya. Secara tidak langsung, mereka yang memamerkan tingginya mahar dalam pernikahan keluarganya telah mengundang orang lain untuk menginginkannya sekalipun dengan jalan yang tidak halal/ sesat hingga mereka utang sana-sini bahkan kepada lintah darat sekalipun.

  8. Mengedukasi pemuda untuk bersikap matre.

    Menganggap hebat mereka yang suka menghambur-hamburkan uangnya dalam sekejap mata akan menciptakan pola pikir materialistis dalam diri generasi muda.

  9. Uang adalah segalanya.

    Budaya matre akan terbentuk dalam masyarakat tanpa disadari oleh banyak orang. Sehingga dalam bekerjapun seseorang hanya mementingkan uang sampai-sampai menghalalkan berbagai macam cara untuk memperolehnya sebanyak-banyaknya termasuk korupsi.

    Ingin tahu, Kepribadian koruptor di Indonesia

  10. Membentuk lingkaran kejahatan paling kompleks matre-sombong-iri.

    Materialistis berjalan beriringan dengan kesombongan duniawi. Ingatlah bahwa dimana ada kesombongan disitu ada iri hati. Tiga hal ini bertalian dan berpotensi menimbulkan kekacauan (konflik internal maupun eksternal) cepat atau lambat.

    Selengkapnya, Dimana ada kesombongan disitu ada iri hati.

  11. Foya-foya yang tidak berfaedah.

    Coba bayangkan, uang yang dikumpulkan selama belasan tahun dengan susah payah dibuang dan dihambur-hamburkan dalam dua, tiga hari saja. Dimana logika anda? Apa tidak ada hal yang lebih berfaedah untuk dibeli dan diusakan dengan uang itu?

  12. Cinta sejati hilang.

    Ke empat kebiasaan buruk ini, materialistis, kesombongan, iri hati dan foya-foya menyentuh seluruh lini kehidupan bermasyarakat dimana akibatnya segala sesuatu dihubung-hubungkan dengan uang dimana tidak adalagi yang namanya kasih sejati yang benar-benar tulus.

  13. Memiskinkan masyarakat.

    Bahaya jujuran/ mahar yang terlalu mahal syarat dengan foya-foya dalam pernikahan akan menyebabkan kemiskinan dalam masyarakat (Berdasarkan tesis saudara Postinus Gulo) dan budaya korup-pun menjadi tumbuh lebih subur diantara kalangan aparat pemerintah/ swasta.

Alasan yang dilontarkan oleh mereka yang mendukung mahalnya mahar dalam pernikahan

Orang yang menganggap baik untuk mendukung jujuran pernikahan tinggi memiliki banyak alibi agar budaya ini di legalkan oleh semua kalangan. Beberapa argument yang memilih untuk mempertahankan tingginya mahar dalam setiap pernikahan. Berikut penjelasannya.

  1. Dengan mahar yang tinggi, seseorang akan lebih menghargai pernikahan dan berpikir dua kali bahkan tidak akan pernah melakukan perceraian kelak.

Kenyataannya : apakah semua orang yang menikah dengan biaya tinggi itu tidak pernah bercerai? Lihat artis-artis di TV itu, nikahnya mahal-mahal tapi cerainya cepat.

  1. Dengan jujuran yang melambung tinggi, seseorang akan berpikir dua kali untuk melakukan seks bebas.

Kenyataan : Didaerah anda apakah pemudanya tidak ada yang kawin lari, hamil diluar nikah, bunting dimasa sekolahan dan yang lainnya?

  1. Dengan jujuran mahar yang selangit, orang-orang akan lebih menghargai budayanya.

Kenyataannya : Apakah ditempat anda tidak ada orang yang menikah dicatatan sipil?

  1. Jika anda tidak melakukan adat yang berlaku dimasyarakat berarti anda tidak menghargai leluhur yang membuatnya.

Sanggahan : Teman…. Jaman sekarang udah gak pantas untuk mengungkit-ngungkit mereka yang sudah diam di alam kubur. Biarlah yang mati tetap tenang di sana dan sekarang kita lebih baik percaya dan menghargai Yang di Atas saja yang kelak akan memantaskan kita untuk menghuni sorga yang kekal.

Norma yang berlaku di masyarakat

Norma yang seharusnya dipertahankan dan diabaikan dalam masyarakat

Ayo kawan mari kita feedback ke belakang, apa saja kebiasaan yang harus dipelihara oleh setiap manusia di bumi ini. Semua norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat secara tidak langsung menekan, mempengaruhi dan mengubah kehidupan manusia didalamnya. Baik norma agama, norma hukum, kesusilaan, kesopanan dan adat istiadat.

Diantara ke semua norma yang berlaku tersebut ada satu standar yang kita sepakati bersama, yaitu Kitab Suci yang di berikan langsung oleh Yang Maha Kuasa untuk mendamaikan dan mensejahterakan kehidupan umat manusia. Kitab suci inilah yang dijadikan sebagai nilai standar untuk norma-norma yang lainnya. Apabila ada norma yang berlaku dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan isi Kitab Suci maka sudah seharusnya norma tersebut disesuaikan agar tidak menimbulkan kekacauan yang sifatnya masif maupun secara langsung dalam bermasyarakat salah satunya adalah budaya jujuran yang tinggi dalam pernikahan.

Demikian saja teman. Somoga tulisan ini membawa pencerahan bagi kita semua.

Salam Indonesia yang lebih baik!

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s