Cara Sukses di perantauan ala orang Tionghoa

Cara sukses ala orang Tionghoa

Sukses – Setiap dari kita adalah perantau di bumi ini. Jangan berpikir kita bakal selamanya ada disini sebab dunia yang ada sekarang ini hanyalah sebagian dari kehidupan untuk menguji kemanusiaan kita, “apakah kita layak memasuki tempat terindah itu kelak?”. Jadi kuatlah teman dan bersabar dalam segala sesuatu karena hidup ini bergiliran, jadi tidak perlu buru-buru, ikuti saja antriannya.

Mungkin perlu dijelaskan dulu arti kata Singkek. Singkek sebenarnya berarti ‘tamu yang baru datang’, dari kata Sin (baru) dan Kek (tamu); biasanya disematkan kepada pendatang Tionghoa yang baru turun dari kapal. Meskipun kemudian kata Singkek terdengar seperti pelecehan, dan ditujukan kepada Tionghoa yang miskin, tapi sebenarnya tak ada yang negatif pada istilah Singkek.

Karena baru datang, tentu saja kondisi Singkek pada serba miskin dan merana; tapi membawa semangat pantang mundur bahwa setelah mereka menghabiskan hartanya untuk bayar ongkos kapal, meninggalkan keluarga tercinta di kampung dan sekian lama terombang-ambing di laut – maka mereka kudu sukses di tempat baru. Sukses adalah harga mati, harus dicapai bagaimana pun caranya.

Cara sukses di tanah orang ala orang Tionghoa

Orang Tionghoa di Indonesia, dapat dikatakan seluruhnya adalah keturunan, generasi ke tiga, ke empat bahkan ke lima dari para Singkek. Meskipun generasi yang sekarang hidup di Indonesia ini sudah berpendidikan, sudah tidak miskin, mereka lahir dan besar dan tua di Indonesia bahkan tak bisa lagi bicara dialek moyangnya; ada sesuatu sifat (traits) yang dibawa terus, Mentalitas dan attitude yang dibentuk dari pengasuhan dan pengalaman leluhurnya. Untuk memudahkan, seterusnya saya sebut sebagai ‘Mentalitas Singkek’. Banyak sekali aspek Mentalitas Singkek ini, tapi supaya tidak bertele-tele, mari fokus kepada tiga nilai yang paling menonjol :

1. Orang Sendiri, Setan Sendiri (Ziji Ren, Ziji Gui)

Dalam bahasa Mandarin disebut ‘Ziji Ren’, orang Teochew menyebut ‘Kati Nang’. Orang Hokkien bilang ‘Kati Lang’, orang Hakka bilang ‘Chika Ngin’. Datang dari jauh, berjuang di tempat asing, harus ingat orang sekampung mesti saling membantu, mesti saling mendahulukan. Antara sesama orang sendiri harus percaya, harus dibantu, harus didukung.

Cobalah sedang negosiasi bisnis, menawar barang dagangan, melamar cewek ke ortunya. Kepada yang masih ngerti dialek, coba bicara kata sakti ini; mau kepada orang di Cina mau di Tiongkok, Singapura, Malaysia. Ziji Ren. Kati Nang. Chika Ngin. Minimal disikapi dengan ramah, senyum lebar dan tepukan bahu, andai pun permintaannya ditolak.

Kata Ziji Ren ini acapkali diikuti Ziji Gui. Orang sendiri, setan sendiri. Kati Nang, Kati Kui. Chika Ngin, Chika Kui. Artinya perbuatan salah orang sendiri, sebaiknya dimaklumi, ditolerir, dimaafkan; karena ini setan kita sendiri. Mendingan setan tapi orang kita sendiri daripada malaikat tapi orang lain; apalagi setan orang lain!

2. Dulu Miskin makanya Obsesi terhadap Kekayaan

Buat Singkek yang berawal dari kemiskinan, tidak heran apabila terobsesi untuk kaya dan sukses. Para totok menyembah Fu Lu Shou, yang terdiri atas 3 dewa : Keberuntungan (Fu), Kekayaan (Lu), dan Umur Panjang (Shou). Dari ketiganya yang paling utama tentu saja Cai Sen (dewa harta). Cai Lu (jalan kekayaan) dipercaya yang akan membawa ke aspek lainnya : kebahagiaan, kesejahteraan, umur panjang, kekaguman orang, penghormatan dan seterusnya. Banyak sekali ritual yang dikonotasikan ke Cai Lu. Lagu-lagu banyak yang berisi Cai Sen Tau (dewa harta datang), hari rayanya bagi-bagi duit angpau, kuamia dan ngoheng pekji-nya dibaca bisa kaya atau tidak.

3. Guanxi

Guanxi atau Network adalah sesuatu yang sudah populer sebagai Chinese Culture terutama di kalangan Chinese diaspora.

Guanxi berasal dari ajaran Confucius, yang mengajarkan penghormatan tinggi kepada keluarga dan hierarki dalam masyarakat; sehingga guanxi dikembangkan mulai dari hubungan keluarga, hubungan darah, hubungan asal-usul, hubungan kelompok. Bentuknya seperti cortex, dimana lingkaran guanxi bisa sangat luas tapi di intinya tetap adalah keluarga dan kesamaan asal-usul.

Singkek dan turunannya pada dasarnya bersikap merendah dan tidak menonjolkan diri; tapi ada saatnya apabila merasa sukses, sangat ingin pamer. Ada ungkapan yang terkenal dari Raja zaman dulu ‘pakai baju bagus, apa gunanya kalau di tempat gelap’? Maka kalau ada yang dibanggakan, kudu dipamerkan, disiarkan, gendang ditabuh, petasan diledakkan. Sikap seperti itu cepat menular, apabila ramai-ramai.

Menjadi Euforia

Euforia tanpa rasionalitas, mengasumsikan semua harus ikutan. Kalau tidak ikut, bukan ziji ren. Kalau tidak sepakat, bukan lagi orang sendiri. Yang mbalelo atau punya pikiran sendiri, divonis jadi orang luar.

Sejarah mencatat, turunan Singkek di Indonesia beberapa kali mengalami euforia

Ekses dari larangan perdagangan eceren bagi orang asing dipedesaan (PP10/1959), menimbulkan euforia ‘HuiGuo’ pulang ke kampung halaman nenek moyang yang belum pernah dilihatnya. Begitu gegap gempitanya euforia ‘HuiGuo’ itu, sampai ada yang tidak mau huiguo dicap tak patriot dan dianggap khianat terhadap tanah leluhur.

Pada saat pelaksanaan UU Dwikewarganegaraan 1961-1962, pemerintah memberikan kesempatan untuk memilih WNI secara gratis bahkan biaya materaipun dibebaskan, saat itu para Singkek euforia ramai-ramai menanggalkan kewarganegaraan Indonesia dan memilih menjadi kewarganegaraan RRC. Mereka yang menyatakan melepaskan kewarganegaraan RRC untuk tetap menjadi warga Negara Republik Indonesia ada yang dilecehkan, dianggap telah melakukan pilihan yang bodoh/salah.

Setelah itu pada tahun 1960an, dengan mesranya hubungan Pemerintahan Soekarno dengan Tiongkok Mao Zedong; sejumlah tokoh Tionghoa yang berkiblat kepada Komunis Mao mendapatkan tiket ekspres berpolitik. Begitu kuatnya Baperki saat itu menekan kelompok yang tidak sependapat. Sedemikian euforia sampai lebih suka para tokoh Baperki ini tanpa rem lagi memamerkan kedekatan dan mengidolakan Tiongkok dan Mao; dari tutur kata pro Tiongkok sampai meniru cara berpakaian Mao ketimbang budaya dari tanah air dimana mereka tinggal.

Tiga kali euforia itu menorehkan akibat yang sungguh pahit. Para turunan Singkek yang euforia ‘Hui Guo’ akhirnya hidup pahit di bawah rezim Komunis. Banyak dari mereka mati kelaparan atau hidup sangat miskin di Tiongkok, sebagian berhasil kabur ke Hongkong dan menjalani hidup yang lebih baik dari nol, dan sebagian lagi masuk kembali ke Indonesia sebagai imigran gelap.

Pelajaran bagi kita zaman sekarang

Rahasia suksesnya orang Tionghoa memang tidak mulus jalannya teman. Perjuangan, kerja keras, ketekunan, pengorbanan dan bahu membahu dalam kebersamaan adalah kuncinya. Jika kita hanya tampil vokal zaman sekarang mustahil bisa sukses. Oleh karena itu marilah bersama-sama membangun negeri ini tanpa ada satupun yang harus dikorbankan.

Salam sukses bersama!

referensi : forum.detik.com

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s